Once in a Blue Moon

blue_moon

Sejak kecil dia telah diajarkan untuk percaya bahwa malaikat itu ada. Tapi, dia percaya lebih dari itu. Ia percaya, malaikat tidak hanya ada, tapi juga akan turun ke bumi untuk menguatkan hati yang rapuh dan menghilangkan duka lara dari jiwa-jiwa yang dirundung sedih.

Dia percaya itu semua, begitu saja. Tanpa mempertanyakannya kembali, seolah-olah semua yang dikatakan memang pasti terjadi. Seolah-olah semua kisah dalam dongeng-dongeng itu memang benar adanya. Hanya saja, kadang kala dia penasaran, di setiap kisah yang ia baca, sang malaikat selalu kembali ketika urusannya telah selesai. Ia bertanya-tanya, tidak adakah malaikat yang berminat untuk menetap, atau tinggal lebih lama dari seharusnya?

“Bulan biru adalah fenomena di mana bulan purnama terjadi dua kali dalam satu bulan. Kejadian ini biasanya terjadi dua setengah tahun sekali. Namun, dalam periode 19 tahun sekali, terjadi dua bulan biru pada tahun yang sama. …. Reina, ada apa di jendela?”

Suara guru geografinya menyentak lamunannya. Dia tergagap, tersenyum kikuk sambil menggeleng pelan, lalu mengambil pulpen dan pura-pura sibuk menulis. Dia berusaha mencerna penjelasan sang guru tentang bulan biru dan mengingat-ingat, bukankah tadi mereka sedang membahas tentang susunan bumi?

Dia menghela nafas, lalu tersenyum kecil menyadari hal itu. Mungkin itulah enaknya memiliki guru yang sepertinya mengetahui segalanya. Mereka bebas bertanya apa saja, mulai dari pertanyaan yang rumit hingga paling sepele sekalipun.

“Karena jarangnya peristiwa ini, maka ada semacam pepatah yang berbunyi, ‘Once in a blue moon’ yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sangat langka atau jarang terjadi.”

Bel berbunyi nyaring. Sang guru menutup penjelasannya dan meninggalkan kelas. Lalu terdengar suara buku-buku ditutup dan alat tulis dibereskan. Teman-temannya sibuk bersiap pulang sekolah. Namun dia masih termenung sendiri di dalam kelas. Memandang keluar jendela yang sejak tadi hanya menampilkan daun-daun yang bergemerisik pelan tertiup angin.

Once in a blue moon. Mungkinkah itu juga menggambarkan tentang keinginannya akan malaikat yang turun, dan menetap di bumi lebih lama dari seharusnya?

Malam itu bulan purnama menggantung sendirian di hamparan langit hitam tak bertepi. Ia berjalan seorang meninggalkan kamar asramanya yang hiruk pikuk, menuju ke area kelas yang sepi. Ia lalu duduk di tepi lapangan kecil, yang terletak di depan kelasnya. Di samping kakinya, rumput-rumput teki menggesek mata kakinya dengan lembut.

Dia menatap bulan itu sekali lagi. Menjadi satu-satunya lingkaran di sekeliling serba hitam, membuat ia melihat bulan itu sebagai lubang. Lubang ganjil, yang seolah menjanjikan jalan keluar menuju cahaya di tengah kegelapan yang menyelimutinya. Jika ia bisa memasukinya,ia yakin ia akan dengan senang hati melakukannya, karena ia tahu, lubang itu akan membawanya pada impian yang bahkan tak berani ia ucapkan.

Ia memandang langit lebih lama dari biasanya. Hingga ia kelelahan mendongak lalu menunduk dan menyadari buku pelajaran yang tadi dibawanya terabaikan begitu saja. Ia lalu meraih pulpen dan mulai menulis.

Teman-temannya pikir dia belajar. Dan banyak dari mereka yang memujinya karena dia rajin belajar. Padahal sebenarnya dia tidak belajar. Dia hanya menggunakan pemikiran itu untuk menyendiri dan berkubang dalam lamunannya.

Mungkinkah, pikirnya, malaikat benar-benar turun? Dia mulai membenturkan keyakinan masa kecilnya dengan pemikiran logis ala orang dewasa. Dan adakah, pikirnya lagi, malaikat yang mau menetap lebih lama dari seharusnya? Memilih menetap karena ingin menemani dirinya. Jika iya, mungkin benar ucap gurunya tadi siang, bahwa bulan biru memang ada, namun sangat langka.

Once in a blue moon. Dia merindukan malaikatnya. Dia selalu menanti, kapan malaikatnya turun. Dia berharap malaikatnya turun segera. Dan salahkah ia jika berharap sang malaikat tinggal lebih lama?

Dia benar-benar ingin bertemu dengan malaikatnya. Meski dia tidak tahu kapan bulan biru itu akan muncul, dan apakah ia berkesempatan melihatnya. Tapi ia tahu, ia akan terus menunggu.

God, please send me an angel…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s