Meet Me in November Rain

alone in darkness

Aku membaca pesan yang tertera di layar ponselku. Meet me in November rain. Dari kamu, dan aku langsung tahu apa maksudnya. Tanpa banyak pertimbangan, kulangkahkan kakiku menuju tempat di mana kita biasa bertemu.

Kamu sedang duduk di sana. Tempat favoritmu. Persis di samping jendela kaca yang basah terkena tetesan air hujan. Sore itu, sama seperti sore-sore di bulan November sebelumnya, hujan turun dengan derasnya. Membuat sebagian rambutku basah, juga kemeja dan celana panjangku.

“Maaf ya aku merepotkanmu,” ujarmu saat melihatku tiba. Aku tersenyum.

“Nggak apa-apa kok,” jawabku jujur.

“Aku butuh seseorang yang bisa aku ajak bicara,” lanjutmu lagi. Aku hanya mengangguk.

“Ada apa?” tanyaku.

Kamu tidak langsung menjawab. Tanganmu malah sibuk mengaduk-aduk kopi yang tinggal setengah gelas.

“Aku capek,” sahutmu singkat.

“Karena?” tanyaku.

“Kamu masih ingat dia?” kamu malah balik bertanya. Matamu menatap mataku. Seolah ingin mendapat jawaban langsung dari sana.

Aku mengangguk. Aku langsung tahu maksudnya siapa. Caramu menyebut kata ‘dia’ sudah menunjukkan segalanya.

“Aku cuma ingin berhenti suka sama dia. Karena setiap hari, rasanya seperti mati dengan cara yang berbeda-beda. Lalu hidup lagi keesokan harinya. Berharap, lalu mati. Berharap, lalu mati lagi.”

Aku tak akan lupa satu fakta terpenting dalam hidupmu. Kamu pernah jatuh cinta pada seseorang. Dan sejak jatuh cinta dengan orang itu, kamu tidak pernah jatuh cinta pada orang lain, seperti kamu jatuh cinta padanya.

“Dia di mana sekarang?” tanyaku.

“Di Kota Cahaya.”

Kota Cahaya. Itu jauh sekali dari sini, pikirku.

“Aku capek,” katamu lagi. “Seandainya dia nggak pernah menelpon aku pagi itu, mungkin nggak akan seperti ini kejadiannya. Aku hampir saja berhasil…”

Kamu hampir saja berhasil menyukaiku. Aku yang berada di sampingmu. Menemanimu menjalani hari-hari. Aku yang peduli padamu. Mengucapkan hati-hati tiap kau pergi sendiri.

“Itu telepon pertamanya, setelah lima tahun dia pergi. Aku nggak pernah menyangka dia masih ingat aku. Aku pikir dia sudah lupa sama aku, karena sebelumnya nggak pernah menghubungi aku. Waktu itu dia bilang, ada yang penting. Jadi aku kasih nomor teleponku. Kalau saja aku menolaknya…”

Kalau saja kamu menolaknya, maka kamu tidak akan perlu sakit berhari-hari seperti waktu itu. Dua minggu kamu terkapar tak berdaya, tidak kuliah, tidak ke mana-mana. Tubuhmu terserang penyakit, yang mungkin tak akan datang kalau saja kamu tidak patah hati. Semuanya karena dia pergi lagi. Iya, bukan?

“Aku tahu, aku salah waktu itu. Aku memaksa dia agar datang ke sini. Aku hanya ingin tahu. Ya Tuhan, apa sih salahnya ingin ketemu setelah bertahun-tahun pisah? Aku tahu, aku mungkin bukan siapa-siapanya. Tapi masa teman juga bukan, sih?”

Kenyataannya, dia tidak pernah mau menemuimu bukan? Bahkan meskipun kau memintanya dengan memohon-mohon lewat telepon. Saat itu, ingin sekali aku berteriak padamu, mengingatkan kalau aku ada di sampingmu. Seseorang yang akan dengan senang hati datang tanpa kau minta sekalipun. Tapi saat itu, kau sudah tidak peduli padaku lagi, kan?

“Semuanya terasa sempurna Januari tahun itu. Aku yakin banget kalau aku sudah nggak suka lagi sama dia. Rasanya seperti ada beban berat yang diangkat dari pundak aku. Atau mungkin dari hati aku juga.”

Ya, aku ingat Januari tahun itu. Saat kita pergi ke Tanah Tinggi bersama dengan teman-teman lainnya. Kau tersenyum dengan cara yang paling membahagiakan yang pernah aku lihat. Kau tertawa, seolah hidup sengaja diciptakan untukmu dengan begitu indah dan sempurna.

Kau tak pernah tahu, betapa aku bahagia menyadari itu semua. Aku tak pernah punya Januari yang lebih indah selain Januari tahun itu. Sampai saat ini, kadang aku masih berharap tiga hari perjalanan kita tak pernah berakhir.

“Saat mendengar suaranya lagi, rasanya seperti mimpi. Seperti sudah lama sekali aku nggak pernah mendengar suaranya lagi. Bahkan aku nggak berani berharap bisa mendengar suaranya lagi. Aku benar-benar yakin dia sudah melupakanku. Tapi saat aku mendengar suaranya lagi…”

Semua perasaanmu padaku hilang begitu saja. Menguap tanpa sisa. Bahkan meskipun kau berusaha mengembalikannya. Bahkan meskipun aku berusaha mengembalikannya. Aku tidak pernah menyangka suaranya memiliki efek yang begitu besar bagi hatimu. Seolah menghapus segalanya yang pernah terjadi pada hatimu dan hatiku.

