Solace

light-bulbs-407239_640

Jari-jariku menari di permukaan cermin yang berembun, membentuk gambar hati, lalu bulatan-bulatan tak beraturan. Aku tersenyum sendiri melihat itu dan mencium bayanganku yang tampil di depan cermin. Sekilas, aku merasa ada seseorang yang berdiri memperhatikanku dari balik jendela.

“Olle! Olle!” panggil ayahku dari balik pintu kamar karavan.
“Ja,” jawabku pelan.
“Britta telah datang. Ayo keluar!” perintah ayahku. Aku menatap cermin sekali lagi, lalu segera menuruti perintah ayah.

Di ruang tamu, Britta telah menunggu, bersama seorang anak laki-laki seusiaku. Sepertinya dia yang tadi kulihat dari balik jendela kamar.

“Olle, ini Kevin. Keponakan Britta. Ia akan berada di sini bersama kita selama dua minggu,” kata ayahku. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum sopan. Britta adalah teman ayah yang akan ikut meramaikan musikvecka di perkemahan karavan ini. Ya, saat ini aku dan ayahku menghabiskan libur musim panas kami di sebuah perkemahan karavan, dan musikvecka itu akan digelar beberapa hari lagi.

Musikvecka adalah semacam pertunjukkan musik atau karaoke yang digelar di malam musim panas Ayahku termasuk salah satu orang yang bertanggung jawab pada pesta tersebut. Sedangkan aku, lebih tertarik untuk mendekorasi panggung yang akan digunakan dengan rangkaian bola lampu yang digantung di langit-langit dan tiang-tiang.

“Olle, bagaimana rangkaian bola lampumu? Sudah selesai?” tanya Britta dengan wajah bersinar. Aku mengenal Britta sebagai wanita paruh baya yang ramah dan periang.

“Belum selesai semua. Aku akan membereskannya selama dua hari ini,” jawabku.

“Oh Kevin, kau harus tahu, Olle membuat rangkaian bola lampu yang sangat indah untuk perayaan musikvecka. Kau harus melihatnya,” kata Britta penuh semangat. Kevin yang diajak bicara, malah menatapku. Seperti mencari jawaban. Aku diam saja.

“Sebaiknya kita ke sana saja,” ajak ayah.

Kami berjalan menuju panggung yang akan digunakan untuk mengadakan musikvecka. Britta memandangi rangkaian bola lampuku yang sudah setengah jadi dengan mata berbinar. Ayah mencoba mengujinya dengan menyalakan listrik. Serentak, bola-bola lampu yang berwarna putih gading itu bersinar menerangi panggung dan sekitarnya.

“Kau mengerjakan ini sendiri?” tanya Kevin. Aku mengangguk. Dia memperhatikan rangkaian bola lampu yang tergantung di langit-langit panggung. Masih ada beberapa rangkaian lagi yang nantinya akan kupasang di tiang-tiang sekitar panggung. Rangkaian itu, semuanya tersambung ke sebuah generator listrik di belakang panggung. Ayah mematikan lagi setelah Britta puas melihat.

Aku menyusun kabel-kabel sambil memastikan tiap bola lampu terpasang dengan tepat. Britta dan ayah malah mengobrol sambil berjalan-jalan. Meninggalkanku sendiri bersama Kevin.

Lima belas menit berlalu tanpa ada percakapan di antara kami.
“Kau pendiam sekali,” ujar Kevin akhirnya. Aku hanya membalasnya dengan tatapan.

“Aku hanya tidak tahu harus bicara apa,” jawabku.
“Yah, kau bisa cerita tentang sekolahmu, teman-temanmu di sini, atau rangkaian kabel ini. Apakah kau punya ketertarikan lebih pada listrik?”

Aku menghela nafas. Caranya bicara begitu menarik perhatianku. Seolah kami telah saling kenal sejak lama. Atau mungkin, karena aku yang jarang mengobrol dengan teman sebayaku?
________________________________________

Malam itu, kami berempat duduk di depan karavan. Aku, ayah, Britta, dan Kevin. Britta berkali-kali membujukku agar aku menyanyi pada musikvecka lusa.

“Olle, kau akan bernyanyi kan? Suaramu kan bagus,” kata Britta.
“Nej,” jawabku pelan.
“Britta, kau tahu, Olle mana mungkin mau bernyanyi di depan umum seperti itu. Bicara saja dia susah,” sahut ayahku.
Britta tidak terima, “Jangan dengarkan ayahmu Olle. Bernyanyilah. Aku tahu kau bisa.”

