Until You Back Here

Aku merasa ada tepukan keras di pundakku dan bisikan lirih, “Bangun, bangun.” Aku membuka mata dan terhenyak. Sekelilingku remang-remang, ada secercah cahaya lilin yang menari-nari di atas nakas kayu.

Nakas kayu? Seingatku aku tidak punya nakas kayu. Terlebih menyalakan lilin di malam hari. Aku bahkan membiarkan kamarku terang benderang dengan sinar lampu saat tidur. Aku mengucek mata, memastikan kalau aku benar-benar sudah bangun. Aku duduk perlahan-lahan dan sadar, aku tidak berada di kamarku.

“Kamu sudah bangun?” suara itu kembali terdengar. Seorang laki-laki muncul di hadapanku. Rambutnya pendek berwarna coklat. Ia memakai baju yang mengingatkanku pada pangeran-pangeran dari negeri dongeng. Rompi coklat, dengan baju dalaman berwarna biru pucat. Kurasakan tubuhnya bergerak mendekat hingga aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Peter?” tanyaku dengan nada tak percaya.

Dia tertawa. “Will, tapi yah, kau boleh memanggilku Peter. Aku memang terkenal karena nama itu.”

Aku terperangah. Tidak, tidak mungkin lelaki itu ada di sini. Tiba-tiba dia menarik tanganku, memintaku meninggalkan tempat tidur. “Ayo ikut aku,” katanya, “aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”

Dia menarik –atau lebih tepatnya menyeret- tanganku, dan aku terpaksa terseok-seok mengikuti langkahnya. Satu keganjilan lagi yang baru kusadari, aku memakai gaun tidur! Sejak kapan aku tidur memakai gaun tidur? Bahkan memilikinya pun tidak!

Aku tidak sempat lagi memikirkan gaun tidur dan segala keanehan ini karena Will terus menarikku, melewati lorong-lorong gelap dengan lantai-lantai berkayu. Ini aneh, aku yakin aku tidak pernah ke tempat ini sebelumnya. Akan tetapi, entah mengapa, aku merasa pernah mengenalnya.

Langkah Will berhenti di depan sebuah pintu. Aku berusaha mengatur napasku akibat terengah-engah mengikuti langkah Will. Dia menoleh ke arahku dan bertanya, “Ini dia tempatnya. Kau sudah siap?”

Aku belum sempat menjawab karena Will langsung membuka pintu, dan terbentanglah sebuah ruangan luas yang kosong melompong. Tidak ada apa-apa di sana selain suatu benda besar berwarna putih yang berdiri di ujung ruangan.

Will menarik tanganku lagi. Kali ini ia melangkah dengan hati-hati. Banyak hal yang ingin aku tanyakan, tapi aku terlalu bingung hingga tidak bisa mengucap apa-apa. Yang bisa kulakukan hanya membiarkan Will menuntunku mendekati benda itu. Dia merentangkan tangannya dan menarik benda putih yang ternyata adalah sebuah kain. Kain yang menutupi lemari besar. Lemari!

wardrobe wp

“Kau pasti bercanda!” seruku sambil tak lepas memandang lemari dari kayu jati dengan ukiran bergambar mahkota, pohon, dan matahari di pintunya.

Will hanya tertawa. “Itu juga yang kukatakan saat Lucy mengajak kami ke sini. Ayo!” serunya. Will membuka pintu lemari dan membantuku masuk.

Seperti lemari pada umumnya, lemari yang kami masuki juga penuh dengan baju dan mantel. Will menyuruhku memilih salah satu mantel dan memakai sepasang sepatu. “Tidak lucu jika kau keluar dengan gaun tidur,” katanya.

Setelah beberapa langkah, aku pikir, aku akan tertusuk-tusuk daun holly atau menginjak lapisan salju, seperti yang dialami Will dan adik-adiknya. Sayangnya tidak. Aku malah menemukan diriku berdiri di atas aspal yang agak becek seperti habis tersiram hujan. Sekelilingku terdengar riuh suara klakson mobil dan langkah-langkah kaki yang terburu-buru.

after the rain wp

Sebelum aku bertanya, ‘di mana kita’, aku melihat bus merah bertingkat melintas di hadapanku. Aku menatap Will dengan tatapan yang berbunyi, ‘kau pasti bercanda’. Dan Will tertawa lagi. “Tidak, percayalah aku tidak bercanda,” katanya.

