Alone Apart (I)

bench-central-park
How many times have I been here
How many times I’ve been lost
And how many times I’d be drown in the sea
If you weren’t there to rescue me

Aku melihatnya hampir setiap malam. Di jam yang sama, di tempat yang sama. Perempuan itu, selalu duduk tepat pukul setengah sembilan malam di sebuah bangku panjang, di taman kecil pinggir kota.

Jangan heran kenapa aku selalu melihatnya. Aku bekerja di perpustakaan daerah yang letaknya tidak jauh dari taman itu. Sejujurnya, sama seperti dia, aku juga melakukan hal serupa. Duduk diam di bangku taman –tidak jauh dari bangku yang dia duduki- di waktu yang sama pula.

Pekerjaanku seharusnya sudah selesai pukul enam sore. Tapi aku sering mengambil lembur, hingga akhirnya pulang larut malam. Lalu aku menemukan gadis itu. Hampir setiap hari. Sejak saat itu, meski pekerjaanku sudah selesai di saat senja, aku sengaja lebih lama tinggal di perpustakaan. Menantinya mengunjungi taman.

Gadis itu. Aku bingung bagaimana menggambarkannya. Sepertinya kata ‘aneh’ atau ‘misterius’ tidak terlalu tepat untuknya. Dia selalu datang sendirian dengan wajah murung. Gaya berpakaiannya selalu sama. Celana panjang, kemeja berwarna polos, rambut sebahu yang dikuncir serampangan, dan tas ransel yang terlihat sudah terlalu sering dipakai. Yang dilakukannya pun selalu sama saja. Datang, duduk di kursi yang itu-itu saja, menatap langit malam dengan pandangan kosong, lalu membuka bindernya. Melihat foto-foto yang ia simpan di sana. Tapi yang paling aneh, ia tak pernah sedikitpun menggubris kehadiranku yang selalu duduk tak jauh darinya. Kadang ia menoleh sebentar untuk tersenyum singkat, tapi lebih sering tidak sama sekali.

Aku bukan sedang berusaha menguntitnya atau apa. Awalnya aku memang penasaran dengan apa yang seorang gadis lakukan malam-malam sendirian di taman. Tapi, karena dia tak pernah mengacuhkanku, dan aku pun tak punya keberanian untuk sekedar menyapanya, maka aku malah mengikuti kebiasaannya. Duduk diam sambil menatap langit malam. Sayang, aku tak punya foto untuk kupandangi.

Akhirnya, duduk di taman setiap pukul setengah sembilan menjadi kebiasaanku juga. Aku selalu melamun, dan baru berhenti, jika dia beranjak pulang. Dia selalu pulang pukul sembilan, meski beberapa kali lebih lama dari itu. Aku selalu penasaran ke mana dia pulang, dan kenapa dia seberani itu. Maksudku, daerah pinggir kota ini memang cukup aman. Tapi tetap saja, riskan untuk seorang perempuan seperti dia.

Ah, kenapa aku selalu membicarakan gadis itu. Gadis yang namanya pun aku tak tahu. padahal sudah dua minggu lebih kami selalu duduk bersebrangan. Lebih baik aku kembali melamun tentang diriku.

Aku, pemuda berusia 27 tahun yang terjebak pada kehidupan yang tak kuinginkan. Dulu, dulu sekali, sepuluh tahun yang lalu, aku menjalani hidup dengan begitu bahagia dan optimis. Aku punya daftar mimpi yang ingin aku capai dalam beberapa rentang waktu. Setahun, lima tahun, sepuluh tahun, hingga yang terjauh 20 tahun. Aku merasa masa depanku begitu cerah dan terencana. Lalu semuanya berubah dalam semalam.

