Payung

“Mau payung yang kayak gimana Mbak?” tanya pria muda penjual payung dan masker di tepi jalan. Gadis itu tersenyum sambil melihat-lihat warna-warni payung yang dipajang rapi.

“Yang gagangnya kuat Mas. Punya saya yang sebelumnya rapuh banget, kena angin sedikit udah kebalik,” jawab gadis itu. Si penjual mengangguk lalu mengambil beberapa payung dan mengulurkannya kepada sang gadis.

“Ini Mbak, ada beberapa. Tapi harganya lebih mahal dari payung yang biasa.”

Gadis itu melihat satu persatu, mencoba memilih corak yang paling bagus. Pandangannya terjatuh pada payung dengan motif biru kotak-kotak. Warna birunya, juga ukuran kotaknya, mengingatkan gadis itu pada kemeja biru kotak-kotak milik seseorang yang ia kenal. Bukan hanya kenal sebenarnya.

Gadis itu memilih payung biru dan membukanya. Memastikan kebenaran kata si penjual. Setelah yakin, kalau payung itu cukup kuat, tanpa menawar harga lagi, dia segera membayar dan membawa payung itu pulang.
________________________________________

Gadis itu tidak akan pernah melupakan tatapan mata itu. Tatapan mata yang indah dan meneduhkan, persis seperti hujan. Juga baju yang dipakai lelaki itu saat berjalan bersamanya di tengah gerimis senja. Warnanya biru, motifnya kotak-kotak, persis seperti corak payung yang dimilikinya saat ini.

Sayangnya, lelaki itu tak pernah muncul lagi. Tak sekali pun, entah hari cerah, mendung, atau hujan. Dan setelah sekian lama, gadis itu baru sadar, kalau ia merindukan tatapan mata itu.

Gadis itu tahu, tidak ada satu pun hal yang terjadi di dunia ini, selain telah ditakdirkan oleh Tuhan. Sebesar apapun harapannya untuk bertemu lagi dengan lelaki itu, jika mereka tidak ditakdirkan bertemu, maka tidak akan ada pertemuan.

Petang itu hujan lagi, meski telah masuk bulan April. Tidak seperti dulu saat dia masih SD, musim hujan benar-benar berhenti di bulan Maret. Kini, tak peduli bulan apapun, hujan turun dengan sesuka hati. Seolah ingin meledeknya, karena setiap kali hujan, yang ia ingat adalah mata lelaki berkemeja biru kotak-kotak yang dirindukannya.

Gadis itu sengaja tidak terburu-buru berjalan. Lebih memilih berhenti di sebuah halte yang sepi dan hanya memandangi bulir-bulir air yang menimpa jalanan beraspal di depannya. Mobil dan motor berlalu-lalang, mencipratkan air yang menggenang di tepi trotoar.

Dari jauh, ia melihat sesuatu yang sering ia lihat di harapan-harapannya. Kemeja berwarna biru kotak-kotak, seperti motif payungnya. Jantung gadis itu berdegup kencang. Hatinya merasa takut dikhianati penglihatannya. Ia takut itu hanyalah satu dari sekian banyak halusinasi yang muncul di pikirannya.

Tapi tatapan mata yang indah dan meneduhkan itu bukan ilusi. Itu sama nyatanya dengan warna biru kotak-kotak yang menjadi motif kemeja yang dia pakai. Lelaki itu berdiri di depannya, memberi sebentuk senyum yang bagi gadis itu seperti mimpi.

“Hai, apa kabar? Udah lama nggak ketemu kamu,” sapa lelaki itu. Rambutnya basah terkena hujan. Begitu juga dengan celana dan bajunya.

Sang gadis tersenyum lebar. Mengeluarkan payung dari dalam tasnya.
“Mau pulang bersamaku?” tanya gadis itu. Lelaki itu mengangguk setuju, sambil memperhatikan payung di genggaman sang gadis.

“Payungnya bagus,” puji lelaki itu. Gadis itu tersenyum lagi.
Ya, aku memang sengaja memilih payung ini. Agar aku tidak pernah lupa, kalau kau dan hujan memiliki persamaan, begitu indah dan meneduhkan.
________________________________________
23 April 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s