Penghapus Kenangan

businessman-336621_1280

Oktober, 2015
“Kau yakin akan melakukan ini?” tanya Jesse. Aku mengangguk. Setelah sebulan lamanya mengontak dan membujuk lelaki bermata biru itu untuk meminjamkan mesin temuannya kepadaku, aku tidak akan mundur lagi.

Jesse mengangguk mengerti. Dia telah mendengar ceritaku, dan aku pikir, dia memahaminya. Setidaknya dia juga pernah merasakan hal yang sama.

“Baiklah, ini milikmu,” kata Jesse sambil menyerahkan kepingan CD berwarna hitam. “Kau tinggal memasukkan ini ke dalam kotak itu. Tekan tombol ON, ketika lampu sudah menyala kuning, tekan ERASE. Oke?” kata Jesse memastikan. Aku mengangguk lagi. Aku sudah hafal instruksinya. Jesse kerap mengingatkanku.

“Setelahnya kau akan merasa pusing sedikit. Tapi itu seharga dengan apa yang akan kau dapatkan. Segera panggil aku kalau kau sudah selesai, dan jangan lupa, pakai headsetnya. Itu sudah diatur untuk menyambungkan dirimu dengan file di dalam CD,” kata Jesse lagi.

Kuakui dia memang sedikit cerewet. Mungkin karena dia merasa bertanggung jawab dengan apa yang akan aku lakukan. Meski tentu saja, aku tidak akan menuntut apa-apa dari Jesse kalau usaha ini gagal.

Jesse menepuk pundakku dan meninggalkanku sendirian di sebuah kamar. Aku mendekati kotak yang tadi ditunjuk Jesse. Sekilas, bentuknya tak beda dengan CD player biasa. Namun ini bukan sekadar CD player.

Aku memasukkan keping CD milikku. Memasang headset lalu menekan tombol ON. Lampu kuning menyala. Dengan gerakan pasti, aku menekan tombol ERASE.

Agustus, 2015
Aku sedang berjalan menuju supermarket saat melihat sekelebat sosok keluar dari toko jahit. Meski dari jauh, aku masih hafal milik siapa gaya berjalan seperti itu. Aku berjalan cepat-cepat ke arahnya, menemukan kalau dia juga berjalan ke arahku. Aku tak terlalu yakin apakah dia melihatku, tapi aku bertekad untuk tidak melewatkannya begitu saja.

“Reina!” sapaku saat kami akhirnya berpapasan. Dia tersenyum. Senyum yang sama seperti yang pernah kulihat sepuluh tahun yang lalu.

“Hady!” sahutnya dengan nada riang. Membuatku, mau tak mau, ikut tersenyum pula.

“Apa kabar? Kamu nggak liputan?” tanyaku heran, karena setahuku, dia selalu pulang malam.

Reina tersenyum lagi, kali ini lebih lebar, “Aku udah resign jadi jurnalis tahu. Sekarang udah nggak bakal kelayapan kayak dulu lagi,” ujarnya sumringah.

“Lalu apa kegiatanmu sekarang?” tanyaku penasaran. Sudah lama aku berhenti menanyakan kabar gadis itu. Terakhir kali kudengar, dia bekerja sebagai jurnalis di salah satu harian nasional.

“Ini untukmu saja ya,” katanya setengah berbisik. Hatiku langsung berdebar saat dia berkata seperti itu. Terlebih saat dia mencondongkan tubuhnya ke arahku. Bahkan tanpa melihat, aku bisa merasakan kalau dia berkata sambil tersenyum, “Aku akan menikah.”

Aku tersentak. Aku merasa ingin meninju wajahku sendiri. Oh, kenapa kau tidak pernah berhenti berharap, Hady. Jelas-jelas sejak dulu Reina tak pernah punya hati padamu.

“Wow! Selamat! Aku senang mendengarnya,” ujarku dengan nada bahagia yang dibuat-buat. Aku bukan aktor, jadi aku yakin Reina bisa menangkap keterpaksaan di kalimat yang kuucap barusan.

Setidaknya, Reina tetap tersenyum lebar. “Tadi aku baru ukur badan untuk baju pengantin yang aku pesan. Nanti, kalau desain undanganku sudah selesai, aku akan antar ke rumahmu.”

