Dzikir- Dzikir Cendol

segelas cendol

Siang itu, matahari bersinar dengan menyengat. Debu-debu jalanan berterbangan tersapu mobil dan motor yang berlalu. Aspal hitam tampak menyimpan genangan air akibat memantulkan cahaya matahari. Siang itu benar-benera kering. Sekering tenggorokan Hafshah yang sejak tadi menahan haus dan lapar.

Hafshah, Delia, dan Alaa baru saja turun dari angkot yang mengantarkan mereka dari sekolah. Hafshah, sebagai yang tertua, menuntun kedua adiknya menyebrangi jalan raya yang penuh dengan lalu lalang kendaraan bermotor. Mereka melangkah dengan gontai. Wajah ketiganya berkeringat dan kuyu setelah seharian belajar tadi.

Di depan gerbang komplek, terdapat satu becak dengan tukangnya yang duduk menunggu penumpang. Jalan masuk ke rumah mereka memang terbilang jauh. Oleh karena itu, di depan komplek terdapat becak atau ojek yang bersedia mengantarkan sampai depan rumah. Walaupun begitu, biasanya tiga bersaudara ini selalu berjalan kaki. Namun, di siang yang terik seperti ini, pasti enak rasanya bila naik becak, apalagi mereka semua sedang berpuasa.

“Teteh, naik becak aja yuk! Alaa capek banget nih…” ujar Alaa, si bungsu, memohon kepada Hafshah. Mereka bertiga kini berdiri tidak jauh dari si abang becak.

“Iya Teh, Delia juga udah lemes. Pengen cepet nyampe,” tambah Delia. Hafshah tambah ragu.

“Tapi kita kan mau beli es cendol nanti sore. Kalau uangnya dipakai buat naik becak, berarti nggak jadi dong belinya,” ujar Hafshah menolak permintaan kedua adiknya.

“Minta lagi aja uangnya ke Ummi,” usul Alaa.

“Nggak mau, nanti Teh Hafshah yang diomelin. Jalan aja deh, biasanya juga jalan kan?” bujuk Hafshah. Delia dan Alaa menghela nafas dan mulai mengikuti Hafshah dari belakang.

Mereka masih sesekali memandangi becak dan membayangkan betapa enaknya duduk di becak yang tertutup sehingga tidak terlalu panas, lalu tanpa terasa sudah sampai di rumah. Lagipula, entah mengapa udara Cileungsi akhir-akhir ini, terasa lebih panas dari biasanya. Tenggorokan yang kering ditambah perut yang lapar, benar-benar menjadi ujian bagi mereka bertiga.

Bukannya Hafshah tidak kasihan kepada kedua adiknya yang masih kecil. Delia masih kelas 3 SD sedangkan Alaa baru kelas 1 SD. Dia tahu, meski ini bukan tahun pertama mereka berpuasa, tapi ini hari yang melelahkan. Sebenarnya, Hafshah juga ingin naik becak. Tapi ia benar-benar ingin mencicipi es cendol yang dijual di depan komplek saat sore hari.

Ummi pasti tidak akan memberi uang tambahan untuk membeli es apapun. Hafshah masih ingat betul kata Ummi, bahwa untuk berbuka, tidak perlu jajan di luar, karena Ummi akan buat sendiri. Sedangkan tiga hari belakangan ini, Ummi membuat es buah terus. Karena dua kakak mereka yang selama ini tinggal di pesantren, Teh Hani dan Teh Zahra, suka sekali es buah buatan Ummi. Padahal, sebelum mereka pulang ke rumah, Ummi sudah sering membuat es buah untuk berbuka.

Hari ini, untuk berbuka puasa nanti, Hafshah ingin sekali es cendol. Sejak kemarin, ia sudah berniat untuk membeli es cendol dengan uang saku pemberian Ummi. Ia juga mengajak dua adiknya untuk membeli es cendol. Selama di sekolah, sepanjang jam pelajaran berlangsung, tak ada yang diingat oleh anak kelas 5 SD itu selain es cendol.

Hafshah terlalu asyik membayangkan nikmatnya es cendol, hingga tak terasa, ia berjalan sendiri, meninggalkan kedua adiknya yang tergopoh-gopoh di belakang.

“Bener ya Teh, nanti sore beli es cendol,” ujar Delia memastikan, wajahnya sudah penuh dengan peluh. Sedangkan Alaa mengibas-ngibaskan kerudung sekolahnya.

“Iya, iya, tapi jangan bilang-bilang Ummi ya?” sahut Hafshah. Mereka berdua mengangguk. Akhirnya, sepanjang perjalanan mereka hanya bisa membayangkan es cendol diselingi dengan keluhan mengapa Cileungsi panas sekali.

Sesampai di rumah, Hafshah, Delia dan Alaa langsung tiduran di depan televisi yang di sampingnya berdiri kipas angin yang menyala. Teh Hani ikut duduk dan langsung sibuk gonta-ganti saluran televisi.