Toko elektronik milik ayahku terbakar. Lebih tepatnya, pemukiman kami kebakaran. Toko dan rumah kami hangus dalam semalam. Semuanya lenyap, hanya menyisakan abu dan serpihan-serpihan gosong. Memulai kembali dari awal tentu saja tidak mudah. Ayahku yang sudah tua, bertambah parah sakitnya karena merasa frustasi dengan musibah yang menimpa kami. Bukannya berhasil membangun toko baru, kami malah kelimpungan mengobati penyakit ayah. Itu terjadi saat aku baru saja menyelesaikan tahun pertama kuliahku.

Sebagai anak pertama, aku merasa harus bertanggungjawab atas semua kekacauan ini. Kutinggalkan kuliahku tanpa pertimbangan panjang, dan pontang-panting mencari pekerjaan. Bekerja keras siang dan malam, untuk menghidupi ayah, ibu, dan adik perempuanku satu-satunya. Namun, sekeras apapun aku bekerja, aku gagal menyelamatkan ayah. Beliau meninggal, tepat seminggu sebelum usiaku genap 20 tahun.

Merasa tak mungkin lagi kembali kuliah, aku pun memutuskan untuk terus bekerja. Adikku masih kelas 3 SD kala itu. Masih butuh banyak biaya agar ia dapat pendidikan yang memadai. Pengalaman setahun kuliah tidak memberi banyak harapan. Hingga akhirnya, aku ditawarkan bekerja sebagai pengurus administrasi di perpustakaan daerah. Setiap hari mendata dan mengatur buku. Berkawan dengan debu, terbiasa dengan sepi. Ah, memang siapa pula yang boleh ribut-ribut di perpustakaan.

Dua tahun aku bekerja di perpustakaan. Selalu pulang dalam keadaan letih dan lapar. Lalu gadis itu datang, memberiku kebiasaan baru. Iya, melamun, seperti yang aku lakukan sekarang. Dan sebenarnya aku benci melamun, membuatku ingat kepada banyak hal. Terutama kepada mimpiku yang musnah satu-satu.

Aku dulu ingin sekali jadi jurnalis. Mengunjungi banyak tempat, bertemu dengan banyak orang, dan yang paling penting, memberi informasi kepada dunia. Ah, di mataku profesi jurnalis itu heroik sekali. Tapi, kini tak ada lagi harapan untuk menjadi jurnalis. Hidupku kini hanya sebatas pada rak buku dan debu.

Ah, selain membuatku melamun, taman ini dan gadis itu membuatku semakin merasa sepi. Entah bagaimana cara kerjanya, tapi sejak melihatnya, aku merasa hidupku begitu sunyi. Dan menyedihkan. Dan semakin sering aku merasa begitu, semakin bencilah aku pada diriku sendiri. Entahlah!

Aku putuskan untuk menoleh kembali ke arah gadis itu. Dia masih ada di sana, dengan binder penuh foto-foto di pangkuannya. Tapi matanya jauh menerawang ke langit. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.

Aku juga ikut melihat langit yang kosong itu. Tak ada bintang, tak ada bulan. Mungkin sedang mendung tertutup awan. Aku kembali meliriknya. Dia menangis. Gadis itu menangis. Aku bisa dengan jelas melihat lelehan air mata yang mengalir di wajahnya.

Apa yang harus kulakukan? Apakah kali ini –akhirnya- aku menghampirinya? Mungkin saja ia butuh bantuan atau mungkin hanya sekedar sapu tangan.

Aku mendengar suara benda jatuh. Itu bindernya. Dia membuangnya ke bawah dan mengangkat kakinya. Berlutut, terisak sambil menutupi wajahnya. Aku tak mungkin tetap duduk di sini.

“Mungkin kamu butuh ini,” ujarku lirih sambil berdiri menyodorkan sapu tanganku. “Tenang saja, yang ini bersih. Aku selalu membawa dua, untuk berjaga-jaga,” lanjutku cepat, sebelum ia menolak. Aku juga tak lupa menunjukkan sapu tangan yang telah kupakai dari saku celanaku.

