The Princess and Circus Boy (Part 1)

lavender-362117_1280Somewhere over the rainbow, way up high
There’s a land that I dreams of once in lullaby
Somewhere over the rainbow, skies are blue
And the dreams that you dare to dream,
Really do come true…

Putri Lavender menyanyikan lagu dengan suara merdu dari dalam ruang belajarnya. Ia adalah seorang putri di Kerajaan Padang Rumput yang kesepian. Ayah dan ibunya adalah seorang raja dan ratu yang selalu sibuk dengan urusan pemerintahan. Selalu ada tamu atau utusan yang datang berkunjung, atau mereka sendiri yang berkunjung ke tempat-tempat lain. Entah di mana, Lavender tak pernah diajak. Gadis sepuluh tahun itu selalu ditinggal di istana kerajaannya yang besar tapi sunyi.

Satu-satunya teman yang kadangkala berkunjung ke istananya adalah Putri Orange. Putri Orange sebaya dengannya, dan letak kerajaannya paling dekat dengan Kerajaan Padang Rumput. Selebihnya, Lavender lebih sering mengobrol dengan tukang masak, tukang kebun, dan pelayannya yang setia, Lucy.

Hari-hari Lavender diisi dengan belajar dan belajar. Banyak guru yang datang ke istana untuk mengajarinya berbagai macam pelajaran. Mulai dari pelajaran berhitung, bahasa, sejarah, geografi, hingga berbagai keterampilan seperti memanah, berenang, dan berkuda. Semuanya dilakukan di dalam atau di sekitar area istana.

“Ah, betapa sedihnya aku. Hanya seorang diri di sini. Andai saja aku bisa bermain dengan anak-anak lain. Seperti apa rasanya bermain beramai-ramai?” gumam Lavender. Di depan wajahnya tergeletak sebuah buku sejarah yang terbuka. Gurunya, Tuan Dandelion tidak bisa datang karena sakit. Sebagai gantinya, ia harus membaca buku tebal yang tak menarik itu.

Sudah lama sekali Lavender ingin bermain di luar area istana bersama anak-anak lain. Ia jarang sekali keluar istana. Jika keluar pun, ia selalu berada di dalam kereta kuda, dan di bawah pengawasan prajurit ayahnya. Ia ingin sekali merasakan, seperti apa rasanya berlari-lari di padang rumput yang luas. Berguling-guling di bukit yang hijau, dan merasakan matahari terbenam dari atas jembatan batu.

Wilayah kekuasaan ayahnya cukup luas. Tapi tidak begitu banyak penduduk yang dipimpinnya. Lebih banyak padang rumput dan bukit.

“Bahagianya menjadi anak desa,” desahnya. Angin bertiup dari celah jendela yang terbuka. Menyibak rambut ikal coklatnya yang panjang. Kulitnya yang berwarna seperti campuran coklat yang terlalu banyak terkena susu, terlihat ranum terkena sinar matahari. Ia sedang menopang dagunya dengan sebelah tangan, sampai Lucy, datang menghampirinya.

“Putri Lavender, ada Putri Orange berkunjung ke sini. Ia ingin menemuimu,” ujar Lucy. Lavender mendengar kabar itu dengan perasaan sukacita. Ia senang Orange mau berkunjung lagi.

“Baik, aku akan segera turun,” sahut Lavender. Ia berdiri, menutup bukunya, dan mengangkat gaun berendanya yang agak kepanjangan, bergegas turun menyambut sahabatnya.

Putri Orange menunggunya di beranda istana. Sebuah teras berlantai keramik putih yang luas dengan kursi beralas bantal empuk. Mereka memang selalu bertemu di sana. Putri Orange tak mau terlalu masuk ke dalam istana Putri Lavender. Semua istana bagiku sama saja, membosankan dan sunyi, menghirup udara luar rasanya lebih baik, begitu kata Putri Orange saat ditanya oleh Lavender.