“Dengar Will, ini aneh. Ini tidak mungkin. Aku tidak mungkin berada di sini,” kataku padanya. Aku menatap langit yang berwarna kelabu lalu menangkupkan kedua tanganku di atas wajah. “Oh Tuhan, aku pasti bermimpi.”

“Ayo kita ke sana!” kata Will, sama sekali tidak mengindahkan perkataanku barusan. Dia mengajakku menyebrang jalan, lalu berhenti tepat di depan seorang laki-laki yang sedang memainkan organ. Tepat di samping lelaki itu, berdiri seorang perempuan berponi. Mereka berdua sedang bernyanyi, dan aku tahu lagu apa yang mereka nyanyikan.

I can make you feel good even when I’m down
Les raisons qui me portent et ce stupide espoir
My force is a platform that you can climb on
Une épaule fragile et forte à la fois *

“Will…” panggilku. Dia menoleh sambil tersenyum. “Kau suka? Aku sengaja mengundang mereka untuk bernyanyi di depanmu.”

Aku tertegun. “Apa maksud semua ini Will? Kenapa kau mengajakku ke sini?” tanyaku mulai frustasi. Dan dia, dengan mata cokelatnya yang berbinar, lagi-lagi hanya tersenyum. Kemudian tangannya meraih tanganku.

“Ada lagi yang ingin kutunjukkan padamu. Pejamkan mata sebentar. Lalu buka matamu ketika aku memintanya.”

Aku masih tidak mengerti, namun, alih-alih protes, aku turuti juga perkataan Will. Kupejamkan mataku dan kurasakan angin bertiup.
“Buka matamu,” kata Will.

Aku tidak langsung membuka mata, karena angin yang berembus terasa begitu menyejukkan. Aku mendengar suara air, dan kakiku sepertinya menginjak rumput. Bukan lagi aspal seperti tadi.

“Ayolah, buka matamu,” kata Will lagi. Kali ini aku yang tertawa, dan akhirnya aku membuka mata.

Tepat di depanku, berdiri sebuah bangunan tua berwarna putih gading. Tidak, itu tidak layak disebut bangunan tua. Itu adalah kastil, dengan dua tiang yang tinggi dan kokoh, serta jendela yang berderet rapi di tengahnya. Aku menengok ke belakang, memastikan suara air yang kudengar berasal dari sungai. Hatiku mencelus, saat kusadar itu benar. Kami berdua, berdiri di antara kastil dan sungai.
cambridge wp“Ini mimpi,” kataku lirih. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Seolah tidak ingin melihat kastil itu berdiri di depan mataku. “Ini mimpi,” kataku lagi, seolah dengan berkata begitu aku akan segera terbangun. Karena tentu saja ini mimpi, bahkan mungkin, terlalu indah untuk jadi mimpiku.

“Kenapa kau yakin ini mimpi?” tanya Will.

“Karena aku tidak mungkin berada di sini Will. Tidak mungkin,” kataku dengan frustasi. Aku memandangnya dengan wajah memelas. “Aku ingin kembali. Sudahi mimpi ini Will. Aku tidak mau terlalu lama. Ini menyakitkan.”

“Tidak, kita tidak akan pergi sebelum kau percaya,” ujar Will. Kali ini nada suaranya terdengar tegas.

“Percaya pada apa?” tanyaku.

“Percaya bahwa kau benar-benar ada di tempat ini. Bahwa kau pasti berada di tempat ini.”

“Aku tidak…”

“Kau tahu,” sela Will, “Ketika kita diberi kemampuan untuk bermimpi, maka sebenarnya, kita juga dianugerahi kemampuan untuk mewujudkannya. Dan aku, berjalan sejauh ini, untuk mengingatkanmu akan hal itu.”

Aku menunduk. Lalu merosot begitu saja dan terduduk di atas rumput-rumput. Mataku nanar memandangi kastil itu. Aku ingat, kastil itu memang pernah jadi mimpiku. Aku pernah begitu menginginkannya. Aku pernah begitu ingin berdiri di depannya, berada di dalamnya. Namun, pada suatu hari yang menyedihkan, aku mengubur semua mimpiku. Jauh, jauh, jauh ke dalam.

“Kau tahu mengapa kau selalu ingin ke tempat ini? Kau tahu mengapa kau merasa hatimu terpaut ke tempat ini? Kau tahu mengapa kau tidak pernah benar-benar bisa melepaskan keinginanmu untuk berada di tempat ini? Karena kau memang ditakdirkan untuk berada di sini. Kau memang ditakdirkan untuk berada di sini. Kau hanya perlu berjalan lagi, melangkah dengan lebih berani lagi.”