Aku mengangguk. Mengusahakan satu lagi senyuman yang lebih mirip seperti ringisan. Reina menepuk bahuku, “Oke, aku duluan ya!” serunya, lalu melangkah dengan riang gembira meninggalkanku.

Aku masih berdiri di tempat tadi aku berhenti. Belum bergerak sama sekali. Aku melihat Reina berjalan dengan ringannya. Aku mengingat gaya berjalannya saat di SMA dulu. Ia selalu berjalan dengan tangan yang bergerak-gerak, tak bisa diam. Sampai sekarang pun masih begitu.

KRAK!

Aku melihat aspal di bawah kakiku retak. Diikuti dengan retakan-retakan lain di trotoar, di dinding-dinding ruko sekitarku. Tiang listrik yang berdiri di ujung jalan tiba-tiba limbung. Semuanya yang berdiri hancur dan setiap permukan retak.

Aku memperhatikan sekeliling dan baru kusadari satu persatu orang yang berlalu-lalang menghilang. Yang pertama kusadari adalah Reina. Gadis itu menghilang begitu saja, padahal aku yakin dia belum berjalan jauh tadi.

Ada apa ini? aku bertanya dalam hati. Anehnya, meskipun semua benda-benda hancur, tidak ada sedikitpun yang melukaiku.

Januari, 2015
Aku sedang berjalan-jalan di toko buku, mencari buku tentang administrasi perkantoran. Aku belum menemukan buku yang kucari, tapi aku menemukan seseorang yang sudah lama aku nanti. Reina.

Gadis itu melangkah ke toko buku dengan wajah berbinar. Aku seperti melihat wajahnya saat menemuiku di perpustakaan dulu. Dia melangkah dengan pasti, menyusuri rak-rak novel. Aku memperhatikannya dari jauh, sambil mengira-ngira sebaiknya dari sebelah mana aku menghampirinya.

Baru saja aku hendak melangkah, kudapati seorang laki-laki telah berdiri di samping Reina. Siapa dia? Mengapa tiba-tiba dia ada di situ? Aku tidak melihat kedatangannya. Mungkin dia sudah lama berdiri di situ dan aku tidak menyadarinya karena terlalu fokus dengan Reina. Mungkin.

Aku melihat mereka berbicara dengan akrabnya. Kadang-kadang diselingi tawa dan senyum yang ceria. Aku berusaha menemukan alasan untuk kedekatan yang aku lihat. Mungkin dia teman lama Reina. Mungkin dia kakak sepupunya. Mungkin mereka hanya teman akrab. Mungkin, mungkin, dan mungkin. Semua mungkin, asal jangan mungkin mereka sepasang kekasih dan mungkin mereka saling jatuh cinta dan mencintai.

Aku lama menatap kedua orang itu, sampai tiba-tiba aku mendengar dentuman keras. Langit-langit toko buku roboh. Disusul dengan rak-rak buku yang tiba-tiba terbelah-belah, memuntahkan buku-buku yang telah disusun rapi. Kaca jendela pecah. Dinding-dinding roboh. Anehnya, tak ada satu pun orang yang berteriak ketakutan. Semuanya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku mencari Reina, tapi dia sudah tidak ada. Begitupun dengan lelaki yang tadi berdiri di sampingnya. Aku melihat sekeliling. Satu-persatu pengunjung toko buku menghilang. Hilang tanpa jejak dan hanya menyisakan aku. Bangunan toko buku sudah hancur lebur. Anehnya, aku tidak merasakan apa-apa.

Juli, 2013
Aku hendak membeli nasi goreng di warung tenda, saat kulihat Reina berjalan pulang dengan langkah gontai. Tampaknya dia baru saja selesai liputan. Wajahnya sembab, rambutnya yang sebahu dikuncir asal-asalan. Tas ranselnya hanya dicangklong sebelah.

“Reina!” panggilku. Dia menoleh dan tersenyum tipis ke arahku. Aku melambaikan tangan, memintanya masuk ke dalam tenda.

“Kusut banget sih! Baru kelar liputan ya?” tegurku. Reina hanya mengangguk pelan. “Nggak buru-buru kan? Aku pesenin nasi goreng juga ya? Pasti kamu belum makan,” kataku.

“Kamu bisa aja nebaknya,” sahut Reina. Aku tertawa. Aku juga memesankan teh manis hangat untuknya.