Dia menatapku dengan wajah penuh tanda tanya.
“Pernahkah kau merasa begitu buruk? Pernahkah kau merasa mimpi-mimpimu menjauhimu dengan begitu tega? Pernahkah kau merasa dirimu sama sekali tak ada artinya?” dia malah memberondongku dengan pertanyaan. Air mata itu masih ada di pipinya. Aku terpaku.

“Aku benci diriku sendiri. aku tidak bisa melakukan apa-apa. Mimpi-mimpiku lenyap satu-satu. Aku benci diriku sendiri!” serunya dengan nada marah. Sapu tanganku bahkan belum dilihatnya. Ia malah melihat mataku, yang sungguh kikuk ditatap seperti itu.

“Aku tidak tahu.” Jawaban bodoh! rutukku dalam hati. Seharusnya aku bisa mengatakan hal-hal yang lebih manis.

Dia masih menatapku. Kali ini sambil menghapus air matanya. “Maaf, tadi aku terbawa emosi. Maafkan aku, bahkan kita belum saling kenal. Tapi aku malah menangis di depanmu seperti ini. Ah, aku memang gadis bodoh. Kau yang tak mengenalku pun mungkin mengetahuinya, iya kan?” tanyanya.

“Tidak. malah aku melihat kau gadis yang pintar dan memiliki kehidupan yang baik. Yah, setidaknya, jauh lebih baik daripada aku,” jawabku. Dia menggeleng cepat.

“Kau salah. Kehidupanku buruk. Aku kehilangan mimpi-mimpiku. Itu bagian terburuknya,” kata gadis itu, kali ini dengan nada lebih tenang. Dia lalu beranjak dari bangku.

“Sudah pukul sembilan, aku harus pulang,” katanya. Aku kembali menyodorkan sapu tanganku.

“Kau mungkin butuh ini. Kalau-kalau kau menangis di jalan pulang,” kataku sedikit bercanda. Dia tersenyum, dan aku baru sadar senyumnya manis sekali.

“Terimakasih. Tapi aku tidak ingin mengotori sapu tanganmu dengan air mataku.” Lalu dia pergi. Meninggalkan aku, sapu tangan, dan ya ampun, bindernya juga tertinggal. Bersama foto-foto yang berserakan.

Aku memanggilnya dan mengatakan kalau bindernya tertinggal. Tapi dia tak mendengar atau mungkin tak mau mendengar. Karena dia berjalan terus tanpa menengok ke belakang. Akhirnya aku putuskan untuk membereskan foto-foto itu. Beberapa foto dirobek tepat di tengah. Sedangkan yang lainnya masih utuh. Aku membawa binder itu pulang. Di halaman pertama, kutemukan sebuah nama tertulis disana. Reina.
________________________________________

We’re sailing, we’re sailing every night
We’re drifting, we’re drifting alone apart
Not to show that we’re in need
But I’d heal your wounds if you bleed

Lelaki itu, selalu ada setiap aku menghabiskan setengah jam setiap malam di bangku taman sendirian. Tidak benar-benar sendirian memang, karena selalu ada dia. Aku tidak tahu dia siapa dan mengapa dia duduk sendirian juga sepertiku. Tapi, aku memang tidak mau tahu.

Malam ini, lelaki itu kembali duduk di bangku yang sama. Ini sudah malam ke tujuh belas, sejak aku pertama kali menemukan taman kecil yang sunyi dan menenangkan. Dia selalu duduk sendirian dalam diam. Dia selalu ada sebelum aku sampai di sana, dan dia selalu pergi setelah aku pergi.

Pada awalnya, aku tidak mengacuhkan dirinya. Buat apa. Tapi, berhari-hari kemudian, dia tetap duduk di sana, aku pun mulai curiga. Namun terlalu enggan untuk sekedar menyapa. Toh, pada akhirnya, aku kembali mengabaikannya. Buktinya, sudah dua minggu lebih kami duduk di taman yang sama, di waktu yang sama, dia tak pernah menggangguku. Jadi lebih baik, aku tak mengganggunya juga.

