Di Suatu Hari Tanpa Nama dan Tanggal Berapa

goodwp.com-16657

Tidak ada kalender di rumah itu. Tidak ada satu pun. Adrian telah lama membuang semua kalender yang dipajang di dinding rumahnya yang berwarna hijau tosca.

“Adrian, sekarang tanggal berapa?” tanya Alisa pagi ini. Wajahnya pucat seperti biasa. Rambut hitamnya yang panjang tergerai di atas bantal. Adrian menghampiri Alisa lalu tersenyum.

“Setelah tanggal 19 sebelum tanggal 20,” jawab Adrian.

“Konyol!” Alisa merengut. Sejak seminggu yang lalu, pertanyaan Alisa tak pernah berganti, begitu pun dengan jawaban Adrian.

“Kalau begitu, sekarang hari apa?” tanya Alisa lagi, belum puas.

“Setelah hari Sabtu, sebelum hari Minggu,” jawab Adrian sambil tersenyum.

“Sepertinya, mulai hari ini kita harus menciptakan tanggal baru dan nama-nama hari yang baru, jika jawabanmu seperti itu terus,” kata Alisa sambil berusaha bangun dari kasurnya. Dengan sigap, Adrian meraih tangan Alisa dan membantunya berdiri.

Alisa menatap mata Adrian lekat-lekat, “Kau harus membeli kalender baru, Adrian.”

Adrian mengalihkan pandangannya, “Aku tidak mau.”

***

Adrian tidak akan mau membeli kalender baru. Kalau bisa, ia mungkin akan memejamkan mata jika tak sengaja melihat penanggalan di media apa pun, baik itu handphone, televisi, bahkan kalender tetangga. Adrian tak ingin diingatkan, bahwa usia Alisa tinggal menghitung hari. Bahwa penyakit yang menggerogoti Alisa sudah sampai pada tahap siap menghabisi hidupnya. Bahwa kebersamaannya dengan Alisa tinggal menunggu detik-detik yang terus berlari.

***

Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, Adrian dan Alisa duduk di sebuah taman di pinggir kota. Kepala Alisa bersandar di bahu Adrian, mulutnya bersenandung pelan, menyanyikan lagu pernikahan mereka. Jemarinya yang ramping menggenggam sebatang pensil dan sebuah buku sketsa.

Alisa sangat suka menggambar. Gambar favoritnya adalah peri-peri di balik bunga dan dedaunan. Semenjak sakit yang dideritanya makin parah, Alisa mengganti gambarnya dengan wajah Adrian dan wajahnya sendiri.

“Kenapa?” tanya Adrian.

“Aku ingin kau mengingat kisah kita,” jawab Alisa.

“Tapi aku pasti ingat semuanya. Aku penghafal yang baik,” sahut Adrian.

“Kalau begitu, ceritakan lagi padaku, kisah pertemuan pertama kita.”

“Hari itu, hari Sabtu, tanggal 18 Juni. Aku melihat seorang gadis berjalan di depanku dengan terburu-buru, seolah sedang berkejaran dengan waktu. Ia memakai rok biru bunga-bunga dan kemeja putih. Rambutnya panjang, hitam, dan berkibar-kibar, menutupi sebagian wajahnya.

Dari caranya berjalan, aku tahu sepertinya dia agak ceroboh. Benar saja, dia tidak cermat saat menyebrang jalan. Hampir saja, hampir saja dia tertabrak mobil yang melaju kencang. Aku menarik tangannya dari belakang. Aku tahu aku terlalu kencang menarik tangannya. Syukurlah aku sanggup menjaga keseimbangan, sehingga kami tak sampai terjungkal.

Gadis itu mengucapkan terima kasih dengan wajah bersemu. Aku tersenyum, dan tanpa berpikir-pikir lagi, aku bertanya, ‘siapa namamu?’”

“Alisa.”

Adrian menoleh pada Alisa, dan mendapati perempuan itu tersenyum puas.

“Ceritakan padaku, apa yang kau ingat dari hari pernikahan kita?” pinta Alisa lagi sambil memainkan anak-anak rambut Adrian.

lily-of-the-valley-bouquet“Hari itu, hari Minggu. Tanggal 18 Juni tahun berikutnya. Pengantin wanitaku memakai gaun putih sehalus beludru. Ada rangkaian dari sulur-sulur bunga di kepalanya.

Di langit, matahari bersinar lembut. Dia berjalan ke arahku, dengan sebuket bunga lili lembah di tangan dan alunan lagu Moon River.

Wajahnya tersenyum, matanya berbinar. Ia memandangku, hanya memandangku. Hari itu aku bertekad, akan menjadi penjaganya seumur hidupku.”

Kali ini Adrian yang tersenyum ke arah Alisa. Alisa malah memukul lengan Adrian dengan buku sketsanya. “Dasar gombal!” seru Alisa, setengah merajuk setengah tersipu.