“Hai Lavender, apa kabar?” tanya Orange ceria. Ia memang selalu ceria. Rambutnya kuning keemasan, berjuntai-juntai di balik topi lebar berwarna oranye. Matanya bulat, dengan bola mata berwarna hitam yang berkilau seperti terkena cahaya.

Dibanding Lavender, Orange lebih beruntung. Ayahnya, Raja Citrus, berwajah ramah, dan selalu mengizinkan putrinya ikut ke mana ia pergi. Orange pernah mengunjungi banyak kerajaan dan istana. Ia juga dibolehkan untuk bermain-main sebentar di pemukiman penduduk. Tapi tetap saja, selalu ada pengawal yang mengawasinya.

“Tidak terlalu baik. Aku bosan,” jawab Lavender tanpa semangat. Jawaban yang sama, yang selalu didengar Orange ketika ia berkunjung.

“Aku punya kabar yang menyenangkan untukmu!” seru Orange. Lavender mengangkat wajahnya, tanda ia penasaran akan apa yang dikatakan Orange.

“Kemarin ada rombongan sirkus yang datang di wilayah kerajaanku. Mereka singgah selama seminggu dan mengadakan pertunjukan di padang rumput. Seru sekali menonton pertunjukan mereka. Aku diizinkan menontonnya sekali. Kabarnya, mereka juga akan singgah di wilayahmu,” ujar Orange. Mata biru pucat milik Lavender berbinar.

“Benarkah?” tanya Lavender penuh harap. Pertunjukan sirkus memberinya secercah harapan untuk bisa keluar istana sebentar saja.

“Ya, kata ayahku. Beliau sangat ramah pada rombongan sirkus itu, mereka diizinkan tinggal dan juga dijamin keamanannya,” jawab Orange.

“Aku berharap ayah mengizinkanku melihat sirkus itu. Seperti apa rasanya berada di keramaian? Pasti menyenangkan,” ujar Lavender. Lalu mereka berdua berjalan-jalan di sekitar taman belakang istana. Ada sebuah danau kecil, semacam danau buatan, di mana bebek-bebek peliharaan istana berenang ke sana ke mari dengan riangnya. Orange dan Lavender senang bermain dengan bebek-bebek itu. Mereka menebar remah-remah roti untuk dijadikan santapan para bebek. Kadang, burung-burung juga ikut menikmatinya. Itulah satu-satunya keramaian yang pernah Lavender rasakan.

“Ayah, izinkanlah aku menonton sirkus,” rengek Lavender. “Ayolah Yah, aku pasti baik-baik saja,” Lavender meyakinkan. Raja memandang ke arah Ratu, seolah meminta pendapat.
“Izinkan saja, Lavender mungkin perlu hiburan,” ujar Ratu.
“Iya, aku begitu bosan di dalam sini. Boleh ya Yah?” pinta Lavender lagi.
“Baiklah, tapi kau harus selalu bersama Ken, ajudanku,” jawab Raja. Lavender begitu gembira mendengarnya. Walaupun ia harus bersama pemuda berwajah pucat yang pendiam dan kaku seperti Ken, tapi setidaknya, dia dapat menonton apa yang pernah Orange lihat.

Besok malam, Lavender berangkat bersama Ken dengan kereta kuda. Kereta kuda biasa, tanpa lencana, tanpa tanda. Raja tidak mau, putrinya menjadi sorotan di saat ia tak ada di sampingnya. Lavender juga memakai baju yang sangat biasa. Sebuah gaun katun berwarna lembayung polos, tanpa hiasan apa-apa. Ia memakai tudung kain berwarna senada, menutupi sebagian rambut coklatnya.

Di perjalanan, Lavender tak henti-hentinya mengagumi keramaian di yang ada. Adanya pertunjukan sirkus itu memanggil para pedagang lain untuk datang dan berjualan di sekitarnya. Keadaannya seperti pasar malam. Ramai dan meriah. Banyak lampu berwarna-warni. Ada musik yang menggembirakan. Ada berbagai macam permen dan manisan. Semua orang yang lalu lalang tampak bahagia.

