Alone Apart (II)

bench-central-park

Read the first part here

Falling slowly, eyes that know me
And I can’t go back
Moods that take me and erase me
And I’m painted black

Darren sudah duduk manis di bangku yang biasa kududuki. Aku tersenyum sambil berjalan ke arahnya.

“Sudah lama?” tanyaku.

“Tidak lebih lama daripada yang kau pikirkan,” jawabnya sambil tersenyum. “Oh ya, ini binder yang waktu itu kau tinggalkan. Aku lupa mengembalikannya kemarin.”

Senyumku yang tadi mengembang, kini langsung pudar. Kenapa dia masih menyimpan binder itu?

“Kenapa? Ini binder kamu kan?” tanyanya lagi karena aku tetap berdiri di depannya tanpa menerima binder itu.

“Aku tidak ingin melihat binder itu lagi! Kau seharusnya membuangnya! Itu hanya membuatku aku sakit hati! Aku sudah selesai bermimpi! Aku tak mau punya mimpi lagi!” seruku dengan nada tinggi. Aku tak peduli kalau dia benar-benar menganggapku gila.

“Duduklah,” ujarnya lembut. Hanya itu. Tapi karena hanya itu yang dia katakan, aku menurut. Aku mengambil tempat tepat di sampingnya. Ingin rasanya aku menangis lagi, seperti yang sering aku lakukan.

“Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu. Aku membenci diriku sendiri. Aku benci hidupku. Tak ada mimpi-mimpiku yang terwujud. Rasanya memang sangat menyedihkan. Tapi sejak kemarin malam, ada hal yang membuatku berpikir lain,” kata lelaki itu. Terdengar dewasa dan menenangkan. Ingatkan aku untuk bertanya berapa umurnya nanti.

“Apa?” tanyaku.

“Kita masih punya waktu. Bukan untuk menangisinya. Tapi memulai lagi. Kulihat kau punya energi besar. Yang bisa membunuhmu atau membuatmu maju. Tinggal kau yang memilih.”

Aku merenungkan kata-katanya. Apakah selama ini aku telah menyia-nyiakan waktuku? Dengan menyesal, meratap, dan merutuk?

“Kenapa tak kau sebutkan saja mimpi-mimpimu kepadaku. Aku yakin kau tak benar-benar melupakannya,” katanya lagi. Aku menatapnya. Tepat ke matanya yang berwarna coklat. Anak-anak rambutnya di dahi tertiup angin.

“Mimpiku banyak. Foto-foto di binder itu hanya sebagian saja. Tapi, kalau saja kau mengizinkan, aku ingin…” aku terpaksa mengguantungkan kalimatku. Aku takut ini terlalu berlebihan.

“Kau ingin apa?” tanyanya.

“Bolehkah aku ke tempatmu besok. Besok aku tidak bekerja. Bolehkah?” tanyaku hati-hati. Ah, harusnya kukatakan kalau aku ingin ke sana ditemani dia.

Dia tertawa. “Kenapa kau terlihat begitu takut memintanya? Tentu saja boleh! Besok aku akan menemanimu. Kita bertemu di taman ini saja, pukul 9 pagi, bagaimana?” tawarnya.

Aku mengangguk. Lalu teringat hal yang ingin sekali aku tanyakan. “Eh, kalau boleh tahu, umurmu berapa?”

Dia mengernyit, “Apa itu penting untukmu?”

“Eh…” tiba-tiba aku merasa gagu. Benarkah itu penting untukku? Aku tidak tahu. Tapi apa salahnya kalau aku tahu.

“Umurku 27. Sudah tua,” jawabnya. Oke, 27 tahun. Aku tersenyum.

“Kenapa tersenyum?”

“Aku sedang menimbang-nimbang, apakah sebaiknya aku memanggilmu kakak atau apa.”

Dia tertawa, “Panggil saja aku Darren. Sayangnya, suaraku tidak sebagus Darren Hayes.”

Kurasakan mataku kembali berbinar. Dia tahu penyanyi kesukaanku juga!

“Kau ini aneh Reina. Kenapa tiba-tiba diam dan hanya senyum-senyum seperti itu?”

“Oh, tidak. Aku juga suka dengan Darren Hayes. Kau juga suka ya?” tanyaku dengan wajah masih berbinar-binar.
________________________________________

“Yah, lumayan suka. Savage Garden cukup tenar saat aku remaja,” kataku sambil tersenyum ke arahnya.