Aku menggelengkan kepala. “Bagaimana itu mungkin? Aku tidak memiliki apa-apa.”

Will menatap mataku lekat-lekat. “Kau memiliki segalanya. Percayalah padaku.”

Aku menggeleng lagi sambil memejamkan mata. Berharap ketika aku membukanya, aku berada di tempat yang berbeda. Sungguh, aku tidak sanggup berdiri di depan kastil itu lebih lama lagi.

Benar saja, saat aku membuka mata, aku dan Will kembali berada di tempat pertama kali kami tiba. Sebelum aku sempat mencerna apa-apa, Will kembali menyeretku menuruni sebuah eskalator yang mengantar kami ke stasiun bawah tanah.

Aku pikir, aku akan menemukan poster-poster bertema “Your Country Needs You” atau kerumunan murid yang menonton perkelahian remaja laki-laki. Ya, memang ada kerumunan, dan Will menarik tanganku mendekati kerumunan itu. Tapi tidak ada perkelahian di sini. Yang ada hanya tiga orang laki-laki yang bernyanyi dengan gitar mereka. Orang-orang menonton pertunjukan mereka dengan wajah-wajah gembira. Beberapa bahkan bertepuk tangan atau sekadar menggoyangkan badan. Nada-nada yang mereka mainkan terdengar akrab di telingaku.

Baby, set me free from this misery
I can’t take it no more
Since you ran away nothing’s been the same
Don’t know what I’m living for

Here I am so alone
And there’s nothing in this world I can do
**

“Jangan bilang kau meminta mereka bernyanyi juga,” kataku pada Will. Will menoleh dan tersenyum, “Tidak, mereka memang bernyanyi di sini bukan?”

Aku memandang wajah Will, “Will, apa maksud semua ini? Kenapa kau mengajakku ke sini?”

Di tengah deru kereta yang melaju, Will balas menatapku, “Karena aku ingin mengingatkanmu, bahwa kau memiliki mimpi yang harus kau tepati. Karena kau memiliki hutang pada dirimu sendiri yang harus kau tunaikan. Karena aku tahu, suatu hari nanti, kau akan ada di sini. Dan kita akan bertemu lagi, seperti hari ini.”

Aku menunduk mendengar perkataan Will. Aku berharap apa yang dia katakan benar adanya. Aku berharap ini semua tidak hanya mimpi. Aku berharap, aku benar-benar ada di tempat ini.

‘Cause here I am so alone
And there’s nothing in this world I can do
Until you’re back here baby
Miss you, want you, need you so
Until you’re back here baby, yeah
There’s a feeling inside I want you to know
You are the one and I can’t let you go
**

“Ingatlah, sampai kau kembali, aku menunggumu di sini. Kami menunggumu di sini,” kata Will untuk terakhir kalinya. Lalu dia memelukku, membuat aku lupa kalau dulu aku pernah iri pada Lucy karena hal yang sama. Aku menekan hidungku pada rompinya yang berwarna coklat tua. Menghirup aromanya dalam-dalam, berharap aku bisa terus mengingat aroma itu, bahkan di kehidupan nyata.

Will mengantarku sampai ke luar lemari. Sebelum dia menutup pintu dan berbalik pergi, aku memberi kecupan perpisahan di kedua pipinya. “Terima kasih,” kataku, “Aku pasti akan ke sana dan menemukanmu.”

Will tersenyum, “Tentu saja. Until your back here, baby…”

Depok, 10 September 2015
Ketika mimpi yang dikubur dalam-dalam bangkit lagi menghantui hari-hari

***
Well, absurd ya? Iya, saya juga nyadar kok. Sepertinya, ini cerita ter-absurd kedua setelah Ruang Rindu, hehehe. Idenya muncul begitu saja setelah kemarin malam re-watch The Chronicle of Narnia, (so you’ll know what I mean that Peter and Lucy in this story, hahaha).
Saya juga nggak yakin, dua lirik lagu yang saya cantumkan pas atau enggak dengan ceritanya. Tapi anggap aja nyambung ya, oke?

*Je Te Donne, Ivyrise ft Leslie
**Back Here, BBMak
PS: If you watch their video clips, maybe you’ll be more understand about this story. And yes, I love Narnia so much, hahahaha

Advertisements

4 thoughts on “Until You Back Here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s