Forever Goodbye

bench-central-park

Goodbye to all that I knew
I’m leaving and you should leave to
I said all I needed to say
Now we can both be on our way

Aku melangkah dengan lunglai menuju taman tempat aku dan Sara biasa bertemu. Tidak ada siapa-siapa di taman di kala malam. Hanya aku dan sebuah bangku kayu yang sama-sama sendirian. Sejenak, aku hanya duduk dan memperhatikan undangan yang kubawa-bawa sejak tadi.

“Ryan, ini ada undangan untukmu,” kata Sara saat ia berkunjung ke rumahku tadi sore. Aku yang sedang menyiram tanaman di pekarangan tersenyum lebar melihat kehadirannya.

“Oh ya? Siapa yang menikah? Kakakmu?” tanyaku dengan wajah ceria.
Sara diam beberapa saat sampai akhirnya dia berbicara dengan suara pelan, “Itu undanganku Ryan. Kau bisa membacanya.”

Jeda antara mendengar perkataan Sara, melihat undangan yang diulurkannya, dan menjatuhkan selang air begitu dekat sehingga aku tidak tahu mana yang sebenarnya terjadi lebih dulu. Yang jelas, aku merasa seperti disambar petir di sore yang tenang, tanpa angin tanpa hujan.

“Mana mungkin?!” desisku tidak percaya. Namun cukup nyaring untuk didengar Sara.

Tidak, Sara tidak mungkin melakukan ini. Entah sudah beberapa belas tahun kita bersama-sama. Aku dan dia berteman sejak kami masih di taman kanak-kanak. Bahkan sampai kami sama-sama lulus kuliah, aku dan Sara masih berteman akrab layaknya… layaknya…

“Ryan?” panggilan Sara mengembalikanku dari keterkejutan. Aku mendongak.

“Kau tidak apa-apa kan?” tanya Sara. Aku menggeleng dengan senyum dipaksa.

“Aku ikut bahagia dengan pernikahanmu. Omong-omong, kau kenal di mana dengan calon suamimu?” tanyaku sok antusias. Sayangnya, wajah Sara tak seantusias yang aku harapakan.

“Sebenarnya aku belum lama mengenalnya. Dia teman kakakku. Kakakku pikir, dia cocok menjadi suamiku. Saat aku bertemu dengannya, kupikir dia orang yang baik,” jawab Sara.

Aku mengangguk mendengar Sara. Berharap kekecewaanku tidak begitu terlihat. Kenyataannya, Sara sepertinya menyadari hal itu.

“Ryan, kau tidak apa-apa kan? Maksudku, kau tidak pernah menyukaiku sebagai seorang kekasih kan? Kau hanya menganggapku sahabat kan?” tanya Sara secara beruntun.

Aku kaget, bingung, dan heran kenapa Sara menanyakan hal itu padaku. Kenapa…

“Kenapa?” tanyaku akhirnya karena aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan.

“Karena… kita telah lama bersahabat. Sudah terlalu banyak orang yang menganggap kita lebih dari sekedar teman. Tapi karena kita memang hanya berteman, aku harap pernikahan ini tidak memutuskan hubungan pertemanan kita. Iya kan?” tanya Sara terlihat ragu.

Aku tersenyum, “Ya, kita tetap berteman seperti dulu. Tak akan ada yang berubah,” ujarku terdengar tenang dan meyakinkan. Sebenarnya, kalimat itu untuk menenangkan dan meyakinkan diriku sendiri.

“Kau benar-benar hanya menganggapku sebagai seorang sahabat kan?” tanya Sara lagi. Masih ingin memastikan. Aku mengangguk sambil tersenyum.

Kulihat Sara terhenyak sesaat. Namun, dengan cepat wajahnya berubah kembali. Kali ini ia tersenyum tipis, “baguslah. Dulu aku pernah menganggapmu lebih dari sekedar teman, Ryan. Tapi aku lega sekarang karena telah mengambil keputusan yang tepat.”

Lalu Sara memelukku yang masih tertegun mencerna kata-katanya. Apa maksudnya itu? Selama ini aku tak pernah menganggapnya sekedar teman. Selama ini aku tak pernah menganggapnya sekedar sahabat. Selama ini, aku selalu menganggap Sara adalah orang yang paling berarti dalam hidupku, dan aku akan melakukan apa saja agar aku tetap bersama dengannya.

“Benarkah?” tanyaku akhirnya. Sara mengangguk. “Kenapa kau tak pernah mengatakan hal ini?”

“Karena aku tidak ingin merusak persahabatan kita. Aku tahu itu alasan yang klise. Semua buku dan film mengatakan hal yang sama. Tapi jika benar ada di kehidupan nyata, memang begitulah adanya. Aku takut, kalau aku mengatakannya padamu, dan kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku, kau akan menjauhiku, dan pertemanan kita akan berakhir. Begitu takutnya aku akan hal itu, hingga aku rela menyimpan rahasia ini bertahun-tahun lamanya. Dan sekarang, saat aku tahu kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku, aku merasa amat lega.”

Aku hanya tersenyum mendengar ujarannya. Berharap Sara tidak melihat nanar yang mulai muncul di kedua mataku.

“Iya, aku selalu menganggapmu teman. Teman yang sangat baik,” sahutku akhirnya.

Sara memelukku lagi. “Aku sangat ingin melihatmu di hari pernikahanku,” katanya.

Aku mengangguk, “Aku pasti datang.”

