When The Stars Go Blue

swing-75193_1280

Mataku berkali-kali melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah Sembilan malam. Berharap jarum pendeknya bergerak lebih cepat, tepat di angka sembilan. Kenapa? Karena aku tahu di angka itulah tetanggaku akan ke luar dari rumahnya menuju ayunannya tercinta.

Aku bukan tukang intip atau apa. Tapi aku tahu kebiasaan tetangga baruku adalah menghabiskan malam di pekarangan belakang rumahnya sambil membaca buku di atas ayunan kayu. Tidak selalu membaca buku sebenarnya. Kadang dia hanya memainkan ayunan sambil melamun. Entah memikirkan apa. Tapi aku selalu berada di balkon ini. Memandanginya dari kejauhan, kadang berharap dia melihatku, tapi lebih seringnya aku berharap dia tidak pernah tahu.

Jarum jam tampaknya tidak bergerak sama sekali. Atau mungkin itu perasaanku saja. Yang jelas, aku sudah tidak sabar dan memutuskan untuk berada di balkon lebih dulu. Biasanya, aku duduk di dekat balkon pukul sembilan lewat. Saat itu dia sudah duduk manis di ayunan dengan bukunya.

Saat aku tiba, ayunan itu masih kosong. Langit malam cukup cerah tapi tidak ada bintang. Angin berhembus agak kencang. Aku khawatir dia tidak akan keluar malam ini, karena semakin lama, hembusan angin makin kencang. Pohon-pohon yang tumbuh di pekarangan rumahnya seolah-olah berlomba menggerakkan dahan dan daun-daun.

Pukul sembilan lewat, dan tetanggaku belum keluar sama sekali. Mungkin dia tidak akan bermain ayunan. Mungkin dia memilih untuk membaca buku di dalam kamarnya. Mungkin aku harus kembali ke kamarku.

Tapi aku belum putus asa. Aku masih melongokkan kepalaku ke bawah, merasa seolah-olah mendengar suara pintu dibuka. Dan ternyata itu benar!

Tetanggaku keluar dengan sebuah buku di genggaman tangannya. Dia memakai blus selutut berwarna krem dan cardigan rajut berwarna biru tua. Tampak tidak terlalu serasi, tapi siapa peduli. Dia cukup cantik. Rambut sepundaknya berwarna hitam dan lurus. Badannya cukup berisi, tapi tidak bisa dibilang gemuk. Dan dia tidak pernah memakai alas kaki saat di pekarangan.

Dia berjalan ke arah ayunan seperti biasa. Aku tersenyum lebar karena penantianku tidak sia-sia. Lalu dia menengadahkan kepala. Melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan. Memandangi balkonku. Menemukanku yang sedang memperhatikannya!

Bibirnya menyunggingkan senyum, seolah dia sudah terbiasa melihatku di balkon itu. Berbeda denganku yang begitu kaget dan gugup sampai-sampai tak sanggup membalas senyumnya atau melakukan hal lain yang masuk akal. Aku hanya berdiri diam mematung dengan ekspresi wajah yang sulit kujelaskan. Percampuran antara kaget dan gugup, tentu saja.

Dia melambaikan tangannya ke padaku. Seakan memberi tanda, menyuruhku turun. Aku yang masih gugup berusaha meyakinkan diri dengan membalas tandanya dengan gerakan tubuh, yang kurang lebih berbunyi seperti ini, “Kau maksud, aku? Apa aku harus turun?” dia menjawabnya dengan anggukan.

Aku berjalan setengah berlari ke belakang rumahku sendiri. Pekarangan belakang kami dipisahkan oleh semacam tumbuhan hijau bersemak yang tingginya hampir sepundak orang dewasa. Aku berusaha menembus semak itu, sambil berpikir untuk memangkasnya di suatu bagian agar aku bisa pergi ke pekarangan sebelah tanpa tertusuk-tusuk ranting.