Di awal, dia marah-marah lagi karena aku menyebut-nyebut bindernya. Tapi dengan cepat, wajahnya berubah jadi begitu bahagia saat aku sebut Darren Hayes. Atau malah setelah aku sebut berapa umurku. Apakah itu penting baginya? Aku sendiri malas mengingat umurku yang sudah tidak muda lagi.

Pukul sembilan masih lima belas menit lagi. Tapi aku kembali tidak tahu apa yang harus kukatakan. Dia masih terlihat bahagia. Entah karena apa.

“Kamu suka Darren Hayes?” tanyaku akhirnya. Dia mengangguk cepat.

“Banget! Suaranya bagus. Lagu I Knew I Loved You itu lagu favoritku sepanjang masa.”

Maybe it’s intuition, but some things you just don’t question, like in your eyes I see my future in an instant, and there it goes, I think I found my bestfriend,” aku bersenandung pelan, menyanyikan lagu yang dimaksud.

I know that it might sound more than a little crazy, but I believe….” Terdengar suara Reina melanjutkan. Kami pun menyanyikan lagu itu bersama-sama.
________________________________________

You have suffered enough
And warred with yourself
It’s time that you won

Aneh sekali menyadari aku begitu gugup saat berjalan ke taman pagi ini. Sejak tadi pagi aku sudah sibuk mematut-matut diri di depan cermin, mencari baju yang pantas untuk kukenakan pada pagi yang istimewa ini.

Ah, mengapa juga aku harus menganggapnya istimewa? Apakah itu karena akhirnya aku bisa ke perpustakaan lagi. Atau karena akan pergi bersama lelaki itu. Hei, kenapa aku jadi ingin tersenyum mengingat dirinya. Syukurlah usianya 27 tahun. Entah kenapa, aku tidak tahu di bagian mana pentingnya. Tapi umur kadang begitu berarti untukku. Dan aku lega usianya lebih tua dariku. Ah, kenapa aku jadi memikirkan dia terus!

Taman terlihat begitu berbeda di pagi hari. Sinar matahari seperti tumpah ruah di seluruh sudut. Bunga-bunga yang biasanya kulihat berwarna kelabu, ternyata berwarna kuning dan jingga. Air mancur yang terpercik menimbulkan efek pelangi tipis di atas kolam.

Dua bangku taman yang terletak sejajar ditempati oleh ibu-ibu yang sedang menyuapi makan anaknya. Sedangkan anak yang disuapi berlari-lari dengan lucunya di taman yang kecil ini. Aku tersenyum melihat semua itu. Betapa indahnya.

“Rei!” Itu suara Darren. Dia melihatku dengan pandangan menyelidik.

“Ada apa?” tanyaku.

“Sepertinya ada yang berbeda padamu,” katanya sambil memperhatikanku dari atas hingga bawah. Oh, apakah mungkin dia sadar kalau aku mengoleskan lipstick tipis-tipis ke bibirku? Atau mungkin bedakku terlalu tebal? Ya ampun, pasti dia akan menertawakanku!

“Oh, aku tahu. Baru kali ini aku melihatmu pakai rok. Tampak lebih cantik. Juga dengan baju berbahan seperti ini. Biasanya kau kan memakai celana jeans dan kemeja, atau kaos polo.”

Aku tercenung sejenak mendengar pernyataannya. Coba kalau pakai rok, pasti lebih cantik. Kalimat itu terngiang kembali di telingaku. Aku tersenyum tipis. Menghalau masa lalu yang hendak mampir.
________________________________________

“Apakah aku mengganggumu dengan ini?” tanyanya. Sepertinya Reina masih ragu aku bersedia menemaninya ke perpustakaan, mengingat aku pernah mengatakan kalau aku bosan dengan tumpukan buku dan debu.

“Tidak kok. Hari ini aku libur. Jadi kau bisa menggangguku sepuas hati,” kataku sambil tersenyum. Dia tertawa. Tuh kan, wajahnya manis sekali kalau sedang tertawa seperti itu. Seandainya dia lebih sering tertawa, daripada marah-marah atau menangis.

Kami telah sampai di perpustakaan. Beberapa teman kerjaku melirikku dengan pandangan menggoda. Uh, pasti mereka mengira Rei pacarku. Padahal, aku sudah mengatakan kalau dia hanya teman.

“Wah, kau ini parah sekali Darren! Masa punya pacar tidak bilang-bilang sih? Kau kenal dia di mana?” tanya Gagah, teman dekatku, sesama pekerja di perpustakaan. Syukurlah Reina tidak mendengar. Ia sudah berlari ke rak-rak buku, entah di mana.

“Sudah kubilang, dia bukan pacarku. Hanya teman. Dia jurnalis lho!” seruku mengalihkan topik pembicaraan.