Malam ini aku kesal sekali. Aku mendapatkan kabar dari temanku, kalau dia akan mendaki gunung yang selama ini aku ingin daki. Hanya saja, aku belum memiliki kesempatan untuk mendakinya.

Jujur saja, aku agak kesal dan iri saat dia meneleponku, sesaat sebelum pendakian. Saat aku bertanya mengapa dia tidak mengajakku, dia menjawab, “Habis selama ini kamu sibuk terus dengan liputanmu. Kamu kan jurnalis, aku tidak berani ganggu,” katanya waktu itu, yang membuatku nyaris melempar handphone. Jurnalis sialan!

Ah, maaf jika aku terlalu emosi. Aku memang begini. Kadang, aku begitu marah tanpa bisa kutahan lagi. Kalau sudah begini pasti aku akan melarikan diri, menjauh dari keramaian agar aku tak menyakiti siapapun. Lalu berakhir dengan menangis seorang diri.

Itulah sebabnya aku menyukai taman ini. Taman ini sangat sunyi di malam hari. Aku bebas menangis, bebas merutuk-rutuk diri sendiri tanpa ada yang peduli. Bahkan lelaki itu sekalipun. Baru malam ini dia peduli. Mengejutkan!

Mungkin karena bunyi binder jatuh atau mungkin karena suara tangisanku yang mengganggu indra pendengarannya. Yang jelas, ini pertama kalinya dia menghampiriku. Mengulurkan sapu tangan biru muda yang masih baru.

Jeremy di film My Blueberry Nights

Jeremy di film My Blueberry Nights

Aku mendongak ke arahnya, dan kutemukan sepasang mata cokelat di sana. Ah, baru kusadari ternyata dia lumayan tampan juga. Wajahnya sedikit mengingatkanku pada Jude Law saat menjadi Jeremy di film My Blueberry Nights. Rambut ikal dengan potongan agak gondrong dan wajah bernuansa sendu.

Tapi aku masih terlalu marah pada kenyataan sahabatku mendaki gunung, sedangkan aku tidak. Jadi aku tidak dapat menahan emosiku, dan akhirnya malah marah-marah kepadanya. Dia terlihat benar-benar bingung saat itu. Syukurlah aku segera sadar dan meminta maaf kepadanya.

“Hei, bindermu ketinggalan!” teriaknya saat aku berlari meninggalkan taman. Jarum jam menyuruhku untuk segera pulang. Meskipun sebenarnya aku tidak perlu terburu-buru. Aku hanya ingin berlari agar kesedihanku tak mengikutiku lagi.

Binder itu memang sengaja kutinggalkan. Kuharap dia tidak peduli dengan binder itu dan meninggalkannya saja di sana. Membuangnya pun tak apa. Aku tak ingin melihat binder itu lagi. Itu sama saja dengan melihat mimpi-mimpi yang tak mungkin aku miliki.
________________________________________

Di rumah, aku kembali mengamati foto-foto yang tersimpan di binder itu. Ada begitu banyak foto sebenarnya. Namun ada dua foto yang ia robek hingga terpisah menjadi dua. Dua-duanya bergambar gunung. Yang satu bergambar gunung dengan area sawah dan satu lagi gunung dengan danau.

Masih banyak foto lain. Kebanyakan bernuansa luar negeri. Seperti London Eye, Sungai Thames, pegunungan Alpen, kastil-kastil, lembah dan perbukitan hijau. Sisanya foto-foto gadis itu dengan teman-temannya.

Dilihat-lihat, gadis itu manis juga. Kulitnya sawo matang dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya. Matanya terlihat lebih sipit jika sedang tersenyum seperti itu, yang membuat wajahnya semakin manis. Aku jadi ikut tersenyum melihat foto-fotonya. Dia tampak begitu bahagia di sana. Sayang, aku selalu bertemu dengannya dalam kondisi yang murung dan sedih.

