The Princess and Circus Boy (Part 2)

lavender-362117_1280

“Kau tidak berhak menyeretku seperti ini Ken! Aku masih ingin bermain di sana!” bentak Lavender sambil berusaha melepas cengkraman Ken. Tapi Ken pemuda yang kuat. Ia sanggup menarik Lavender dan berhasil mendudukannya di atas pelana kuda.

“Aku tidak bermaksud menyakitimu Putri. Tapi, Raja memintamu pulang.” Hanya itu jawaban Ken, dan Lavender hanya bisa menitikkan air mata tanpa suara. Ia masih ingin bermain dengan Ferdy. Ferdy yang masih kaget, hanya bisa memandangi Lavender menghilang di kejauhan.

Setelah kejadian itu, Lavender dijaga dengan pengawasan yang ketat. Ia bahkan tidak boleh meninggalkan kamarnya. Itu hukuman dari Raja. Lavender hanya bisa menerimanya dengan wajah tak suka. Namun, apa lagikah yang bisa diperbuatnya?

Ia hanya bisa memandang keluar melewati jendela kamarnya. Setiap saat dia duduk di situ. Tidak mau melakukan apapun selain termenung di sisi jendela. Tidak mau belajar, tidak mau makan, tidak mau bicara. Ia bahkan tidak mengacuhkan Lucy, yang sebisa mungkin menghiburnya. Tapi Lavender terlau sedih. Ia masih ingin bermain dengan Ferdy dan mengetahui lebih lanjut tentang kehidupan orang-orang sirkus.

Pada suatu pagi, Lavender masih duduk termenung di sisi jendela. Untunglah jendela kamarnya menghadap ke area luar, bukan daerah istana. Jadi ia masih bisa melihat kehidupan di luar istana. Lalu dilihatnya Ferdy, sedang melintas di bawah jendela kamarnya.

“Ferdy!” teriak Lavender. Ferdy, mendengar ada yang memanggil namanya, mencari sumber suara. sampai ia menemukan kepala Lavender yang menyembul keluar.

“Putri Lavender!” serunya tertahan. Ia kaget sekali. Lavender, dengan gerakan tangannya, menyuruhnya untuk tetap diam di situ. Lalu, menghilang ke dalam kamar. Tidak lama, segumpal kertas dijatuhkan.

Tolong aku Ferdy. Aku ingin sekali bermain bersamamu. Tapi aku dikurung di dalam kamar ini. Seandainya saja aku bisa keluar. Langsung sobek kertas ini ya.

Ferdy mendongak ke atas. Memberi senyum kepada Lavender, lalu pergi. Lavender sempat bingung, mengapa Ferdy hanya tersenyum. Tidak inginkah ia membantu Lavender? Seharian itu, Ferdy tak muncul lagi.

Esoknya, pagi-pagi sekali, bahkan matahari saja belum muncul sedikitpun, terdengar ketukan di jendela kamar Lavender. Awalnya, Lavender hanya mendengar sayup-sayup. Ia pikir, itu salah satu suara dari mimpinya. Tapi, lama-kelamaan suara itu makin jelas dan nyata. Lavender bangun, dan membuka tirai jendela. Ia kaget. Ada sebuah wajah di sana!

“Ferdy! Bagaimana bisa??” seru Lavender, lalu cepat-cepat menutup mulutnya. Ia takut suaranya terdengar orang lain. Lavender membuka jendelanya.
“Ah, itu mudah Putri. Aku kan orang sirkus, dan punya banyak tali,” kata Ferdy sambil menunjukkan tali yang mengikat pinggangnya. Entah bagaimana caranya, Ferdy berhasil memanjat tembok dengan tali tambang itu.
“Nah, katanya kau ingin bermain bersamaku. Ini pagi yang bagus, turunlah dan kita akan berjalan-jalan. Bagaimana?” tawar Ferdy. Lavender, yang masih sangat terkejut, hanya mengangguk dan berlari ke lemarinya. Mengganti gaun tidurnya dengan sebuah celana panjang yang sederhana, dan kaus yang juga sederhana. Warna celananya coklat muda, dengan kaus warna putih tanpa gambar apa-apa. Lavender juga mengikat rambutnya dan menutupnya dengan topi anak laki-laki.

Ferdy membantunya turun dengan tali. Agak lama memang, karena Lavender belum pernah menggunakan tali sebelumnya. Tali milik Ferdy itu, sudah diberi simpul setiap 50 centimeter, untuk menjadi pijakan kaki dan pegangan tangan. Setelah sampai di bawah, Ferdy membereskan peralatannya, dan mereka pun melangkah dengan gembira.

