An Ocean Apart

bench-central-park

You promised to stay in touch when we’re apart
You promised before I left that you’ll always love me.
Time goes by and people cry and everything goes too fast.

Aku kembali lagi ke taman itu. Sebuah taman kecil di daerah pinggiran kota, tempat aku dan dia sering menghabiskan waktu bersama. Dulu. Delapan tahun lalu. Sebelum aku pergi meninggalkannya.

Aku ingat, dulu dia berjanji padaku untuk menungguku selama aku pergi jauh. Dulu, dia bilang padaku kalau apapun yang terjadi, akulah yang akan selalu mengisi hatinya. Bahwa aku tidak perlu khawatir, sejauh apapun aku pergi, dia akan tetap menyayangiku seperti saat aku berada di sisinya.

Maka aku pun pergi. Bukan hal mudah meninggalkan seseorang yang telah lama kita cintai dan menemani hari-hari kita. Begitu juga yang kualami saat aku harus meninggalkan Aidan karena aku harus ikut ayahku yang ditugaskan ke luar negeri.

“Seberapa jauh Swiss dari sini?” tanya Aidan saat aku ceritakan padanya ke mana aku akan pergi.

“Aku tidak tahu. Tapi kata ayahku, itu negeri yang jauh sekali. Kami harus melalui perjalanan dengan pesawat selama beberapa belas jam,” jawabku.

Aidan hanya tersenyum tipis. “Kapan kau akan kembali?”

“Kata Ayah, ia ditugaskan selama lima tahun di sana.”

“Mengapa kau tidak tinggal di sini saja, bersama keluargamu yang lain. Paman, bibi, nenek, atau kakek, mungkin ada di antara mereka yang mau menampungmu selama orangtuamu bekerja di sana.”

“Aku pernah mengusulkan itu pada Ayah. Katanya aku lebih baik ikut. Supaya mendapat pengalaman baru. Ibuku juga sangat mendukung keputusan itu. Dia bilang, kami sekeluarga tak bisa terpisahkan.”

Aidan mengangguk-angguk. “Ya, dan terpaksa kitalah yang harus terpisah.”

“Maafkan aku Aidan. Aku janji, aku tidak akan melupakanmu, dan akan kembali secepat yang aku bisa,” ujarku menenangkan Aidan. Ia hanya tersenyum.

“Aku tahu, aku tahu. Aku juga akan begitu. Kita akan tetap bersama-sama meskipun dipisahkan oleh samudra,” katanya menenangkanku.

Sekali lagi, itu dulu. Saat usia kami masih lima belas tahun. Saat kami baru saja memakai seragam abu-abu untuk pertama kalinya. Saat semuanya terlihat begitu indah dan menyenangkan. Aku dan Aidan, satu sekolah, satu kelas, tidak terpisahkan.

You promised we’ll never break up over the telephone
You said our love was stronger than an ocean apart
Time goes by and people lie and everything goes too fast

Aku mengenal Aidan sejak hari pertama masa orientasi SMP. Kami berada dalam kelompok yang sama. Tidak ada kejadian romantis atau aneh-aneh saat kami menjalani masa orientasi. Kami berteman seperti layaknya pertemanan yang terjadi di antara murid-murid lainnya. Hanya saja, pertemanan itu terus berlanjut menjadi semakin akrab, semakin dekat, hingga menyebabkan kami selalu bersama-sama.

Di tahun terakhir masa SMP, aku dan Aidan sama-sama berusaha agar bisa diterima di SMA favorit di kota kami, dan kami berhasil. Rasanya seperti mendapat dua anugerah sekaligus. Pertama, aku diterima di sekolah favorit, kedua, aku bersama Aidan lagi.

Sayangnya, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Beberapa minggu setelah kami bersekolah, ayahku pulang ke rumah dan membawa kabar tentang tugasnya di Swiss. Aku hampir saja mengira itu hanya candaan ayahku atau sebuah mimpi buruk di tengah malam.