Tiba-tiba terngiang kembali di telingaku perkataannya waktu itu. “Mimpiku lenyap satu-satu. Aku benci diriku sendiri!” Apa mungkin foto-foto ini adalah visualisasi mimpi-mimpinya? Lalu foto gunung yang dirobek itu, apakah menandakan kalau ia gagal meraihnya? Aku juga suka merobek kertas-kertas catatan kalau aku merasa gagal membuat sebuah tulisan.

Aku jadi penasaran dengan gadis itu. Siapa dia sebenarnya? Apa pekerjaannya? Mengapa setiap malam selalu datang ke taman dengan wajah muram? Besok aku harus ke taman itu lagi dan mengembalikan binder ini. Sekaligus menanyakan semua pertanyaan yang sekarang masih tersimpan di otakku. Satu hal lagi, sejak malam itu, aku lupa dengan kekecewaan dan penyesalanku akan hidup.
________________________________________

Take this sinking boat and point it home
We’ve still got time
Raise your hopeful voice you have a choice
You’ll make it now

Aku tidak tahu kenapa aku selalu ingin kembali ke taman ini. Perasaanku sudah mulai membaik dibanding kemarin malam. Aku bisa berpikir sedikit lebih jernih dan sejenak melupakan cerita temanku. Mungkin karena aku telah membuang binder itu. Ah, aku jadi teringat binder itu lagi. Apakah laki-laki itu telah membuangnya? Mudah-mudahan saja iya. Aku akan sangat berterimakasih padanya kalau ia benar-benar sudah membuangnya. Omong-omong, aku juga akan bertanya siapa namanya.

Saat aku sampai di taman, lelaki itu belum ada di bangku yang selalu ia duduki. Padahal, biasanya ia selalu datang lebih dulu dibanding aku. Mungkinkah ia akan datang? Ah, kenapa aku jadi khawatir ia tidak datang ya? Padahal biasanya aku suka berharap ia tidak muncul, agar aku bisa benar-benar sendirian duduk di taman itu. Lalu, kenapa sekarang aku sangat ingin dia datang?

Sambil menunggunya, aku kembali mengingat mimpiku. Entahlah, dulu sewaktu aku SMP dan SMA aku punya banyak sekali mimpi. Aku membuat daftarnya di buku harianku. Dulu, aku begitu yakin akan mencapai mimpi-mimpi itu. Sayangnya, setelah lulus SMA, dan lanjut kuliah, bukannya terwujud, mimpi itu musnah satu-satu.

“Hei, apa kabar?” suara itu hadir mengagetkanku. Aku menengadah. Lelaki itu sudah berdiri di depanku sambil membawa dua gelas kopi.
“Baik,” jawabku. Hanya itu. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Jadi aku tersenyum saja.

“Oh ya, aku belikan ini untukmu. Mau kan?” tanyanya. Aku menatap gelas kopi dari bahan kertas itu dengan pandangan ragu. Yah, siapa tahu dia memberiku obat tidur atau semacamnya kan?

“Aku tidak menambahkan apa-apa di kopi ini. Percayalah,” ujarnya seolah menerka kewaspadaanku. Aku tersenyum lagi dan menerima gelas itu.

“Boleh aku duduk di sebelahmu?” tanyanya lagi dan kujawab dengan anggukan. Kopi itu hangat, tapi ada sensasi dinginnya. Persis seperti yang aku suka. Eh, bagaimana dia tahu?

“Aku suka kopi hangat dengan sensasi dingin. Rasanya beda. Aku harap kamu suka juga.”

“Ini memang kopi favoritku,” sahutku bersemangat. Dia tersenyum lebar.

“Oh ya, perkenalkan. Namaku Reina. Kamu?” Ada perasaan yang aneh saat aku mengucap kata ‘kamu’ kepada lelaki itu. Aneh saja. Dan entah kenapa, tiba-tiba aku jadi penasaran berapa usianya. Sepertinya sih lebih tua dari umurku.