Lavender menghirup udara pagi dalam-dalam. Menyenangkan sekali rasanya, berada di luar ruangan di tengah udara yang cukup dingin. Perlahan-lahan, matahari mulai menunjukkan dirinya. Sinarnya yang lembut menerpa kulit dan wajah Ferdy dan Lavender.

“Aku ingin menjelajahi Hutan Cahaya. Kau pernah mendengar hutan itu kan?” tanya Ferdy. Ia membawa sebuah tas ransel di punggungnya.
“Iya, aku pernah mendengarnya. Konon katanya, itu hutan yang sangat indah di kerajaan Padang Rumput. Sayang sekali aku belum pernah ke sana,” ujar Lavender menyesal.
“Kau mau kan ke sana? Aku sudah bertanya kepada beberapa orang jalan menuju Hutan Cahaya. Aku ingin sekali ke sana, sebelum meninggalkan daerah ini,” ujar Ferdy.

Lavender mengiyakan. Selama Ferdy bersamanya, ia tidak terlalu khawatir. Ditambah lagi, Ferdy memang sengaja menyiapkan bekal makanan untuk petualangan mereka. Lavender yakin, setelah menerima surat itu, Ferdy telah menyiapkan segalanya.

Setelah lama berjalan, mereka mulai memasuki daerah hutan. Pohon-pohon pinus berjejer. Aroma daun-daunan semakin tajam tercium. Bunyi-bunyi serangga mulai terdengar nyaring.
“Enak ya jadi orang sirkus. Selalu berjalan ke sana ke mari. Singgah ke berbagai negeri, melihat banyak tempat dan pemandangan,” kata Lavender.

“Ya, aku juga berkenalan dengan banyak orang. Belajar banyak hal baru yang belum kuketahui,” jawab Ferdy.
“Aku ingin sekali ikut denganmu,” pinta Lavender. Ferdy tertawa, ia pikir Lavender pasti bercanda.
“Kau kan seorang Putri, bagaimana mungkin kau meninggalkan kerajaan untuk sebuah kehidupan sirkus yang tidak jelas,” jawab Ferdy.
“Tapi kau, kalian, para orang-orang sirkus itu, terlihat sangat bahagia. Aku ingin sekali hidup seperti itu. bukan kehidupan penuh aturan seperti saat ini.”
“Setiap kehidupan, punya lebih dan kurangnya masing-masing, Putri. Semua itu tergantung pada siapa yang menjalaninya, dan bagaimana ia menjalani hidupnya. Suatu hari nanti, kau akan menyadari hal itu.”
“Tapi Ferdy…” sela Lavender.
“Nah, daripada membahas hal itu, lebih baik kita ke sana. ke sungai itu,” seru Ferdy sambil menunjuk sebuah sungai yang mengalir di dalam Hutan Cahaya.

Suara gemericik air sungai yang begitu merdu, membuat Hutan Cahaya terasa semakin indah. Hutan itu tidak terlalu lebat. Masih ada sinar matahari yang menyeruak masuk. Udara terasa hangat di dalam hutan. Mereka duduk di dekat tepi sungai, di atas lumut yang empuk.

Ferdy membuka kotak makanannya. Wangi kue bolu rasa lemon merebak. Ada juga beberapa potong roti yang di dalamnya seiris tipis daging asap. Ferdy mengisi botol minumannya, dengan air sungai yang jernih dan sejuk.

“Ini untukmu,” Ferdy memberikan potongan kue bolu kepada Lavender.
“Terima kasih. Ah, andai saja setiap hari seperti ini. Aku pasti akan senang sekali,” ujar Lavender berandai-andai. Ferdy tersenyum.
“Sayang sekali Putri, kita harus berpisah. Besok aku dan rombongan sirkus akan pergi meninggalkan wilayahmu.”
“Benarkah?” Lavender tak percaya, dan juga kecewa.
“Iya, kami harus melanjutkan perjalanan lagi. Aku senang bertemu denganmu Putri. Tapi, apalah yang bisa kulakukan.”
“Sejujurnya, aku sedih mendengar hal ini. Tapi, sebelum kau pergi, maukah kau bercerita padaku, tentang negeri-negeri yang pernah kau kunjungi, tempat-tempat yang pernah kau datangi. Dan seperti apa rasanya menjadi bagian dari rombongan sirkus. Aku ingin sekali mengetahuinya,” pinta Lavender. Ferdy mengangguk. Ia pun menceritakan banyak hal yang pernah dialaminya.