“Masa sih? Keliatannya masih anak-anak,” ujar Gagah tak percaya. Aku melengos. Dia menganggap Rei seperti anak-anak, karena melihat gadis itu berlari menaiki tangga dengan wajah antusias. Sepanjang perjalanan masuk ke perpustakaan pun begitu. Yah, gadis itu kadang memang sedikit norak sih.

“Dia hanya jarang ke perpustakaan. Makanya seperti itu.” Gagah tertawa mendengar jawabanku.

“Baguslah. Setidaknya itu membuatmu bersyukur, kalau kau bisa setiap hari berada di dalamnya,” kata Gagah, masih sambil menyengir. Lalu menepuk pundakku dan kembali bekerja. Aku hanya tertawa lalu melanjutkan langkah. Ah, ke rak mana gadis itu menghilang?
________________________________________

Ada terlalu banyak buku dan begitu sedikit waktu. Itu yang aku rasakan saat melihat buku-buku berjajar rapi di rak perpustakaan. Betapa menyenangkannya menjadi Darren. Bisa berlama-lama berada bersama buku-buku ini. Kalau aku jadi dia, buku-buku seperti apa yang sering aku pinjam?

Aku sempat ragu apakah dia akan menyusulku atau tidak. Tapi pikiran itu segera hilang ketika aku menemukan rak buku favoritku. Buku-buku sastra!
________________________________________

Aku tidak akan menganggunya. Dia terlihat begitu bahagia bersama buku-buku itu. Andai aku dapat mencuri perasaan bahagianya sedikit saja, agar aku juga bisa tersenyum lebar ketika menghampiri rak-rak buku.

Dia menyadari kehadiranku. Aku mendekatinya dengan ragu. Antara perasaan takut mengganggu namun penasaran dengan buku apa yang membuatnya bisa tersenyum sebahagia itu.
________________________________________

“Apakah nanti malam kau akan ke taman lagi?” tanya Darren saat kami menyudahi kunjungan ke perpustakaan yang sangat menyenangkan itu.

“Buat apa?” tanyaku bingung. Taman itu tempat aku melenyapkan rasa sedih. Saat ini aku bahagia sekali, jadi tak ingin ke tempat itu lagi.

“Ah, tidak. Kupikir kau akan tetap ke sana,” jawabnya sambil menggaruk kepala. Aku mengadah, menatap bola matanya yang berwarna coklat.

“Terima kasih banyak. Aku senang sekali bisa ke perpustakaan itu. Seandainya aku punya banyak waktu, mungkin aku akan sering-sering ke sana.”

Dia tersenyum. Manis sekali kelihatannya. Sebenarnya aku tidak ingin cepat-cepat berpisah dengannya. Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Sudah sore, mungkin lebih baik aku segera pulang.

“Aku pulang dulu ya. Sekali lagi, terima kasih!” kataku. Dia mengangguk lagi. Tidak bicara sama sekali. Aku pun pergi, meninggalkannya tanpa menoleh lagi.
________________________________________

Sebenarnya aku masih ingin bersamanya. Tapi aku tak punya alasan apa-apa untuk menahannya agar tidak pulang. Yah, mungkin lebih baik pulang saja. Dan meskipun nanti malam dia tidak akan datang ke taman itu, aku akan tetap ke sana. Entahlah, rasanya itu sudah seperti sebuah kebiasaan yang sulit ditinggalkan.
________________________________________

Senja itu, aku tiba-tiba teringat perkataan Darren tentang menulis kembali mimpi-mimpiku. Aneh rasanya, tapi entah kenapa, saat ini aku merasa jauh lebih baik. Mungkin ada baiknya, aku kembali menyusun mimpi-mimpi itu dan melihat hidupku dari sudut pandang yang lebih positif.

Aku mencari binderku yang berisi visualisasi mimpi-mimpiku. Tapi tidak ada. Ya ampun, aku lupa, binder itu tentu saja masih disimpan Darren. Hmm, mungkinkah nanti malam dia akan tetap ke taman? Tadi dia menanyakan hal itu kepadaku. Apakah sebaiknya aku ke taman saja? Kalaupun dia tidak ke sana, mungkin aku bisa menulis mimpi-mimpiku di taman itu.
________________________________________

Thank you for being so patient with me
I’ve been weaker than I ought to be
Despair and jealousy blinded my mind
And I couldn’t see how you’re trying for me

Aku tetap pergi ke taman, membawa bindernya yang belum kukembalikan. Lebih tepatnya, dia belum mau menerimanya. Aku juga sudah menyatukan kembali foto gunung yang ia robek. Mungkin, besok dia mau datang ke taman ini lagi. Yah, setidaknya sekedar mengambil bindernya yang masih ada padaku.