Ingatkah kau saat senja di mana kita duduk bersama? Saat aku tak sengaja mengatakan padamu kalau kita sudah bertemu, dan kau tak mengerti apa maksudku. Tentu saja karena kita memang tak benar-benar bertemu. Aku hanya melihatmu, dan aku berpikir kau melihatku juga.

“Waktu aku tahu dia sudah pulang, aku juga nggak berharap apa-apa. Tahu-tahu dia muncul, telepon aku lagi. Kejadian yang sama berulang lagi. Kali ini aku sudah pasrah. Aku pikir, mungkin aku nggak akan pernah berhasil suka sama orang lain, sama persis seperti aku suka sama dia.”

Tapi kamu menyukaiku jauh lebih baik daripada semua orang yang pernah kau sukai, bukan? Iya, aku tahu, kecuali dia. Aku tahu, entah sudah berapa kali kau mencoba melupakannya dengan cara menyukai orang-orang yang kau temui. Tapi semua itu hanya berhasil sesaat. Aku sudah berbangga diri menyadari kalau akulah yang paling bertahan lama. Aku bahkan yakin jadi selamanya. Ya, sebelum suaranya mengganggu hidupmu lagi.

“Aku capek sebenernya. Siklusnya berulang dengan pola yang sama. Dia pergi, aku berpikir dia lupa aku, dia pulang, telepon aku, dan aku suka lagi. Selalu seperti itu. Waktu tahu dia bakal pergi lagi dalam jangka waktu yang lama, aku sudah seneng banget. Aku jadikan itu sebagai momen untuk benar-benar melangkah pergi. Kamu tahu, aku bahkan nggak ngomong apa-apa, walaupun aku ingat hari itu dia berangkat. Dan saat aku tahu kalau dia juga nggak berusaha menghubungi aku, aku pikir, mungkin memang inilah saatnya, aku benar-benar berhenti suka sama dia. Kota Cahaya jauh, kan? Mana mungkin dia bisa telepon aku.”

Kenyataannya kau salah, bukan? Dia menghubungimu lagi setelah hampir sebulan dia tinggal di Kota Cahaya. Dan kau pun kalang kabut. Tidak tahu harus melakukan apa.

“Aku bingung, kalau aku nggak balas, nanti dikiranya aku sombong. Lagipula, aku pasti penasaran setengah mati. Tapi kalau aku kasih, aku nggak akan pernah bisa move on dari dia.”

Faktanya, kau memilih pilihan yang kedua. Kau memutuskan memberinya kesempatan untuk menghubungimu lagi. Kau memberinya kesempatan untuk menyakitimu lagi, berkali-kali lagi.

Dan kini, kau duduk di sini, memikirkan dia yang nun jauh di sana, di saat yang sama, aku tepat berada di hadapanmu. Berharap kau melihatku sedikit saja. Mengingat sedikit saja perasaanmu tentangku yang pernah begitu istimewa.

“Aku tahu dia nggak pernah suka aku. Aku tahu dia suka orang lain. Dia menghubungi aku karena dia memang begitu. Dia menghubungi aku karena dia memang suka menjaga pertemanan dengan siapapun. Sedangkan aku di sini, seringkali berharap itu lebih.”

Kau membaca tulisan-tulisannya di dunia maya. Lalu kau sadar itu bukan tentangmu sama sekali. Sama seperti saat aku membaca tulisan-tulisanmu, dan tahu itu bukan tentangku lagi. Bukan lagi seperti tulisan di blogmu dulu yang hanya untuk aku.

“Aku sering berharap, aku bisa balik lagi…”

Menyukaiku. Iya aku tahu, kau sering berharap agar hatimu bisa kembali padaku. Seperti yang selama ini juga aku inginkan. Sayangnya, aku dan kamu sama-sama hanya bisa berharap kali ini. Apalah artinya tiga tahun dibanding delapan tahun. Meskipun aku yakin, lebih banyak hal yang kita lalui bersama dibanding dengan yang kalian lalui. Tapi tetap saja, aku tak bisa mengalahkannya. Kau tak bisa mengalahkannya.

Aku memberimu kebahagiaan tanpa rasa sakit. Dia memberimu kebahagiaan dengan rasa sakit. Kau pilih yang kedua.

Aku berada di sampingmu. Dia berada beribu-ribu mil jauhnya darimu. Kau pilih yang kedua.

Aku menemuimu dengan senang hati. Dia tak sedikit pun menyempatkan waktunya untuk itu. Kau tetap pilih yang kedua.

Mungkin memang benar,

“Cinta itu nggak adil. Dan aku nggak tahu, aku bakal separah apa tanpa kamu. Makasih ya, kamu sudah mau datang ke sini. Dengerin curhat aku yang nggak penting ini. Aku tahu, harusnya aku tegas sama diri aku sendiri. Berhenti melakukan hal-hal bodoh yang bisa membunuh aku pelan-pelan.”

“Nggak apa-apa. Aku senang kamu cerita sama aku. Aku harap, dia baik-baik aja di sana, dan suatu hari nanti…”

Kita bisa duduk berdua lagi di sini, di tengah derasnya hujan bulan November, tanpa satu kalipun menyebut kata ‘dia’. Karena percakapan kita, semuanya hanya tentang aku dan kamu. Semoga.

10 November 2014

November always reminds me of you

Advertisements

One thought on “Meet Me in November Rain

  1. Pingback: When You Were Mine – Rumah Cerita Ratih Cahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s