“Hai,” sapanya.
“Hai,” jawabku, dengan gugup, tentu saja.
Dia menggeser tubuhnya sedikit, seolah mengizinkanku untuk duduk di ayunan, tepat di sebelahnya. Aku menurut.

“Maaf kalau aku mengagetkanmu. Tapi aku sering melihatmu di balkon. Kupikir ada baiknya kalau kau ke sini. Kita bisa berkenalan.”
Aku mengangguk.

“Aku Diana. Cukup dipanggil Ana,” katanya. Aku mengangguk lagi. Ada sedikit rasa malu yang menyelinap, saat mengetahui kalau dia tahu aku biasa berdiri di balkon.
“Kenny. Ayahku memberiku nama Kennedy, tapi aku kurang suka dengan nama itu,” jawabku.

“Kau tidak keberatan bukan, aku ajak ke sini?” tanyanya. Aku menggeleng. Rambutnya bergerak-gerak tertiup angin. “Sekolah atau kuliah?”
“Sekolah. Sekolah di rumah lebih tepatanya.”
“Oh, home-schooling. Kelas berapa?”
“Kelas 11. Kamu?”
Dia tertawa sebelum menjawab pertanyaanku, dan masih tertawa sampai aku bertanya, “kenapa?”
“Tadi muncul di pikiranku untuk berbohong, dan mengatakan padamu kalau aku kelas 10. Kalau aku bilang begitu, apakah kau akan percaya?”

Aku memperhatikan wajahnya, mencoba menerka berapa umurnya. Wajahnya memang bukan seperti anak SMA.
“Aku kuliah, sudah semester 5. Sudah tua ya? Aku sebenernya benci bertambah tua. Kadang, rasanya aku ingin 13 tahun saja.”
Aku hanya tersenyum, sambil setengah menunduk.

“Kau pemalu sekali. Apa karena itu kau memilih home-schooling?” tanyanya. Buku yang tadi dibawanya, hanya dipegang-pegang tanpa minat untuk dibuka.
“Sebenarnya karena banyak hal. Itu mungkin jadi salah satunya,” jawabku. Kali ini dia yang mengangguk.

“Aku jarang melihatmu keluar rumah.”
“Aku memang lebih banyak berada di dalam rumah.”
“Apa kau tidak bosan? Apa kau tidak merasa kesepian?”
“Aku pikir…” aku hidup dalam kesepian itu, tapi yang ini tidak kukatakan. “Aku tidak keberatan harus lebih lama tinggal di rumah.”

Dia memandangiku lebih lama. Aku merasa dia terfokus pada kulitku, dan aku sudah tidak heran. Kulitku sangat pucat, bukan sekedar putih, tapi nyaris membiru. Dan kulitku benci matahari.

Aku pikir dia akan bertanya kenapa, atau mencari tahu lebih jauh mengenai diriku. Tapi dia tidak melakukannya. Dia hanya tersenyum lalu menatap langit.

“Ke mana bintang-bintang?” tanyanya.
“Bintang-bintang sedang sedih. Makanya mereka bersembunyi,” jawabku, sebenarnya asal bunyi saja. Tapi dia menatapku dengan pandangan yang aneh. Seperti terlalu serius menanggapi candaanku.

“Apa kau seperti itu? Seperti bintang-bintang itu?”
“Maksudmu?”
“Bersembunyi ketika sedih,”
“Aku ragu. Aku selalu bersembunyi. Dan sepertinya, aku selalu sedih.”

Aku tidak mengerti kenapa aku bisa begitu cepat terbuka pada seseorang yang baru kukenal. Asal tahu saja, ini adalah obrolan terpanjangku dengan orang asing. Baiklah, Ana bukan orang asing. Dia hanya tetangga baru yang pindah sebulan lalu.

Kami sama-sama diam dalam waktu yang cukup lama. Angin terus bertiup, menerbangkan daun-daun kering yang berada di pekarangan. Aku tidak tahu harus bicara apa. Lalu aku melihat bukunya
“Buku apa itu?” tanyaku. Dia melihat kembali bukunya, seolah ingin memastikan kalu dia tidak lupa judulnya.