Kenyataannya, aku tetap harus pergi. Meninggalkan Aidan, meninggalkan kehidupan lamaku yang telah begitu lama kukenal, menuju kehidupan baru yang tidak kutahu seperti apa.

Aku menangis bermalam-malam sebulan sebelum keberangkatan kami. Setiap malam juga, Aidan berkunjung ke rumahku hanya untuk meyakinkan kalau dia tidak akan melupakanku.

Aku begitu mempercayai kata-katanya. Aku begitu yakin dia akan melakukannya untukku. Menungguku hingga aku pulang. Tapi sepertinya aku terlalu percaya pada kata anak-anak yang belum mengerti apa-apa. Atau mungkin aku yang terlalu berlebihan dalam mempercayai seseorang. karena kini, delapan tahun setelah aku pergi, Aidan meninggalkanku.

You promised not to lose faith in our love when I’m away
You promised so much to me but now you’ve left me
We go by and then we lie and all this time we wasted
Time goes by and people lie and everything goes too fast

wedding invitation 3

Di tanganku tergenggam sebuah undangan pernikahan berwarna merah muda dengan huruf emas bertuliskan nama laki-laki yang telah lama kucintai dan seorang perempuan yang tidak kukenal wajahnya. Undangan itu menunjukkan tanggal pernikahan sebulan yang lalu. Tepat di hari wisuda kuliahku. Saat kusadari hal itu, aku tidak tahu mana yang lebih kubenci. Aidan yang meninggalkanku, ayahku yang memaksaku untuk melanjutkan kuliah di Swiss, atau aku yang menurut saja oleh kata-kata ayahku. Yang jelas, semua itu tidak ada artinya lagi kini.

Semua kata-kata Aidan tentang merindukanku dan menungguku hingga aku kembali lagi hanyalah kebohongan. Tak ada yang mau menunggu hingga delapan tahun lamanya. Tak ada yang terlalu bodoh seperti aku dan percaya kalau ada orang yang mau menanti selama itu. Ternyata, selama ini, aku hidup dalam-dalam ilusi-ilusiku sendiri.

Aku memperhatikan undangan itu sekali lagi. melihat dengan lebih seksama bagaimana tinta timbul itu mengukir namanya dengan begitu indah. Sesaat aku tersenyum. Teringat bagaimana dia tersenyum saat duduk bersamaku di tepi kolam ini. Bahkan, setelah ditinggalkan, aku masih tidak bisa tidak tersenyum saat teringat senyumnya.

Aku menatap kolam dengan pandangan hampa. Bulan purnama di langit terpantul dengan sempurna di permukaan air yang gelap dan tenang. Dengan satu gerakan, aku melepaskan undangan itu dan membiarkannya meluncur ke dalam kolam. Merusak bayangan bulan purnama dengan gelombang-gelombang kecil yang diciptakannya.

Saat aku beranjak pergi, kulihat sepasang kekasih sedang duduk di bangku panjang di taman. Mereka terlihat berbicara dengan santai dan akrab. Untuk sejenak, aku melihat aku dan Aidan-lah yang berada di posisi mereka. Lalu aku segera sadar, itu hanya ilusi.

“Kau membuang apa ke dalam kolam tadi?” tiba-tiba terdengar suara laki-laki di sampingku. Aku kaget melihat kehadiran seseorang yang muncul tanpa kusadari. Tapi segera kuatur nafasku dan berkata dengan tenang, “Bukan apa-apa, hanya masa lalu.”

“Oh, kalau begitu, aku juga akan melakukan hal yang sama,” katanya. Tadinya aku berniat tidak mengacuhkannya. Namun, mataku menangkap kilatan sinar emas dari tangannya. Sebuah undangan pernikahan!

25 Februari 2015
Side story dari Alone Apart

Lirik lagu dari An Ocean Apart by Julie Delpy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s