“Darren. Senang akhirnya bisa berkenalan denganmu. Aku bekerja di perpustakaan dekat sini. Jadi kalau pulang, suka mampir dulu ke taman,” ujarnya bercerita tanpa diminta. ________________________________________

Mata gadis itu terbelalak saat aku menyebutkan pekerjaanku.
“Apa? Kamu bekerja di perpustakaan? Pustakawan ya? Wah, keren sekali! Ah, pasti seru banget ya! Setiap hari bisa ketemu sama buku-buku! Ya ampun, udah berapa lama aku nggak ke perpus?”

Dia berceloteh dengan hebohnya. Dan dia tersenyum. Senyum bahagia seperti yang kulihat di foto-fotonya. Ternyata melihat aslinya jauh lebih manis. Tapi tunggu, ini pertama kalinya aku mendengar ada orang yang mengagumi pekerjaan di perpustakaan.

“Bukan. Bukan pustakawan. Yah, hanya mengatur peletakkan buku-buku, memberi kode, memeriksa buku-buku yang rusak. Hanya seperti itu. Aku bahkan tidak tamat kuliah,” sahutku cepat, berharap dia tidak terlalu kecewa.

Aneh, selama ini jarang sekali aku bisa cepat terbuka dengan seseorang yang baru kukenal. Biasanya aku hanya mau bercerita banyak kepada orang yang benar-benar sudah kukenal. Itu bahkan memerlukan waktu bertahun-tahun. Tapi, kenapa dengan gadis ini, aku cepat sekali membeberkan kehidupanku ya?

“Ah, apapun itu, pasti menyenangkan bisa berada bersama buku-buku dalam waktu lama. Seandainya saja aku bisa seperti itu,” kata Reina. Kali ini tidak seheboh tadi, malah terdengar agak lirih.

“Apa hebatnya? Setiap hari hanya berkutat dengan buku dan debu, berteman dengan sunyi dan sepi. Kau tahu sendirilah, mana pernah perpustakaan ramai seperti di mall. Kalaupun ada banyak orang, tetap saja tidak bersuara,” keluhku.

Gadis itu malah tertawa. Gelas kopi di tangannya berguncang pelan. “Ya iyalah! Namanya juga perpustakaan! Aku pernah punya keinginan untuk jadi pustakawan. Tapi rasanya tidak mungkin. Aku kan tidak memiliki ilmu keperpustakaan.”

“Memangnya waktu kuliah, kamu ambil jurusan apa?” tanyaku. Mendengar kata kuliah, membuatku teringat kembali akan pendidikanku yang kandas di tengah jalan.

“Komunikasi. Jurnalisme. Dan sekarang terjebak menjadi jurnalis,” jawabnya dengan wajah yang kembali muram. Namun, kini malah wajahku yang berbinar.

“Jadi kamu seorang jurnalis? Wah, keren! Sudah pernah liputan ke mana saja? Sudah pernah wawancara siapa saja?” tanyaku antusias. Dia mengernyit heran.

Lalu, tanpa diminta, aku bercerita tentang cita-citaku dan musibah yang menimpa hidupku. Kubilang sekali lagi, ini sangat aneh. Aku mampu bercerita pada orang asing mengenai hal yang selama ini paling kututupi. Bahkan dari ingatanku sendiri.

“Menjadi seorang jurnalis tidak selamanya menyenangkan seperti yang kau bayangkan. Terutama jika kau tidak benar-benar menginginkannya,” ujarnya.

“Lalu, apakah bekerja di perpustakaan selalu menyenangkan seperti yang kau kira?” sahutku. Lalu, kami malah bertukar senyum.

