Remember Me This Way

time-425818_640

“Kalau aku pergi, kamu akan mengingatku yang seperti ini kan?” tanyamu dengan nada khawatir. Aku mengangguk sambil memaksakan diri untuk tersenyum. “Walaupun aku beda 50 tahun dengan kamu?” tanyamu lagi, meyakinkan.

“Iya. Aku akan mengingatmu yang seperti ini,” jawabku pasti.
________________________________________

Dua minggu yang lalu…

Rumah tua itu, dengan pagar penuh rambatan pohon dan jendela-jedela yang ambruk, adalah sesuatu yang tidak pernah lepas dari pandanganku setiap hari. Aku tidak mengerti mengapa mereka tidak segera memperbaiki rumah itu dan menjualnya kembali. Bukan malah membiarkannya hancur termakan waktu.

Asal tahu saja, aku memang tinggal di perumahan tua. Maksudku, perumahan ini sudah berdiri sejak 30 tahun yang lalu dan orang-orang yang tinggal di sini sangat menghargai rumah-rumah lama mereka. Jadi bisa kau bayangkan, hampir semua rumah di sini adalah rumah kuno. Termasuk rumah yang kutinggali.

Namun, rumah kosong yang satu itu lain. Ia berada di ujung gang. Agak tersudut dari kehidupan perumahan. Aku biasa melewatinya karena ada jalan pintas menuju gerbang perumahan. Rumah itu besar, pekarangannya luas, dan jika dilihat dari apa yang masih tersisa, tampaknya rumah itu tadinya rumah paling mewah di perumahan ini.
Aku sendiri, kadang suka penasaran dengan apa yang disimpan rumah itu. Dan mengapa para tetangga tidak mau membicarakan rumah itu sedikitpun.

Hingga pada suatu hari, aku melihat bayangan bergerak-gerak di dalam rumah tua. Langsung terlintas di benakku, bayangan itu mungkin saja pencuri yang menyembunyikan hasil curiannya di dalam rumah. Tanpa perasaan takut sedikitpun, aku menerabas pagar besi berkarat yang sudah bolong di sana sini. Kakiku mengendap-ngendap menyusuri jalan setapak yang membawaku ke pintu masuk rumah.

Pintu depan rumah itu sudah reyot dan engselnya telah lepas. Dengan hati-hati aku membukanya agar tidak ambruk. Bau khas rumah kosong langsung mengisi indra penciumanku. Aromanya sulit kujelaskan, seperti perpaduan antara sesuatu yang usang dan terlupakan.

Aku mendengar gemerisik. Lalu langkah-langkah pelan, yang terdengar seperti langkahku sendiri. Aku terpaksa berhenti, untuk memperjelas apa yang barusan kudengar.

Lalu kulihat dia. Dengan kaos berwarna biru yang tampak terlalu longgar untuk badannya yang kurus. Rambutnya pirang sebahu dan sangat lurus. Kulitnya berwarna terang, seperti bukan berasal dari daerahku. Dilihat dari wajah dan perawakan tubuhnya, ia mungkin remaja belasan tahun juga sepertiku.

“Oh hai!” katanya gugup. Aku melongo.
“Hai,” sahutku ragu sambil meneliti dari ujung kaki sampai kepala manusia yang ada di depanku.

“Kau siapa? Kenapa kau ada di sini?” tanyaku heran dan penasaran.
Dia tampak bingung dan sama herannya denganku, “Umm… aku, aku sedang bermain-main di sebuah lab. Lalu tiba-tiba muncul di sini.”
“Ini bukan lab,” jawabku cepat. Apa maksudnya dengan, tiba-tiba muncul di sini?
“Iya aku tahu. Maksudku, aku sedang bermain-main di sebuah lab milik professor tetanggaku. Lalu aku masuk ke sebuah tabung, dan wusssh, tiba-tiba aku ada di rumah jorok ini,” katanya sambil meringis memperhatikan sekelilingnya.

Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti apa yang dia katakan. Sepertinya dia baru saja melakukan teleportasi. Tapi kenyataannya, sampai kini, teleportasi masih jadi misteri bagi para ilmuwan kami.

“Kau tampak aneh,” ujarku akhirnya. “Seperti datang dari masa lalu.”
“Oh ya? Memangnya tahun berapa sekarang?” katanya.
“2029,” jawabku singkat. Dia ternganga.
“Tidak mungkin!” serunya.
“Mungkin saja. Kau yang tidak mungkin, tiba-tiba muncul di sini dan…”
“Aku, aku, maksudku, ini baru tahun 1995,” potongnya dengan wajah heran tak percaya.
Aku tersenyum mendengarnya. “Teleportasi,” gumamku.
________________________________________

Satu minggu yang lalu…

Aku pikir, teleportasi mungkin benar-benar ada. Tapi sebenarnya bukan itu yang kupedulikan. Aku peduli pada Jesse dan kehidupannya di tahun 1995.

“Belum ada handphone secanggih ini,” katanya sambil memperhatikan handphoneku dengan takjub. “Dan anak-anak tidak memiliki handphone.”
“Aku bukan anak-anak,” protesku.

“Oh ya ampun Jane, kau baru 13 tahun dan aku 14. Kami juga bermain game, tapi tidak di handphone. Kami melakukan semuanya secara terpisah. Mendengarkan lagu dan radio di walkman. Menonton acara televisi di TV, dan bermain game di video game, dan membaca buku di buku, maksudku bukan di apa itu namanya?”