Waktu terus berjalan, dan sore akan menjelang. Ferdy mengingatkan untuk segera pulang. Ia takut Lavender ketahuan kabur lagi, dan mendapat hukuman yang lebih berat. Walaupun sungkan, Lavender menyadari kemungkinan itu. Ia dan Ferdy berjalan keluar meninggalkan Hutan Cahaya.

Setelah masuk ke pedesaan, mereka berpikir keras bagaimana caranya agar Lavender bisa masuk ke istana dengan selamat. Tentu saja, ide memanjat dengan tali sudah tidak bisa dipakai lagi. Meskipun belum menemukan ide yang tepat, mereka terus berjalan ke arah istana.

“Agaknya, kau harus mengelabui penjaga gerbang Ferdy. Jika mereka meninggalkan pintu sebentar saja, aku bisa masuk,” usul Lavender.

Namun, belum saja sampai di depan istana, seorang pria mencegat mereka.
“Lavender, sudah kukira. Ayo masuk!” seru Raja sambil menarik tangan putrinya. Sekali lagi putrinya kabur dari istana, dan ia sudah sangat geram dengan kelakuan Lavender.

“Ayah! Mengapa Ayah tidak pernah mengizinkanku keluar sebentar saja? Mengapa Ayah terus-terusan mengurungku di dalam. Aku ingin keluar! Aku ingin bermain!” seru Lavender meronta-ronta. Tapi Raja seolah tak mendengar jeritan putrinya. Dengan tangannya yang kuat, Lavender berhasil dibawanya masuk. Ferdy, sekali lagi, menyaksikan adegan itu dengan diam. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali memungut topi Lavender yang jatuh saat ia meronta-ronta tadi.

Pagi harinya, rombongan sirkus yang bergerak meninggalkan Kerajaan Padang Rumput melewati istana raja. Ferdy, turun dari karavannya sebentar, dan meletakkan sebuah keranjang tepat di bawah jendela kamar Lavender. Lavender, yang menyadari ada keramaian yang lewat, membuka jendela kamarnya.

Ia mencari sosok Ferdy, namun tidak ditemukannya. Ia hanya melihat sebuah keranjang tergeletak. Entah mengapa, ia merasa keranjang itu untuknya. Karena tak bisa keluar, ia menyuruh Lucy untuk mengambil keranjang itu.

Saat keranjang itu sampai, Lavender membuka kertas penutupnya dengan tergesa. Ia menemukan beberapa bungkus coklat dan permen. Lalu, sebuah kotak lain yang dibungkus, dengan kertas surat yang tertempel di bagian luarnya. Lavender segera membuka surat itu.

Untuk Putri Lavender…

Rasanya sedih sekali, menyadari hari ini aku akan meninggalkan wilayahmu. Padahal, aku masih ingin bermain bersamamu. Tahu tidak, kau satu-satunya putri kerajaan yang mau bermain bersamaku.

Aku membuat coklat dan permen ini untukmu. Semoga manisnya bisa mengurangi kesedihanmu. Aku juga mengirimmu malaikat cantik untuk menemanimu, semoga kau tidak kesepian lagi.
Oh ya, topimu aku bawa ya? Anggap saja sebagai kenang-kenangan untukku. Aku berharap, aku bisa mengunjungi tempat ini lagi. Aku percaya kita akan bertemu kembali. Nah, jangan bersedih lagi Putri.

Salam hangat dari yang menyayangimu,
Ferdy.

Lavender membuka bungkusan itu, dan terlihatlah sebuah patung peri kecil dari porselen. Ia langsung memeluknya, dengan perasaan sedih. Tapi surat dari Ferdy, sedikit menguatkannya. Ia juga percaya, kalau suatu hari nanti, ia akan bertemu dengan Ferdy lagi.

Lavender menyibak tirai jendela kamarnya, menatap ke luar. Jalanan lengang. Hanya ada riuh burung-burung kecil yang berterbangan.

Someday I wish upon a star
And wake up where the clouds are far behind me
Where troubles melt like lemon drops
Away above the chimney tops
That’s where you’ll find me
Somewhere over the rainbow, blue birds fly
Birds fly over the rainbow
Why then oh, why can’t I
If happy little blue birds fly beyond the rainbow
Oh, why can’t I

Ditulis pertama kali, 21 Maret 2007
Diketik ulang, 21 Juli 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s