Setelah Ken membelikan karcis, mereka masuk ke dalam area pertunjukan. Sebuah tempat yang lapang dan datar berbentuk lingkaran, dengan kursi penonton bertingkat yang mengelilinginya. Area itu ditutupi oleh tenda besar yang beratap kerucut. Ada tali-tali yang bergantung di langit-langit. Ken dan Lavender duduk di tingkat ketiga, tidak terlalu jauh dari arena sirkus.

“Ken, aku ingin membeli jagung itu,” pinta Lavender setelah melihat seorang penonton membawa kantung kertas berisi popcorn. Padahal pertunjukan sirkus telah dimulai.
“Baik, akan kubelikan,” sahut Ken. Tapi tangan Lavender menahannya.
“Biar aku saja yang membelikannya. Kau tunggu di sini saja,” pinta Lavender.
“Aku tidak bisa melakukannya Putri. Aku bertugas mengawasimu, dan kalau kau ingin membeli popcorn, maka aku akan menemani,” jawab Ken tegas.
“Jangan! Kalau kau ikut pergi, tempat duduk ini akan ditempati orang lain. Padahal posisi ini sudah nyaman sekali. Biar aku saja yang membelinya, aku janji aku akan segera kembali. Kau harus mempercayaiku Ken,” ujar Lavender. Ken akhirnya pasrah. Ia memberi sekantung uang untuk Lavender.

Lavender bahagia bisa berjalan-jalan di antara tenda-tenda kecil berwarna-warni, tempat para pedagang menjajakan barang-barangnya. Ia mampir ke beberapa tenda, tapi ia ingat untuk segera kembali ke dalam arena sirkus. Ia lalu bergegas mencari penjual popcorn.
“Aku ingin membeli jagung itu, dua kantung,” pinta Lavender. Si penjual, seorang laki-laki paruh baya berwajah ramah, memberikan kantung kertas berwarna coklat yang disimpan di dalam gerobaknya.

BRUK!

“Ups, maaf, biar aku belikan yang baru,” ujar seorang anak laki-laki, yang tidak sengaja menyenggol lengan dan tubuh Lavender. Satu kantung kertasnya jatuh, dan jagungnya berceceran. Anak laki-laki itu memakai baju yang aneh, penuh rumbai-rumbai, dan ia menuntun tiga anjing kecil berbulu panjang.

“Tidak usah, ini untukmu Nak,” kata si penjual popcorn sambil memberikan satu kantung lagi kepada Lavender. Lavender mengangguk dan mengucapkan terima kasih.

“Kau tidak apa-apa? Maaf, aku tadi tidak melihatmu,” kata anak laki-laki itu. kulitnya berwarna coklat dan alisnya hitam tebal. Usianya mungkin sekitar 13 atau 14 tahun.
“Aku baik-baik saja,” jawab Lavender sambil tersenyum. “Kau salah satu pemain sirkus?”
“Syukurlah. Ya, kenalkan namaku Ferdy,” anak laki-laki itu tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya.
“Namaku Lavender.”

Mendengar nama itu, Ferdy memperhatikan wajah Lavender baik-baik. “Bola mata biru pucat. Apakah kau Putri Lavender dari Kerajaan Padang Rumput?” tanya Ferdy setengah berbisik.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Lavender heran.
“Aku selalu mencari tahu mengenai wilayah yang akan kami singgahi, termasuk siapa yang memerintahnya. Aku dengar, putri kerajaan padang rumput memiliki bola mata yang indah, berwarna biru pucat.”
“Yah, itu memang aku.”
“Kau berani sekali ke sini sendirian?”
“Tidak, aku bersama pengawalku. Dia ada di dalam. Aku berjanji sebentar saja keluar untuk membeli jagung,” jawab Lavender. Ia mulai menyukai Ferdy. Wajahnya ramah dan bersahabat.
“Aku senang berkenalan denganmu Putri, semoga kau senang melihat pertunjukanku. Aku pamit dulu,” ujar Ferdy lalu membungkukkan badan.