Ada banyak hal yang ingin kutanyakan pada Reina. Kabarnya, kehidupannya, pekerjaannya, mungkin kisah cintanya juga. Sudah lama aku tidak mendengar kabar tentang Reina. Meski rumah kami masih dalam satu kecamatan, aku jarang bertemu dengannya. Terakhir kali yang kutahu, Reina kini bekerja sebagaia jurnalis di sebuah harian nasional.

“Kamu selalu pulang malam seperti ini?” tanyaku akhirnya.
Reina menggeleng, “Tidak juga. Kadang-kadang saja. Lagipula, akhir-akhir ini aku suka mampir ke taman.”

“Taman? Taman kota maksudmu?” tanyaku memastikan. Dia mengangguk. “Untuk apa?” lanjutku.

“Untuk menenangkan pikiran,” jawab Reina enteng. Aku tidak tahu pasti apa yang dimaksud Reina denga menenangkan pikiran, tapi aku mengangguk saja sok paham.

Hening. Aku dan Reina terjebak dalam diam yang canggung, hingga akhirnya Reina bersuara lagi, “Bagaimana kabar Adel?” Pertanyaan yang sesungguhnya tidak ingin aku dengar.

“Baik-baik saja sepertinya, aku jarang berbicara dengannya,” jawabku seadanya. Aku memang jarang mengontak Adel selama ini. Enam bulan terakhir ini lebih parah, aku tidak bicara padanya sama sekali, dan dia juga seperti hilang ditelan bumi.

Kali ini Reina yang mengangguk. Lalu pesanan nasi goreng kami datang. Dengan sopan, ia pamit meninggalkanku terlebih dahulu. Aku masih duduk di warung tenda. Menyesap teh manis yang kupesankan untuk Reina, tapi tak ia sentuh sama sekali.

BRUKK!

Tiang-tiang penyangga warung tenda roboh. Meja dan kursi terbelah lalu hancur berkeping. Gerobak nasi goreng terguling, kacanya pecah berantakan, menghamburkan nasi dan sayur-mayur.

Gelas yang kupegang lenyap tak berbekas. Begitu juga dengan sendok, garpu, serta peralatan makan lain yang ada di meja. Aku ketakutan. Aku berlari keluar. Aku mencari Reina tapi dia lenyap bagai ditelan bumi, begitu juga dengan semua yang ada di sekitarku.

September, 2012
Aku menghampiri Reina yang tampak cantik dan anggun dengan toga wisudanya. Ia tersenyum senang saat aku mengulurkan sebuket bunga dan sekotak hadiah untuk kelulusannya. Ya, hari ini Reina telah resmi menyandang gelar sarjana.

“Hady! Terima kasih udah dateng ke wisuda aku. Repot-repot bawa bunga segala,” ujar Reina.

Aku tersenyum lebar, “Nggak repot kok Rei. Selamat ya, semoga sukses,” kataku sambil menyalami Reina. Reina membalas jabatan tanganku erat. Bukan hanya itu, dia juga memelukku di depan teman-teman jurusannya. Seandainya wajahku bisa bersemu merah, pastilah wajahku sekarang lebih merah dari kulit kepiting rebus.

“Makasih banyak Hady! Kamu salah satu orang yang membantuku sampai sejauh ini,” kata Reina lagi. Aku hanya menatapnya sambil tersenyum penuh bangga. Aku tahu, walau bagaimanapun, aku memiliki tempat yang istimewa di hati Reina.

Reina membalas senyumanku. Kemudian buket bunga yang dipegangnya lenyap. Gedung kampus yang berdiri tegak di belakangku roboh hingga ke tanah. Anehnya, para wisudawan masih bercengkrama seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka sibuk berfoto, tertawa, dan berbahagia bersama.

Aku melihat ke bawah, jalan yang kupijak terbelah. Retakannya muncul satu persatu lalu dalam satu waktu, semuanya terbelah. Aku meraih tangan Reina, hendak menyelamatkannya dari segala kekacauan ini. Kulihat Reina masih tersenyum lebar, tapi tangannya tak bisa kuraih. Dalam sekejap, dia menghilang seperti orang-orang lain di sekelilingku.

Juni, 2008
Aku melihat Reina berdiri bersama teman-teman perempuannya. Dia tampak berbeda dengan kebaya dan riasan wajah. Terlihat lebih dewasa, lebih cantik, tapi tidak terlalu mirip dengan Reina yang kukenal.

