Bintang Jatuh

Aku akan menceritakan sebuah kisah padamu.
Sebuah kisah tentang pertemuan pertama.
Pertemuanku dengan bintang jatuh.

Malam itu hening dan dingin. Sunyi juga sepi. Aku berjalan seorang diri menuju bangku kesukaanku, di taman kesukaanku. Hanya di bangku itu aku merasa nyaman. Hanya di taman itu aku bisa menenangkan pikiran.

Sayangnya, malam itu aku terlambat. Bangku favoritku telah diduduki oleh seorang gadis. Meski dalam gelap, aku dapat melihat rambutnya yang sehitam malam. Panjang sebahu namun kusut masai.

Ia memakai gaun yang juga hitam. Little black dress dengan renda di bagian lengan. Kepalanya tertunduk. Tangannya tertangkup, menutupi wajahnya. Bahunya berguncang. Dari dekat, aku mendengar isakan.

“Hei, ada apa? Apa kau terluka?” tanyaku sambil berjongkok di hadapannya.

Dia mendongak. Wajahnya merah dan sembab. Maskara hitamnya luntur karena air mata.

“Dia tidak mencintaiku,” ujarnya pelan.

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena aku bukan perempuan,” jawabnya sambil menatap mataku lekat-lekat.

Aku menggeleng kepala sambil tertawa kecil. Kemudian duduk di sampingnya.

“Tidak mungkin,” kataku, “Kau amat cantik.”

Dia menggeleng, lalu ikut tertawa. Namun aku melihat luka di wajahnya.

“Dia tidak mencintaiku. Aku tidak pernah berarti,” katanya lagi.

Lalu aku ingat perasaan itu. Putus asa dan terluka. Hampa dan kecewa. Diabaikan. Ditinggalkan. Dilupakan.

“Aku tak pernah diinginkan,” tambahnya.

Aku terpaku. Ingat bahwa dulu pun aku pernah berpikir begitu. Sampai sekarang aku tidak tahu, apa yang membuatku bertahan, hingga hari ini.

“Ingin rasanya aku menyudahi segalanya,” katanya. Lalu tangannya merogoh-rogoh tas kecil yang dia bawa.

Aku melihat ia mengeluarkan sebuah benda perak. Tipis dan kecil. Tajam. Mengingatkanku pada sayatan-sayatan di lenganku. Bekas-bekas dari keputusasaan. Bukti dari kebodohan.

“Jangan,” cegahku. Kugenggam tangannya dan kulemparkan benda itu ke tanah.

“Kenapa?” tanyanya. Kulihat matanya kembali berkaca.

Aku tidak menjawab. Karena aku memang tidak memiliki jawabannya. Aku hanya memeluknya. Kupeluk tubuhnya erat. Tubuhnya harum, beraroma seperti lemon segar.

“Apapun yang terjadi, kumohon jangan lakukan itu.”

Dia terisak di pelukanku. “Kau berarti,” bisikku. Lalu kucium keningnya tujuhnya kali.

Setelah malam itu, kami terus bertemu lagi. Ia tampak berbeda kini, dengan celana dan kemeja. Meski aku tak akan pernah bisa menghilangkan bayangnya yang memakai gaun hitam berenda.

Tapi bukan itu, sungguh, bukan karena itu.

Bukan karena itu aku tersenyum padanya hari ini.

Bukan karena itu aku menggenggam tangannya hari ini.

Bukan karena itu aku mencium keningnya tujuh kali.

Sungguh bukan karena itu.

Tapi karena dia berarti.

Dia berarti.

Kau tak akan pernah tahu, kapan dan di mana kau bertemu dengan bintang jatuhmu.

Dan sampai saat itu, berhentilah menyakiti diri sendiri.

Kau berarti.

Kau berarti.

Dan jika akhirnya kau bertemu dengannya, jangan lupa cium keningnya tujuh kali.

shooting-star-

Depok, 20 Agustus 2015
*terinspirasi dari beberapa film pendek
** sumber gambar, klik kanan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s