“A Walk to Remember.Novel romance.”
“Ceritanya tentang apa?”
“Tentang dua orang remaja yang jatuh cinta. Tapi salah satu dari mereka sakit.”
“Siapa yang sakit?”
“Jamie, gadisnya”
“Apakah ada novel yang bercerita tentang remaja laki-laki yang sakit?”
“Aku belum menemukannya.”
“Aku pikir memang tidak ada.”
Dia mengernyitkan mata, seolah meminta penjelasan lebih lanjut.

“Cerita tentang penyakit memang menyedihkan. Tapi kalau yang menderita penyakit adalah tokoh perempuan, itu terasa seperti menyedihkan yang indah. Sedangkan kalau tokoh laki-laki yang sakit, itu menyedihkan yang payah.”

Dia tertawa mendengar uraianku barusan. Aku mencoba ikut tersenyum pada apa yang kusebutkan tadi. Meskipun sulit. Kenyataan mengenai novel atau film dengan tokoh laki-laki yang mengidap penyakit sangat menggangguku. Kabar baiknya, aku memang tidak terlalu suka baca buku atau menonton film.

“Ken, aku baru ingat!” serunya. “Ada film yang bercerita tentang tokoh laki-laki yang menderita penyakit. Anak-anak tapi. Itu film anak-anak.”
“Bukan itu. Aku mau yang seperti buku itu, tapi, yang laki-laki yang sakit.”
Dia menatapku, berfokus ke mataku. Aku merasa kikuk diperlakukan seperti itu. Apa ada yang salah dengan mataku? Sepertinya tidak, karena selain kulit, aku tidak punya masalah apa-apa di bagian tubuh lain, setidaknya, begitulah menurutku.

“Ada apa?” tanyaku akhirnya, memecah kesunyian.
“Aku sedang berpikir,”
“Berpikir apa?”
“Mungkin sebaiknya kita bertemu lagi. Seperti ini. Apakah itu menggangumu?”
Aku menggeleng.

“Aku akan mencari buku lain. Buku yang tidak membahas penyakit. Membahas bintang-bintang mungkin?” usulnya. Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Apa kau sudah mau masuk?” Dia menggeleng.
“Bacakan bagian favoritmu dari buku ini,” pintaku.
“Oh, baiklah. Kebetulan aku sudah selesai membacanya, dan hanya ingin mengulang bagian terbaiknya,” kata Diana. Ia mulai membuka buku dan mencari lembaran yang dituju.
“Ini bagian favoritku,” katanya sambil sedikit mengangkat buku bernuansa coklat kemerahan itu. “Bagian saat Jamie menikah dengan kekasihnya, Landon.”

“Kupikir dia akan mati,” aku menyela. Tapi dia tak mempedulikan. Langsung membacakan bagian favoritnya.
Saat kami hendak berpisah, dia menatapku lebih lama dari sebelumnya. Aku sudah tidak terlalu kikuk lagi. Kurasa aku suka ditatap seperti itu.

“Ken, jika kau sedang bersembunyi bersama bintang-bintang, maukah kau mengajakku?”
Aku mengangguk. Dia tersenyum.

Aku pernah berpikir, aku ini manusia langka. Tapi kata Diana, aku adalah salah satu bintang, dari bintang-bintang di langit. Katanya, salah satu bintang mungkin turun dan memilih menjadi aku. Menurutku, pikiran seperti itu mungkin ada benarnya juga. Karena sama sepertiku, bintang-bintang tidak terlihat jika ada matahari.
3 Juni 2014

Ceritakan padaku tentang bintang-bintang
Yang bersembunyi dari langit malam
Adakah mereka juga menanggung kepedihan
Yang tak dapat dibagikan

Ceritakan padaku tentang bintang-bintang
Yang menghilang dari malam kelam
Adakah mereka bersembunyi jadi bayang-bayang
Yang sinarnya padam oleh kesunyian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s