Aku hanya tersenyum sambil menunduk. “Aku pergi dulu,” ujarku. Kevin mengikuti. Membiarkan ayah dan Britta berdua saja.
________________________________________

“Aku penasaran sebagus apa suaramu. Britta sepertinya benar, kau harus bernyanyi nanti,” kata Kevin. Kami sedang duduk di belakang karavan sambil memandangi area perkemahan yang sepi dan temaram.
“Britta terlalu berlebihan,” sahutku. Kevin mengangkat bahu.
“Kata Britta, di dekat sini ada pantai kecil. Kau tahu tempatnya?” tanya Kevin. Aku mengangguk.
“Maukah kau mengantarku ke sana?”
“Sekarang?”
Kevin mengangguk pasti.
________________________________________

Kami berenang berdua di pantai itu. Airnya tidak terlalu dingin. Membuat kami sanggup berlama-lama berenang. Berkejaran ke sana ke mari sambil tertawa-tawa. Selama 16 tahun hidupku, sepertinya ini adalah yang pertama kali aku berenang bersama seseorang dengan begitu riangnya.

Setelah puas berenang, kami duduk bersebelahan di tepi pantai. Kevin masih tertawa-tawa melihatku yang mulai menggigil kedinginan. Aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku agar lebih hangat. Tanpa kuduga, ia ikut menggosokkan telapak tangannya di tanganku.

“Tack,” kataku. Kevin hanya tertawa. “Terima kasih telah datang ke sini. Aku senang mempunyai seorang teman di liburan musim panas kali ini,” kataku. Kamu datang seperti pelipur lara bagiku, kataku dalam hati. Tentu saja aku tidak mengatakannya secara langsung.

Kevin hanya menatapku. Bibirnya menyungginggkan sebuah senyum, dan perlahan mendekati bibirku. Ia menciumku tanpa aku sempat menghindar. Ia langsung menjauh saat sadar telah melakukan itu. Aku memandangnya dengan tatapan heran, kaget, dan tidak percaya.

“Maaf,” katanya. Aku hanya menunduk. “Sebaiknya kita pulang,” kata Kevin lagi.
________________________________________

Paginya, ketika bangun tidur, aku masih memikirkan kejadian tadi malam. Tidak menyangka Kevin melakukannya kepadaku. Apa yang ada di otaknya saat itu? Aku sangat ingin menanyakannya, tapi aku takut.

Seharian itu berlalu tanpa sedikitpun kami berbicara. Kevin pergi ke pantai itu lagi bersama para remaja yang tinggal di sini. Ia anak yang supel menurutku. Sedangkan aku, sibuk sendiri dengan rangkaian bola lampu.

Malamnya, Britta menanyakan ada apa di antara aku dan Kevin. “Apakah kalian bertengkar?” tanyanya. Aku menggeleng.
Britta menepuk pundakku, “aku berharap kau bahagia, Olle kära. Dan jangan lupa, bernyanyilah besok.”
Aku diam saja.
________________________________________

Rangkaian bola lampuku telah selesai. Musikvecka telah dibuka. Ayah yang mendapat giliran bernyanyi pertama kali. Setelah itu, siapapun boleh menggantikannya di panggung. Aku berdiri di samping panggung, setelah memastikan generatornya bekerja dengan baik. Aku melihat Kevin duduk sendiri, cukup jauh dari area panggung. Aku melihatnya, tapi mungkin dia tidak melihatku.

Aku menghampiri Britta. “Sepertinya aku akan bernyanyi,” kataku. Britta terperangah. Tapi cepat-cepat ia memberi isyarat pada ayah, agar membiarkan aku bernyanyi.

Aku naik ke atas panggung dengan sangat gugup. Butuh beberapa kali tarikan nafas untuk menenangkan diriku sendiri. Dari atas panggung, aku tahu Kevin melihatku. Satu tarikan nafas lagi, dan aku mulai bernyanyi.

“Words, don’t come easy to me… how can I find a way to make you see, I love you… words don’t come easy… Words, don’t come easy to me… this is the only way, for me to say, I love you, words don’t come easy… ”

Aku melihat Kevin beranjak dari duduknya. Aku menghentikan laguku, dan buru-buru mengejarnya.

“Maafkan aku,” kata Kevin. Kami sudah duduk bersama lagi di belakang karavan. “Aku tahu, kau pasti terganggu karena kejadian malam itu,” lanjutnya lagi.

Aku ragu, tapi aku menggeleng.
“Benarkah?” tanya Kevin tidak percaya.
Aku mengangguk. Kamu pelipur laraku, kataku masih dalam hati.

“Lalu kenapa kau tadi pergi?” tanyaku.
“Aku hanya sedang berpikir. Sepertinya, aku ingin menghabiskan sepanjang musim panasku di sini,” jawab Kevin.
Aku tersenyum.
________________________________________
Really inspired by Swedish short film, Lucky Blue
16 November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s