“Ebook.”
“Iya itu! Hufth, sepertinya menyenangkan tinggal di tahun 2029. Semuanya serba canggih, mudah, dan cepat.”
“Aku ingin tahu seperti apa kehidupan di tahun 1995,” sahutku sambil memperhatikan Jesse yang masih mengagumi isi kamarku meski sudah seminggu ia tinggal di dalamnya.

Ya, setelah menemukannya di rumah tua itu, aku mengajak Jesse untuk tinggal di kamarku selama beberapa hari. Secara sembunyi-sembunyi tentu saja. Aku tidak mau banyak orang yang tahu tentang teleportasi yang dilakukan Jesse. Pasti nanti banyak orang yang berdatangan ke rumahku, kalau mereka tahu aku menyembunyikan seorang remaja dari tahun 1995.

Selama seminggu itu, Jesse banyak bercerita tentang kehidupannya dan apa saja yang sedang trend di tahun 1995. Salah satunya adalah model rambut belah tengah yang kupikir sangat aneh.

“Kau tahu, hampir semua anak laki-laki berharap punya rambut yang bisa dibelah tengah seperti ini. Karena model seperti ini membuat kami terlihat lebih tampan!” seru Jesse membela potongan rambutnya. Sedangkan aku hanya bisa mengernyitkan kening.

Jujur saja, aku menyukai Jesse. Dia anak lelaki yang sangat suka bicara. Ada saja topik yang dibicarakannya. Dan karena kami berasal dari masa yang berbeda, ada begitu banyak hal yang bisa diperbincangkan.

“Anak-anak tahun 2029 benar-benar tidak perlu datang ke sekolah?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Ya, kami belajar secara online. Kami hanya perlu datang ke sekolah jika diperlukan saja.”
“Waah… senangnya! Kau tidak perlu repot-repot bangun pagi, berjalan ke sekolah dan bertemu dengan orang-orang menyebalkan. Tinggal duduk manis di kamar, dan trara!”
“Tidak juga. Sebenarnya tidak begitu menyenangkan. Di sini, semua orang sibuk dengan tablet mereka masing-masing. Tidak ada yang berbicara sebanyak kau. Kamu beruntung tinggal di tahun 1995.”

Aku melihat Jesse tersenyum. Dan senyumnya manis. Aku berharap dia mau tinggal bersamaku selamanya.
________________________________________

“Kau yakin, kau mau kembali lagi ke tahun 1995?” tanyaku.
“Ya, aku harus kembali ke masaku Jane. Aku sudah terlalu lama tinggal di sini. Jangan-jangan orangtuaku berpikir, aku sudah mati, karena dua minggu tidak pulang ke rumah.”
“Bagaimana kau yakin kau pasti kembali ke masamu?”
“Aku sudah mengatur benda ini. Berhari-hari aku mencari tahu seperti apa cara kerjanya. Sepertinya, aku berhasil mengetahui sistem kerjanya. Entahlah, kupikir, benda ini tidak beda jauh dengan tabung di lab professor tetanggaku itu.”

“Apakah aku bisa ikut?”
“Aku tidak yakin Jane. Kau lahir di tahun 2016. Aku tidak tahu apa bentukmu di tahun 1995. Jangan-jangan, saat sampai di sana, aku hanya membawa sebutir debu,” jawabmu sambil bercanda. Padahal tadi aku bertanya dengan penuh pengharapan.

Baru kali ini, aku bertemu dengan seseorang dan menjadi sangat akrab dengannya. Sejak kedatanganmu, setiap malam aku berdoa agar kau tidak berpikir untuk kembali ke masamu. Sepertinya harapanku tidak terkabul. Seminggu ini, dengan berat hati aku menemanimu mengotak-ngatik sebuah benda silinder tempat kau pertama kali muncul. Tempat yang juga membawamu kembali pergi.

“Kalau aku pergi, kamu akan mengingatku yang seperti ini kan?” tanyamu dengan nada khawatir. Aku mengangguk sambil memaksakan diri untuk tersenyum. “Walaupun aku beda 32 tahun dengan kamu?” tanyamu lagi, meyakinkan.

“Iya. Aku akan mengingatmu yang seperti ini.”

Lalu kamu mendekatiku. “Bolehkah?” tanyamu. Aku mengangguk sambil memejamkan mata.

Kau meraih wajahku dengan kedua tanganmu, dan mengecup keningku dengan bibirmu. Pada detik itu juga, aku berharap, jika teleportasi benar-benar ada, harusnya alat penghenti waktu juga ada. Biar aku dan kamu di sini selamanya.

“Ingat aku yang seperti ya. Meski mungkin suatu hari nanti kita bertemu, dan yang kau temui adalah kakek-kakek tua yang jelek dan keriput.”

Aku menggangguk. Lalu kamu memelukku. Sangat erat.
Aku menekan tombol yang akan membawamu ke masa lalu. Di dalam silnder itu, kau masih saja berbisik, “ingat aku yang seperti ini ya.”

Aku mengangguk untuk kesekian kalinya.
Juli 2014

Every now and then we find a special friend
Who never lets us down
Who understands it all, reaches out each time you fall
You’re the best friend that I’ve found
I know you can’t stay, a part of you will never ever go away
Your heart will stay
I’ll make a wish for you and hope it will come true
That life would just be kind to such a gentle mind
If you lose your way
Think back on yesterday
Remember me this way
Remember me this way

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s