Aku ingin menghampirinya. Aku ingin mengatakan padanya kalau aku tidak keberatan menjadi Hakim-nya sekali lagi. Aku bahkan tidak peduli kalau di mata Reina, selamanya aku adalah Hakim-nya yang telah pergi. Aku hanya ingin bersama Reina. Aku hanya ingin terus dekat dengan Reina.

Sayangnya Reina tidak menginginkan hal yang sama. Dia sudah sadar bahwa aku bukan Hakim, dan tidak akan pernah menjadi Hakim. Aku hanyalah Hakim yang palsu. Sekadar penghibur ketika duka tak tertanggungkan lagi.

Aku melihat Reina melihatku. Aku menyadari Reina menyadari kehadiranku. Tapi ia sama sekali tak beranjak dari kumpulan kawan-kawannya. Ia tetap berdiri di sana, membiarkan aku menatapnya dari kejauhan. Ia tetap berdiri di sana, membiarkan aku menantinya tanpa kejelasan.

Hari ini adalah hari kelulusan kami sebagai murid sekolah menengah atas. Seharusnya aku merasa bahagia karena itu, tapi aku malah merasa sebaliknya. Aku takut kehilangan Reina. Aku takut tak bisa bertemu lagi dengan Reina. Aku takut aku tak punya kesempatan lagi melihat Reina.

Reina beranjak pergi dengan teman-temannya. Sepertinya mereka akan menuju aula sekolah tempat wisuda dilaksanakan. Aku hendak memanggil Reina, namun suaraku tercekat karena tiang bangunan kelas yang berdiri di dekat Reina runtuh. Lalu disusul robohnya dinding dan atap kelas. Sebelum aku sempat mengejar Reina, gadis itu dan teman-temannya hilang begitu saja, sedangkan sekelilingku hancur lebur tak tersisa.

Desember, 2006
Reina memelukku erat. Dia meminta maaf padaku, untuk semua kesalahan yang pernah dia lakukan, untuk semua hal yang seharusnya tidak dia lakukan. Kepadaku.

Aku diam saja. Aku hanya menunduk. Aku tak sanggup melihat wajahnya. Dia bilang dia tidak ingin berlama-lama dalam kesedihan. Dia bilang dia tak ingin terus meratapi kepergian Hakim. Dia bilang, dia ingin merelakan Hakim. Dia harus merelakan Hakim.

Semua kalimat yang kusiapkan untuk Reina hari ini menguap begitu saja. Padahal aku sudah menyiapkannya sejak seminggu yang lalu. Lagipula kumpulan kalimat itu kini tak ada artinya lagi.

Reina berharap aku mau memaafkannya. Reina berharap kami masih bisa terus berteman. Reina berharap dia tidak melakukan kesalahan itu. Aku hanya mengangguk. Aku memaafkannya. Tapi aku tak bisa melepaskannya.

“Hady, maafkan aku,” kata Reina untuk kesekian kalinya. Akhirnya aku menatap matanya dan tersenyum tipis.

Reina membalas senyumku. Lalu bangku-bangku kayu di sekitar kami menghilang. Pohon-pohon rindang yang tumbuh di sekolah kami tumbang. Murid-murid berseragam abu-abu yang berseliweran di area kelas kami lenyap begitu saja.

Aku mengerjapkan mata. Tidak percaya dengan keanehan ini. Satu-satunya yang tersisa hanya Reina yang masih duduk di depanku. Senyumnya masih sama, lalu perlahan memudar, dan Reina ikut menghilang seperti murid lainnya.

April, 2006
Aku sedang berjalan menuju ruang TU saat kulihat Reina berjalan menuju perpustakaan. Letak ruang TU dan perpustakaan yang berada berseberangan membuat kami akan berpapasan di satu titik tertentu.

Awalnya Reina tidak melihatku. Tatapannya kosong. Tapi aku terlalu bahagia melihat Reina lagi, sehingga tanpa sadar aku tersenyum kepadanya.

Reina menghentikan langkahnya. Jarak kami mungkin hanya sekitar tiga meter. Reina membalas senyumku dan menatap wajahku lamat-lamat. Kali ini, aku yakin sekali hanya ada aku di situ. Untuk beberapa detik kami hanya saling tersenyum. Untuk kemudian aku terkejut karena tiba-tiba Reina menghilang.