***

Pagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, Adrian sibuk merapikan rumah dan menyiapkan sarapan untuk Alisa. Setelah semuanya beres, Adrian masuk ke dalam ke kamar, memastikan apakah Alisa sudah bangun. Mata perempuan itu masih terpejam. Adrian hendak keluar lagi, namun ia mendengar sebuah suara.

“Adrian, hari ini tanggal berapa?” tanya Alisa. Suaranya terdengar lebih lirih dari biasanya.

Adrian terpaku, wajahnya kaku menatap Alisa. Namun dijawabnya juga pertanyaan itu, “Sembilan belas.”

Alisa tersenyum, “Aku tahu kau pasti sudah membeli kalender baru.”

Adrian menggeleng. Tidak, dia tidak membeli kalender baru. Ia hanya ingat, dan Adrian baru menyadari, betapa mengingat telah menjadi sesuatu yang ia benci.

Adrian masih ingat, tiga bulan lalu, tepat di tanggal yang sama, dokter mengatakan bahwa pertahanan tubuh Alisa akan terus melemah seiring berlalunya waktu. Adrian masih ingat, senyum tulus Alisa saat mendengar kabar itu. Adrian masih ingat, hari itu Alisa memakai cardigan warna peach kesukaannya. Adrian bahkan masih ingat, ada penjual balon warna-warni di depan rumah sakit, dan ia membelikan satu untuk Alisa. Balon warna biru.

“Kenapa biru?” tanya Alisa waktu itu.

“Karena kalau hijau nanti meletus,” jawab Adrian asal. Alisa langsung tertawa, tertawa terbahak-bahak seperti tak pernah tertawa sebelumnya. Adrian merekam momen itu dengan baik, sambil bertanya-tanya, kapan ia bisa mendengar tawa itu lagi.

“Jadi, kau belum membeli kalender baru?” tanya Alisa memastikan. Adrian menggeleng lemah. Alisa menghela napas, lalu berusaha untuk bangun dan mendudukkan tubuhnya.

“Adrian…” panggil Alisa sambil menarik tangan lelaki itu untuk duduk di sampingnya. “Aku tahu ada angka tak terhingga antara 0 dan 1. Aku tahu, beberapa ketakterhinggaan lebih besar dari ketakterhinggaan yang lain. Aku tahu, kau berusaha membuat ketakterhinggaan itu. Tapi, Adrian, cintaku, hari-hari akan terus berlalu tanpa peduli. Aku akan pergi. Kau akan pergi. Semuanya akan pergi.”

“Kau tidak terdengar seperti Hazel Grace,” sela Adrian.

“Aku bukan Hazel, aku Alisa,” sahut Alisa sambil tersenyum pada Adrian. Tapi Adrian tak membalas senyumnya pagi ini. Adrian hanya menunduk. Tak sanggup menatap mata Alisa lebih lama lagi.

“Maukah kau berjanji satu hal padaku Adrian? Satuuu saja,” pinta Alisa sambil memainkan anak-anak rambut Adrian.

“Apa?” tanya Adrian, berusaha mencegah air matanya tumpah.

“Saat mataku tidak terbuka lagi, maukah kau membeli kalender baru untuk rumah kita?” pinta Alisa dengan wajah merajuk favoritnya.

“Baiklah,” jawab Adrian. Senyum Alisa di bibir pucatnya merekah.

***

Jadi, pada hari itu, di suatu hari tanpa nama dan tanggal berapa, ketika Adrian bahkan sudah tak bisa mengingat lagi berapa hari yang telah berlalu, seminggu, dua minggu, sebulan atau bahkan mungkin tiga bulan, ia membeli sebuah kalender. Ia memajang kalender itu di dinding rumahnya yang berwarna hijau tosca.

Dari jauh, terdengar sayup-sayup suara Alisa menyanyikan lagu pernikahan mereka.

Two drifters, off to see the world
There’s such a lot of world to see
We’re after the same rainbow’s end, waiting, round the bend
My Huckleberry Friend, Moon River, and me

(Moon River, Henry Mancini)

***

Ide tentang kekasih yang membenci penanggalan ini, sudah ada sejak tahun 2014 atau mungkin 2013. Tapi belum juga dieksekusi hingga sekarang. Berkat adanya grup kece #SatuSeminggu saya jadi semangat untuk menulis fiksi lagi 🙂

a little trivia for you 🙂

1. Moon River adalah Original Soundtrack dari film “Breakfast at Tiffany’s”

2. Hazel Grace adalah tokoh utama di novel The Fault in Our Stars karya John Green

3. Lili lembah (Lily of the Valley) adalah salah satu jenis bunga yang ada di buket bunga Kate Middleton di hari pernikahannya dengan Pangeran William.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s