Kalau ada yang bilang, sekali berbohong maka kau akan berbohong lagi untuk menutupi kebohonganmu, maka itulah yang aku lakukan pada Sara.

Aku bohong padanya dengan mengatakan kalau aku hanya menganggapnya teman. Maka aku pun berbohong lagi padanya dengan mengatakan aku akan datang. Aku tidak akan datang ke pernikahannya. Tidak. Siapa yang sanggup berdiri di hari pernikahan orang yang kau cintai sedangkan kau bukan pengantinnya?

Kalau aku bilang aku menyesal karena tidak mengatakannya sejak dulu, kau pasti akan menjawab, sudah terlambat. Ya, aku tahu, aku memang terlambat mengatakan pada Sara kalau aku mencintainya. Kalau aku menganggapnya lebih dari sekedar teman, lebih dari sekedar sahabat.

Masalahnya, aku tidak pernah yakin dengan apa yang aku rasakan. Aku bahkan tidak tahu kapan perasaan khusus itu bermula. Anehnya, kadang aku merasa terlalu terbiasa dengan kehadiran gadis itu, sehingga aku yakin kami memang ditakdirkan untuk bersama-sama selamanya. Terlalu yakin hingga tak pernah terpikir olehku bahwa tidak ada yang menjamin kebersamaan kami.

Aku melihat lagi undangan yang diberikan Sara. Pernikahannya dua minggu lagi. Tidak ada yang dapat kulakukan untuk mengubah keadaan menjadi seperti yang aku inginkan. Aku tidak mungkin melakukan tindakan konyol hanya untuk meyakinkan Sara kalau aku juga mencintainya lalu memaksanya untuk membatalkan pernikahan itu dan mempermalukan dua keluarga. Tidak, aku tidak sebodoh itu. Meskipun cukup bodoh membiarkan Sara berpikir aku tidak pernah mencintainya.

Kehadiran seorang laki-laki di taman yang sepi ini sejenak mengusik keheninganku yang duduk sendirian. Dia duduk di bangku yang sama denganku, hanya saja mengambil tempat di pinggir juga. Aku di pinggir kanan, dia di pinggir kiri, dan di tengah-tengah kami adalah kesunyian.

Kulihat dia duduk dengan sedikit gelisah. Tampaknya menunggu seseorang. Aku yang tadi sibuk memikirkan Sara, sesaat tertarik memperhatikannya. Terkadang dia menerawang sambil tersenyum sendiri. Mungkin dia janjian dengan kekasihnya di taman ini.

Benar saja, tak lama kemudian, muncul seorang gadis berjalan pelan memasuki taman. Tapi ia sama sekali tak melihat ke arah bangku-bangku kayu. Ia berjalan lurus ke depan, tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri, dan langsung mencapai kolam di tengah taman. Ia duduk di sana, termenung memandangi air. Aku melihat wajah lelaki itu lagi. Ekspresinya tidak berubah, masih gelisah seperti tadi. Sepertinya bukan gadis itu yang dia tunggu.

Aku masih duduk di bangku itu sampai akhirnya muncul satu gadis lagi di taman. Kali ini, dia berjalan dengan riang menuju bangku yang aku duduki. Lelaki di sebelahku tersenyum lebar melihat gadis itu. Oh, jadi inilah orangnya, pikirku.

Aku sempat melihat gadis itu menoleh ke arahku dengan pandangan heran. Lalu memandang si lelaki dengan mimik, ‘itu siapa?’. Merasa kehadiranku tidak diinginkan oleh mereka, aku pun beranjak. Kali ini, pandanganku,beralih ke gadis yang duduk di tepi kolam. Di tangannya, tergenggam sebuah undangan pernikahan.

Aku berjalan menuju kolam dan berdiri cukup dekat darinya. Namun sepertinya dia terlalu tenggelam dalam pikirannya sehingga tidak menyadari kehadiranku. Entah kenapa, aku jadi teringat Sara. Dia juga suka begitu. Tidak menyadari kondisi sekeliling jika sedang sibuk memikirkan sesuatu.

Aku melihat jemarinya menyusuri permukaan undangan. Seolah ingin benar-benar memastikan nama itulah yang tertulis di sana. Aku tidak perlu melakukan itu pada undangan Sara. Tidak ada namaku di sana. Lalu kudengar suara plung pelan. Seperti ada sesuatu yang jatuh ke kolam.

“Kau membuang apa ke dalam kolam tadi?” tanyaku pada gadis itu saat dia beranjak meninggalkan tepi kolam. Dia tampak begitu kaget mendengar suaraku.

Tapi dijawabnya juga pertanyaanku, “Bukan apa-apa, hanya masa lalu,” kemudian berlalu melewatiku.

Aku melirik undangan Sara yang kubawa, “Oh, kalau begitu aku juga akan melakukan hal yang sama,” kataku.

wedding invitation 2Aku menggenggam undangan Sara untuk terakhir kalinya sebelum kutenggelamkan ke dalam kolam. Kutenggelamkan ia bersama perasaan dan kenangan-kenanganku tentangnya. Mungkin, selama ini aku dan Sara tak pernah terpisahkan. Tapi malam ini kuputuskan, aku akan mengucapkan selama tinggal untuk semua hal tentang aku dan dia. Selamat tinggal untuk selamanya.

One day I’ll see you again
We’ll run all those rivers my friend
I just want to say this to you
“I love all the things that you do”

26 Februari 2015
Side Story dari Alone Apart
Lirik lagu dari Forever Goodbye by The Mostar Diving Club

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s