“Shalat dulu sana!” suruh Teh Hani. Hafshah beringsut dengan wajah kecut.

“Delia, Alaa, ayo shalat!” seru Teh Hani lagi. Yang disebut namanya malah asyik berguling-guling di lantai keramik yang dingin, tak peduli.

Saat air wudhu yang menyegarkan menyentuh wajah Hafshah, ia kembali terbayang kelezatan es cendol yang akan dibelinya. Es cendol yang manis dengan kuah gula merah dan cendol hijau yang kenyal, ditambah dengan kotak-kotak es batu yang dingin. Diminum setelah adzan Maghrib, setelah sehari penuh menahan lapar dan haus. Hmm… bagi Hafshah, itulah hal terindah dan ternikmat yang akan ia rasakan.

Dalam shalatnya pun, yang Hafshah pikirkan hanya es cendol. Saat ia tertidur di depan televisi bersama adik dan kakaknya, mimpinya adalah mereguk es cendol. Bangun untuk shalat Ashar, es cendol masih memenuhi pikirannya. Meskipun Hafshah melihat Teh Zahra minum di depan kulkas karena sedang tidak berpuasa, tapi Hafshah sama sekali tidak tergoda. Tentu saja lebih enak es cendol daripada segelas air putih, pikir Hafshah.

Seusai mandi, Hafshah dan Delia langsung mengeluarkan sepeda yang berada di belakang rumah. Tak peduli dengan Teh Hani yang marah-marah karena Hafshah belum menyapu halaman dan Delia yang belum membereskan kamar. Alaa, mendengar kehebohan itu, buru-buru mengikuti kedua kakaknya. Hafshah dan Delia tertawa-tawa sambil mengayuh sepeda cepat-cepat. Tinggal Alaa yang erat-erat memeluk Hafshah karena takut jatuh dari boncengan.

“Teteh, mau beli es cendolnya sekarang? Tapi Maghrib kan masih lama?” tanya Delia yang berusaha mensejajarkan sepedanya dengan sepeda Hafshah. Mereka telah sampai di taman komplek. Tidak begitu jauh dari gerbang perumahan Pondok Damai. Di situlah dijajakan berbagai penganan berbuka puasa. Mulai dari segala jenis es, gorengan, martabak, mie ayam dan bakso pun ada.

Menjelang senja, tempat itu memang ramai dipadati penduduk komplek yang ingin membeli ta’jil. Orang-orang yang baru pulang kerja juga tak jarang ikut mampir untuk membeli. Jalan masuk komplek sudah seperti pasar dadakan. Karena masih terlalu dini untuk membeli es cendol, maka Hafshah memutuskan untuk bersepeda dulu di sekitar komplek.

Pandangan Hafshah tak lepas dari jam tangannya. Berharap jarumnya bergerak lebih cepat dari biasanya, sehingga ia bisa segera merasakan es cendol. Sampai akhirnya, waktu menunjukkan pukul 5, dan mereka segera melaju menuju gerbang perumahan. Bersabar mengantri dengan para pembeli lain demi dua bungkus es cendol segar.

Setelah didapatnya apa yang begitu ia inginkan selama seharian ini, Hafshah kembali mengayuh sepedanya cepat-cepat. Es cendolnya, ia ikat di stang sepeda. Saking terburu-burunya, Hafshah lupa dengan polisi tidur yang berbaring di depan jalan menuju rumahnya. Sepedanya masih melaju dengan kecepatan tinggi saat melewati polisi tidur itu, sehingga Hafshah dan Alaa terlonjak keras dari jok sepeda. Dua bungkus es cendol yang diikat Hafshah terlepas, tumpah ruah di aspal dengan tragisnya.

Hafshah hanya bisa memandangi kuah gula merah yang mengalir membasahi jalan dan cendol-cendol hijau yang berserakan. Es cendol yang seharian ia pikirkan, ia tunggu-tunggu, yang membuatnya bertahan puasa hingga sore tiba, kini tergeletak pasrah. Hafshah tidak mungkin kembali lagi untuk membeli es cendol. Uangnya habis. Hanya terdengar suara Alaa yang berkata lirih, “Teteh, cendolnya tumpah…”

Behind the Story
Sebenernya ini cerpen lama, dibuat tahun 2008. Tadinya mau diikutkan lomba cerpen anak-anak di majalah Ummi. tapi nggak jadi gara-gara kuponnya belum digunting, sedangkan majalahnya ketinggalan di rumah, dan saya udah keburu balik ke Kuningan (sekolah saya). Alhasil, cerpen ini terpendam bertahun-tahun, dan yah, saya pikir nggak ada salahnya mempostingnya di sini. Hitung-hitung meramaikan nuansa bulan Ramadhan, hehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s