“Hei, tunggu. Aku ingin sekali bermain lebih lama denganmu, bisakah?” tanya Lavender tiba-tiba. Entah mengapa, ia berharap bisa lebih lama bersama Ferdy. Ferdy mengangguk.
“Tentu saja Putri, dengan senang hati. Datang saja ke sini esok pagi,” jawabnya sambil tersenyum lalu terburu-buru menuntun ketiga anjingnya ke arena sirkus. Lavender mengamati anak laki-laki itu dengan perasaan senang. Ia berharap bisa berteman dengan Ferdy.

Pagi hari, Lucy sedang menyisir rambut Lavender dan menguncirnya menjadi satu kepangan yang cukup kuat. Jadwal Lavender hari ini adalah berkuda. Ia sudah siap memakai celana berkuda berwarna coklat, dan memakai rompi. Kepangannya ia gelung dan dimasukkan ke dalam topi cap yang dipakainya.

Ia menuruni tangga dengan terburu-buru. Raja dan Ratu sedang menerima tamu, tak terlalu mempedulikan dirinya yang berjalan ke lapangan. Tapi Lavender tak benar-benar ke lapangan. Ia tidak berniat berlatih kuda hari ini. Ia menyelinap pergi, lewat salah satu celah di dekat kandang kuda. Tak ada yang menyadari kepergiannya. Bahkan, meskipun itu pengurus kuda.

Lavender harus berjalan memutari istananya sendiri. Ia tidak terlalu hafal jalan pintas. Jadi, ia memulai perjalanannya ke tempat rombongan sirkus persis seperti tadi malam. Beruntung ia melihat sebuah gerobak lewat. Bapak pemilik gerobak sangat baik hati, ia memperbolehkan Lavender duduk di gerobaknya, di antara tumpukan jerami, dan bersedia mengantarnya ke area pemukiman rombongan sirkus, tanpa bertanya terlalu banyak tentang penumpang kecilnya.

Sebenarnya Lavender takut sekali. Baru kali ini ia keluar istana, sendirian, tanpa pengawasan dan tanpa izin. Untunglah Lucy tidak menyadari penampilannya yang sangat sederhana hari ini. penampilan sederhana membuat Lavender tidak terlihat mencolok di luar, dan itu sangat membantunya.

Lavender diturunkan di daerah bukit tempat rombongan sirkus menetap sementara. Ia sedikit kebingungan mencari Ferdy di antara caravan dan ramainya orang serta binatang. Melihat seorang gadis kecil yang kebingungan, seorang wanita paruh baya menegurnya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Apakah sedang mencari seseorang?” tanyanya ramah.
Lavender mengangguk, “Iya, aku mencari anak laki-laki bernama Ferdy.”
“Oh, Ferdy. Barusan kulihat dia ada di sana, bersama anjing-anjingnya.” Wanita itu menunjuk ke sebuah caravan. Di dekat caravan itu ada seorang anak laki-laki dan empat ekor anjing yang mengelilinginya. Lavender mengangguk dan mengucapkan terima kasih.

“Hai Fer, masih ingat aku?” tanya Lavender saat ia sampai di depan Ferdy. Ferdy mendongak dan tersenyum.
“Mata biru pucat. Tentu saja kau Putri Lavender. Kau ternyata benar-benar ke sini. Aku tidak menyangka,” ujar Ferdy girang. Ia kemarin hanya bercanda saja sebenarnya. Ia tahu, tidak mungkin seorang putri kerajaan dibolehkan bermain bersama rombongan sirkus. Di mana-mana, ia tahu, rombongan sirkus tidak pernah setara dengan kalangan kerajaan dan orang-orang kaya.

“Aku juga tidak menyangka akan seberani ini. Eh, ini anjing-anjingmu?” tanya Lavender sambil menunjuk empat anjing yang duduk manis di dekat Ferdy. Tiga anjing kecil yang kemarin ada di pertunjukan, dan satu anjing cukup besar berbulu coklat yang belum pernah dilihat Lavender.