“Mungkin benar, ada saatnya kita mencintai apa yang kita kerjakan. Dan berhenti memandang iri pada apa yang orang lain miliki,” kataku setelah jeda diam yang cukup lama di antara kami. Aku mengatakannya sambil memandang langit, seolah ingin mengucapkannya untuk diriku sendiri.

Reina menatap wajahku lama. Seolah ingin mendengar kelanjutannya. Tapi aku tidak punya kalimat apa-apa untuk dilanjutkan. Aku bukan seorang motivator, apalagi filsuf.

“Aku selalu merasa orang lain jauh lebih beruntung dan lebih hebat dibanding aku. Aku tidak memiliki apa-apa. Tidak mampu mencapai hal yang membanggakan. Hidupku begini-begini saja. Aku punya banyak mimpi, tapi seperti hanya hadir untuk tetap menjadi mimpi.” Giliran Reina yang bersuara.

Lalu hening kembali. Aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Aku hanya ingin diam. Angin malam berdesir-desir menerbangkan daun-daun rapuh yang luruh. Langit masih sepi. Tak ada bintang ataupun bulan. Apa lagi yang harus kukatakan? Apakah kami harus kembali diam seperti malam-malam kemarin.

“Sudah pukul sembilan. Aku pulang dulu.” Gadis itu akhirnya berbicara lagi. Dia berdiri, tersenyum ke arahku. “Terima kasih kopinya, Darren.”

Aku mengangguk. Dia membetulkan ranselnya dan beranjak. “Eh, omong-omong, besok kau datang ke sini lagi kan?” tanyaku. Entah kenapa tiba-tiba aku cemas besok tidak bisa menemuinya lagi.

Reina mengangguk, lalu berjalan pergi meninggalkanku. Aku juga tersenyum, memandang punggungnya yang semakin menghilang. Lalu menyesal, mengapa tadi tak kuantarkan dia pulang.
________________________________________

Namanya Darren. Seperti nama penyanyi favoritku, Darren Hayes. Aku tidak menyangka dia ternyata bekerja di perpustakaan. Dan lebih tidak menyangka lagi kalau dia sangat ingin menjadi jurnalis.

Sejak bertemu dengan lelaki itu, aku jadi sering berpikir mengenai pekerjaanku. Aku kembali mengingat-ingat apa yang telah kulalui selama menjadi jurnalis. Tempat-tempat apa yang pernah kukunjungi, siapa saja yang pernah kutemui, cerita apa yang pernah kudengar. Lalu aku merenung. Ah, ternyata memang tak semua orang memiliki kesempatan seperti aku.

Mungkin aku harus mengatur ulang sudut pandangku terhadap profesi jurnalis. Juga sudut pandang mengenai apa-apa yang tak kumiliki dan yang kumiliki. Jujur, aku memang selalu iri jika melihat keberhasilan teman-temanku. Bisa pergi konferensi ke luar negeri, menang olimpiade, terpilih menjadi ketua organisasi, dan sebagainya. Bukan posisi mereka yang aku inginkan, tapi mimpi mereka yang berhasil mereka wujudkan. Aku sih memang tidak pernah bermimpi untuk jadi ketua organisasi apapun, atau ikut konferensi dengan tema ilmiah yang tak terlalu kusukai.

Tiba-tiba aku jadi ingin cepat-cepat bertemu Darren. Aku ingin sekali mengucapkan terima kasih kepadanya. Memang sih, aku masih merasa kalau mimpi-mimpiku telah pergi meninggalkanku. Tapi setidaknya kini aku tak lagi merutuki nasibku sebagai jurnalis. Setidaknya, satu beban dari hidupku berkurang. Dan aku bisa bernafas lebih lega.
________________________________________

Ya ampun, aku lupa mengembalikan bindernya! Syukurlah, besok dia pasti kembali ke taman itu. Aku akan mengembalikan bindernya, dan mungkin mimpi-mimpinya juga. Oh ya, supaya tidak lupa, aku harus membuat reminder di handphone.
________________________________________

Bersambung ke Alone Apart II

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s