Aku sedikit terpana saat sampai di taman itu, dan melihat bangku yang biasa diduduki gadis itu sudah ditempati oleh seorang pemuda. Tak ada yang pernah ke taman ini sebelumnya, kecuali kami berdua. Apakah mungkin pemuda itu adalah teman Reina?

Aku melihat ke arahnya sekilas. Dia terus menatap sebuah kartu undangan yang berada di genggaman tangannya. Aku duduk di bangku favoritku. Melihat pemuda itu sekali lagi lalu mengabaikannya. Aku belum tahu apa yang ingin aku lakukan di sini, selain membuka-buka binder Reina dan berharap tiba-tiba ia datang.
________________________________________

Aku sempat kaget sekali saat melihat seorang perempuan duduk di pinggiran kolam air pancur. Biasanya, tidak ada siapa-siapa di taman ini pada malam hari, kecuali aku dan Darren. Aku jadi curiga, jangan-jangan perempuan itu temannya Darren. Jangan-jangan, mereka janjian di taman ini.

Aku menghela napas. Mungkin aku sudah berharap terlalu jauh pada Darren. Aku berjalan terus, mencari bangku favoritku, yang ternyata sudah diduduki orang. Hei, kenapa taman ini tiba-tiba ramai? Ada seorang pemuda berwajah murung duduk di sana, dan di bangku sebelahnya, ada Darren. Dia benar-benar tetap ke taman ini rupanya.

“Hei,” sapaku.

“Rei!” seru Darren memanggilku. “Kupikir kau tidak akan datang ke sini,” katanya. Wajahnya terlihat begitu senang melihatku. Di pangkuannya, terdapat binderku beserta foto-foto yang kusimpan di sana.

“Kenapa taman ini tiba-tiba ramai? Aku melihat seorang perempuan di pinggir kolam dan pemuda di bangku favoritku,” ujarku sambil mengambil tempat duduk di sampingnya. Kali ini lebih dekat dari yang biasanya.

“Kupikir pemuda itu temanmu,” jawab Darren. Aku menggeleng.

“Kenapa kau ke sini?” tanyanya.

“Aku ingat dengan pertanyaanmu waktu itu. tentang menuliskan lagi mimpi-mimpiku,” kataku.

“Dan kau butuh ini kan?” potongnya sambil menunjuk binderku. Aku tertawa dan meraihnya. Foto gunung yang ingin kudaki sudah ia satukan kembali.

“Setelah bertemu denganmu, aku percaya, mimpi itu ada bukan untuk dilepaskan, tapi untuk diwujudkan. Jangan tinggalkan bindermu lagi ya?” katanya dengan suara yang lembut. Membuat aku terenyuh sesaat.

“Bagaimana kalau kita bersama-sama saja menulis mimpi kita?” ajakku. Darren tertawa.

“Ah, kau saja yang menulis. Nanti aku bantu mewujudkannya.”

“Lho, katamu kita harus mewujudkan mimpi, tapi kau menuliskannya saja tidak mau!” protesku.

Pemuda yang duduk di bangku seberang menoleh ke arah kami. mungkin suaraku terlalu kencang, tapi aku tak peduli. Darren tertawa sambil meletakkan telunjuknya di bibir, tanda agar aku tidak terlalu ribut.

“Aku pikir, saat ini aku hanya punya satu mimpi. Mungkin, jika mimpi itu sudah terwujud, aku baru bisa merencanakan mimpi lainnya.”

“Apa?” tanyaku penasaran.

“Kuberi tahu nanti, tidak sekarang,” katanya penuh rahasia. Aku merengut.
________________________________________

Aku tidak akan memberi tahunya sekarang tentang mimpiku. Mimpi untuk memiliki kartu undangan pernikahan dengan namaku dan namanya, serta potongan lirik dari lagu Savage Garden, I Knew I Loved You. Lagu favorit kami.

There just no rhyme or reason, only this sense of completion
And in your eyes, I see the missing pieces I’m searching for
I think I found my way home…

________________________________________
22 Agustus 2013

Lirik lagu di setiap awal chapter dari OST Once: Falling Slowly dan Alone Apart, dinyanyikan oleh Mark Hansard dan Marketa Iglova.

Dan ya, tentu saja, ada lirik I Knew I Loved You-nya Savage Garden 🙂

Cerita ini memiliki side story, Forever Goodbye dan An Ocean Apart

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s