“Iya, ini semua kepunyaanku. Tapi Scott yang paling kusayang. Ia sudah lama bersamaku, dan kini tidak lagi bermain sirkus,” ujar Ferdy sambil menepuk anjing coklat yang bernama Scott itu. Tidak lama, seorang wanita melambaikan tangan ke arah Ferdy. Ferdy tersenyum dan mengangguk.

“Putri, itu ibuku. Dia memanggilku untuk meminta bantuan. Kau mau ikut kan? Akan kukenalkan kau pada dirinya,” ujar Ferdy. Lavender mengangguk dan mengikuti langkah Ferdy.

Ibu Ferdy adalah wanita yang ramah. Tapi, Ferdy tidak berani mengatakan kalau Lavender adalah putri kerajaan Padang Rumput. Ia berbohong dengan mengatakan kalau Lavender adalah anak desa yang ia temui saat pertunjukan sirkus kemarin. Lavender sendiri tidak keberatan Ferdy melakukan hal itu.

“Ibuku terlalu ramah pada orang, dan kadang suka lupa kalau bicara. Aku takut, nanti semua rombongan akan tahu kalau kau main ke sini, dan malamnya berita itu akan tersebar ke seluruh wilayah. Tapi, kau bisa percaya padaku, Putri.”

“Jangan lagi panggil aku Putri. Aku suka dipanggil Lavender saja,” sela Lavender. Ferdy tersenyum. Mereka sedang membuat adonan roti coklat untuk makanan seluruh rombongan sirkus.

“Apakah semua orang sirkus begini? Maksudku, satu keluarga membuat makanan banyak untuk dimakan seluruh orang,” tanya Lavender heran.

“Ya, kami selalu makan bersama, dan para wanita, suka membuat makanan banyak-banyak. Itu sangat menyenangkan Putri,” jawab Ferdy sambil tersenyum.

Di tempat lain, di istana, pengurus dan pelatih kuda terlalu lama menunggu kedatangan Lavender. Lucy meyakinkan pada mereka kalau tuan putrinya telah menuju kandang kuda. Tapi, sekeliling istana telah ditelusuri dan tak ada Lavender. Saat itu, tamu kerajaan telah pergi, Raja dan Ratu benar-benar bingung menyadari putri semata wayang mereka hilang.

Raja memerintahkan beberapa prajuritnya untuk keluar, mencari Lavender di seluruh wilayah kerajaan. Tapi Ken, dengan sopan mengemukakan pendapatnya.

“Sepertinya saya tahu di mana Putri Lavender berada, Yang Mulia. Kalau Yang Mulia berkenan, izinkan saya membawa kuda untuk menyusulnya.”

“Kau yakin?” tanya Raja. Ken mengangguk sopan. Karena pemuda 20 tahun itu memang dari dulu sangat dipercaya oleh Raja, maka ia pun diizinkan untuk pergi sendiri mencari Lavender.

Jika usahanya belum berhasil, ia akan segera kembali, dan Raja akan menurunkan prajuritnya untuk mencari Lavender. Ken tahu, Lavender pasti terpesona dengan dunia sirkus yang ia temui kemarin malam. Ia memacu kudanya, hingga dengan cepat bisa menemukan pemukiman sementara rombongan sirkus. Agak sulit mencari Lavender, apalagi di bawah tatapan aneh para orang sirkus. Tapi Ken bisa menemukan Lavender.

“Putri, tidak seharusnya kau berada di sini,” ujar Ken, dingin dan tegas. Mengagetkan Ferdy, menghentikan tawa Lavender yang sedang bermain dengan Scott dan beberapa anak sirkus lain.

“Ken?” hanya itu yang keluar dari mulut Lavender. Setelah itu, lengannya ditarik oleh Ken, yang membawanya ke tempat kuda Ken ditambat. (bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s