Bougenville

bougenville_by_victorraseisenheim-d34gowz

Lyn tidak pernah memiliki bunga favorit. Baginya, semua bunga sama saja, cantik dan indah. Tapi jika memang ia ditanya, dan harus menjawab, bunga apa yang paling dia sukai, maka dia akan bilang, Bougenville.

Lyn tahu bougenville mungkin bukan bunga istimewa. Bukan bunga yang sengaja dipetik lalu dikumpulkan di dalam buket dan dijual untuk orang-orang yang akan membelinya. Bougenville bahkan tumbuh di pinggir jalan, tidak butuh perawatan khusus, dan boleh dipetik siapa saja. Namun, bougenville tidak hanya sekadar itu bagi Lyn.

Bagi Lyn, melihat bougenville berarti mengingat sekolah. Melihat bougenville berarti mengingat masa-masa ketika hatinya tak beda dengan bougenville yang berwarna-warni, yang tumbuh dan mekar di area sekolahnya. Melihat bougenville berarti mengingat masa ketika segalanya terlihat indah dan baik-baik saja.

Lyn masih menyimpan sekuntum bougenville yang dulu diberi Nat saat ia sakit. Nat tahu, Lyn sangat menyukai bunga itu, dan ketika Lyn terkapar tak berdaya di atas kasurnya, Nat memetikkan sekuntum bougenville untuk Lyn. Yang kemudian, kelopak-kelopaknya Lyn simpan di antara halaman buku hariannya. Kelopak bougenville itu Lyn sengaja bentuk menyerupai huruf A. Hanya A, tidak ada yang lain.

Huruf A itu milik nama sesorang. Seseorang yang akan selalu diingat Lyn setiap ia menatap bougenville. Seseorang yang pernah begitu hidup di hati Lyn. Seseorang yang tak pernah hilang bahkan setelah tahun-tahun berlalu. Seseorang yang mungkin tak akan pernah pergi dari hati Lyn, juga tak akan pernah kembali.

Adly. Nama itu dulu serupa bougenville di hatinya. Sederhana, namun indah dan berwarna-warni. Selalu mengingatkan Lyn pada hari-hari cerah sembilan tahun lalu. Nama yang kerap kali membuat Lyn bertanya-tanya, apa jadinya jika ia tak pernah berada di tempat itu, hari itu? Apa yang terjadi di hidupnya sembilan tahun ini, jika Lyn tak pernah melihat Adly hari itu? Mungkinkah ia malah melihat orang lain? Akankah ia tetap melihat Adly, di tempat dan waktu yang lain, mungkin?

Kadang-kadang lucu mengingat masa lalu dan menyadari apa yang terjadi hari ini. Siapa yang sangka, Salsabila, sahabat Lyn yang dulu paling centil dan petakilan, kini telah berubah menjadi bunda sejati, julukan khusus dari Nat untuk Bila. Kini, Bila telah menikah dan menggendong seorang bayi laki-laki lucu dan melupakan semua mantan dan gebetannya di sekolah.

Siapa sangka Biyan Pratama, cowok metroseksual yang dulu ditaksir Nat mati-matian, kini hidup bahagia dengan anak dan istrinya, tanpa ada tampang metroseksual sama sekali. Siapa pula yang sangka, persahabatan Lyn dan Nat masih lengket hingga hari ini. Bukan berarti Lyn tak ingin terus berteman dengan Nat, namun tetap saja, ia masih tak menyangka, sekaligus bersyukur, karena Nat masih ada di sampingnya. Dan siapa sangka, bahkan hingga hari ini, tak pernah ada yang menggantikan Adly di hati Lyn. Tidak. Pernah. Ada.

Adly tak akan kembali. Lyn tahu lelaki itu tak akan kembali, tak peduli meski seribu tahun Lyn menunggunya. Adly tak akan kembali. Lyn terus-menerus menanamkan kalimat itu di hatinya. Merapalnya setiap hari seolah itu adalah sebuah mantra manjur yang akan mengubah hidupnya menjadi lancar dan baik-baik saja.

Ya, sekilas kehidupan Lyn memang baik-baik saja. Lulus sekolah lanjut kuliah. Lulus kuliah lanjut bekerja. Terdengar seperti kehidupan yang baik-baik saja bukan? Tapi tidak, sebab setiap kali ia melihat bougenville, ia kembali bertanya-tanya. Mengulang lagi pertanyaan favoritnya, ‘bagaimana jika’.

Bagaimana jika Lyn tak pernah bertemu Adly dulu? Bagaimana jika Lyn tak pernah kabur sendirian ke desa belakang sekolah hari itu? Bagaimana jika Adly tak pernah menyapanya? Bagaimana jika Lyn cukup sabar menunggu Adly hari itu? Sehingga mereka mungkin akan sempat mengucap sedikit kata-kata perpisahan. Sehingga mungkin tidak akan ada hari seperti ini, ketika Lyn kembali bertanya sekaligus berharap, mungkinkah suatu hari nanti Adly kembali?

Tapi Adly tak akan pernah kembali bukan? Bahkan meski Lyn tak yakin, siapa yang meninggalkan siapa. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Adly setelah hari itu. Nat hanya bilang, Adly menghampirinya dan mengatakan kalau ia minta maaf, juga menitipkan sehelai sapu tangan untuk Lyn. Sampai kini, sapu tangan itu masih disimpan Lyn dengan rapi. Tapi untuk apa? Untuk apa menyimpan sesuatu jika pemiliknya saja sudah melupakannya?

Lyn sering bertanya-tanya, kapan semua ini akan berakhir. Kapan ia benar-benar merelakan kepergian Adly. Kapan ia bisa melihat bougenville tanpa teringat Adly. Kapan segalanya benar-benar menjadi baik-baik saja.

Lyn tidak pernah tahu lagi kabar Adly setelah hari itu. Ia pergi begitu saja, menghilang begitu saja. Kadang Lyn ingin bertanya, tapi tidak kuasa. Setengah takut menerima kenyataan, setengahnya lagi takut kalau ia akan terus mencari dan menanti. Lyn pikir, jika ia mendiamkan saja segalanya, mungkin suatu hari nanti, semuanya akan berhenti. Iya, pertanyaan-pertanyaan ini.

Karena Lyn lelah. Lelah bertanya-tanya, lelah menanti-nanti, lelah berpura-pura, lelah berusaha melupakan. Ia hanya ingin segalanya berhenti. Berhenti. Stop. Sudah jangan ingat-ingat lagi.

Tapi bougenville itu masih akan selalu mekar. Dan Lyn masih akan terus teringat Adly. Dan Lyn masih akan terus bertanya-tanya, mungkinkah Adly akan kembali. Dan Adly tak akan kembali. Tak akan kembali. Dan bougenville itu akan terus bermekaran lagi.

***

Depok, 8 September 2015

Untuk Evelyn Putri, Natterina, dan gerumbul-gerumbul bougenville yang pernah bermekaran di hk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s