Aku merasakan apa yang orang-orang bilang sebagai déjà vu. Aku merasa, aku pernah mengalami hal ini sebelumnya. Aku merasa pernah berpapasan dengan Reina di koridor TU dan perpustakaan. Namun seingatku Reina berlari meninggalkanku, bukan lenyap begitu saja. Lalu bangunan di sekelilingku runtuh. Seketika aku merasa sangat lelah, seperti aku tak sanggup menopang tubuhku sendiri.

Februari, 2006
Aku melihat seorang murid perempuan memasuki perpustakaan. Wajahnya berbinar bahagia, rambutnya yang dikuncir kuda bergoyang-goyang dengan riangnya. Aku seperti mengenal wajah itu. Sepertinya dia murid kelas X juga sepertiku.

Dia tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya.

“Hai, udah lama nunggu?” tanya gadis itu. Ternyata senyum itu bukan untukku. Dan ia bertanya kepada murid yang duduk di meja sebelahku. Meja pojok kanan, tempat Kak Hakim, anak kelas XII, khusyuk membaca buku.

Aku masih sempat melihat Kak Hakim tersenyum pada gadis itu. Aku berusaha mengingat nama gadis itu, karena aku yakin aku mengetahui namanya. Namun ingatanku tentang gadis itu seolah tercerabut begitu saja. Tanpa sadar tanganku menggapai-gapai seperti orang yang sedang tenggelam di lautan.

“Tidak! Tidak sejauh ini! Kumohon berhenti!”

Aku tidak ingin kehilangan yang ini. Aku masih ingin memiliki yang ini. Sepedih apapun, Sesedih apapun.

“Hentikan!” jeritku. Lalu semuanya gelap.

Oktober, 2015
“Hady, kamu tidak apa-apa?” tanya Jesse sambil membantuku berdiri. Wajahnya tampak cemas melihat aku yang jatuh terduduk. Aku mengangguk lemah. Benar kata Jesse, aku merasa begitu pusing sampai rasanya membuka mata saja berat.

Jesse memapahku dan mendudukkanku di sofa. Lalu pergi sebentar dan kembali lagi bersama segelas air putih. Dengan lemah, aku menenggak air itu perlahan-lahan.

“Kau berhenti di tengah jalan sepertinya,” tebak Jesse. Aku mengangguk sambil tersenyum lemah.

“Aku tidak ingin kehilangan kenangan yang terakhir. Itu terlalu berharga,” ujarku.

Jesse berdecak, “Itu sangat berisiko. Syukurlah kau bisa melaluinya dengan selamat.”

Jesse menepuk pundakku. Aku mengangguk lagi, “Terima kasih. Mesin buatanmu sangat membantu,” pujiku tulus.

Jesse hanya tersenyum. “Penghapus kenangan. Siapa sangka kita bisa menghapus kenangan yang tidak kita inginkan.”

“Kau akan kaya raya jika dunia tahu ada mesin yang bisa menghapus kenangan,” kataku.

“Tidak, itu berlalu berbahaya Hady. Aku yakin kau bisa menjaga rahasia ini. Iya, kan?” tanyak Jesse memastikan.

Aku, meski masih sedikit pusing, tertawa pelan dan berkata, “As you wish, Sir!”

Perlahan-lahan, yang tersisa untukku dari Reina adalah ingatan samar-samar tentang seorang gadis manis yang berjalan dengan riang menuju perpustakaan.

Depok, 28 September 2015

#SekilasCurcol
Kisah ini merupakan kelanjutan dari Rainy Day in Oslo, dan setelah ini, masih ada beberapa kisah selanjutnya. Mudah-mudahan masih ada yang tertarik untuk baca ya, hehehehe….

Oya, ide tentang mesin penghapus kenangan itu terinspirasi dari video klipnya Jesse McCartney yang berjudul It’s Over. Kalau penasaran, lihat sendiri aja ya di Youtube, wkwkwk….

Advertisements

2 thoughts on “Penghapus Kenangan

  1. Ratiiihhh Ayu selalu suka struktur kata dan cara penulisan cerita Ratih…. kul banget. Jadi penasaran sama cerita sebelum dan setelahnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s