Sudut Kamar

room-540833_1280

Sejak dulu, sudut itu dibiarkan kosong. Tidak diisi barang-barang atau furnitur lainnya yang biasa ada di kamar. Ia membiarkannya karena ia pikir, suatu hari nanti ia akan menemukan sesuatu yang tepat untuk mengisi sudutnya.

Sudut itu berada di pojok kanan kamarnya. Dekat dengan ranjang dan jendela kamar yang menghadap keluar. Setiap kali bangun, hal pertama yang dilihatnya adalah sudut kosong itu. Kemudian dia beranjak, dan menatap keluar lewat jendela yang agak berdebu.

Suatu kali, dia berpikir, mungkin sudut itu cocok diisi dengan sebuah rak buku. Jadi, ia membeli sebuah rak buku yang bertubuh ramping namun tinggi. Ia isi rak buku barunya dengan koleksi buku miliknya yang selama ini berada di dalam tumpukan kotak-kotak kardus.

Ia tersenyum. Rak buku itu cocok berada di sudut. Jadi setiap kali dia akan tidur atau bangun, dia akan melihat pintu-pintu petualangan yang ia miliki di rak itu. Dan itu membuatnya merasa hangat.

Sayang kehangatan itu hanya bertahan sebentar. Setelah ia merapikan kembali kamarnya, membuang barang-barang tak berguna, ia memindahkan rak buku itu ke tempat lain, di luar kamarnya. Buat apa menyembunyikan buku di dalam kamar, pikirnya. Mungkin akan lebih baik kalau rak buku itu pindah keluar, agar setiap orang dapat membacanya.

Maka, sudut itu kembali kosong.

Ia mulai berpikir untuk menjadikan sudut itu sebagai tempat ia memajang barang-barang. Tas yang sering ia gunakan. Alat-alat tulis, agenda, dan benda-benda kecil lainnya. Supaya aku bisa mengambilnya setiap hari, tanpa repot mencari-cari, pikirnya kala itu.

Namun, itu juga tidak bertahan lama. Ia mulai meletakkan barang-barang itu dengan berantakan dan akhirnya kerepotan sendiri. Barang-barang itu akhirnya ia masukkan ke dalam sebuah nakas di dekat pintu kamar. Sudut itu kembali kosong.

Berkali-kali ia berusaha mengisi sudut kosong di kamarnya dengan sesuatu yang ia pikir tepat dan enak dilihat. Namun hasilnya selalu gagal. Tidak pernah ada hal yang benar-benar terasa tepat untuk ditempatkan di sudut itu. Ia selalu menemukan tempat lain untuk barang-barangnya, yang jauh lebih tepat, dibanding diletakkan di sudut kosong itu.

Sudut itu mulai berdebu dan terlihat kusam. Ia berusaha mengenyahkan keinginan untuk mengisi sudut itu dengan hal-hal lain, karena ia tahu, itu tidak akan pernah berhasil. Ia sadar, sudut kamar itu bukan benar-benar miliknya.

“Bagian ini, cocok untuk ranjangmu. Di sampingnya ada jendela, sehingga kau dan bulan bisa saling mengintip di kala malam. Di temboknya, kau bisa letakkan lukisanku. Jadi, kau akan ingat aku dan mimpi kita setiap mau tidur dan bangun tidur. Bagaimana? Kau setuju?”

Dia hanya mengangguk.
“Kalau begitu, biar aku pasangan lukisannya.”

Ia terpejam. Mengingat kenangan itu untuk yang keseribu kalinya. Sebuah lukisan tentang sepasang kekasih yang sedang berpiknik di tepi danau. Danaunya begitu luas, dengan airnya yang biru dan jernih. Mereka duduk di antara hamparan hijau rerumputan, ditemani bunga liar berwarna-warni dan burung-burung kecil yang mematuki remah-remah roti. Di belakang mereka, tampak hutan pinus yang terlihat indah dan misterius.

“Kau selalu ingin pergi ke tempat seperti ini. Jadi kubuatkan lukisan ini untukmu, agar suatu hari nanti, kita benar-benar menemukan tempat seperti ini.”

Ia mengusap dengan lembut permukaan lukisan itu. Menyentuh danaunya dengan hati-hati. Seolah benar-benar mengandung air, yang bisa tumpah dan merusak keseluruhan lukisan.

“Aku juga memasang lampu kelap-kelip di bingkainya. Agar saat kau tidur dan mematikan semua lampu, lukisan ini akan tetap menyala. Menemani dan menjadi mimpimu.”

Ia membersihkan debu-debu yang menempel pada lampu kelap-kelip dengan tangannya sendiri. Seolah tidak keberatan dengan noda hitam yang menempel di ujung-ujung jarinya.

Lukisan itu masih sama, seperti yang pertama kali kekasihnya berikan kepadanya. Hanya saja ia tak sanggup memajang kembali lukisan itu.

Kekasihnya telah pergi, dan lukisan itu selalu membuat hatinya pedih. Tapi sudut kamar itu milik kekasihnya. Tak ada satu pun barang yang cocok di sudut itu selain lukisan kekasihnya.

Lalu ia memberanikan diri. Memajang lukisan itu sekali lagi. Kali ini, hatinya tidak terlalu perih. Ia nyalakan juga lampu kelap-kelip yang dirangkai di sepanjang bingkai lukisan. Hatinya kini merasa hangat. Kehangatan yang merayap pelan-pelan dan enggan untuk hilang. Ia melihat kekasihnya tersenyum. Ia pun berbisik, “sepertinya kau sudah menemukan tempat itu di surga.”

30 Juni 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s