Do You Remember

sea-179485_1280

Aku kembali lagi ke rumah ini. Sebuah pondok musim panas bernuansa putih di Port Orford, kota kecil di sebelah selatan pesisir Oregon. Ruby butuh waktu berhari-hari membujukku sampai akhirnya aku bersedia menerima ajakannya.

“Oh, ayolah Sam. Sudah lama sekali rasanya kita tak menghabiskan musim panas berdua. Kau selalu ikut kursus, pelatihan, pergi entah ke mana. Tak pernah mau ikut denganku ke Annie. Aku janji Sam, semuanya akan baik-baik saja. Ayolah, kau ke Annie ya?” pinta Ruby dengan wajah memohon.

Itu sudah yang ke sembilan kalinya dia mendatangi kantorku, hanya agar aku mau ikut berlibur ke Annie House, pondok musim panas milik keluarganya.

Aku menghela nafas. Menatap wajahnya yang penuh harap.
“Baiklah, aku ikut,” ujarku setengah hati yang disambut dengan lonjak-lonjak penuh kegirangan Ruby.

Rumah itu tidak jauh berubah. Tembok, jendela, dan pintu, dicat dengan warna putih bersih. Pot-pot gantung di beranda tetap terawat rapi, bahkan kini kian cantik dengan bunga yang berwarna-warni. Hanya ada sedikit perubahan pada beberapa furniture di dalam rumah. Sepertinya ada lemari yang dikeluarkan, sehingga ruang tengah dan ruang depan terasa lebih luas.

Sejak SMP, aku selalu menghabiskan dua minggu musim panas di Annie House bersama Ruby. Kadang, kami mengajak teman sekolah atau sepupu-sepupu Ruby untuk berlibur bersama. Dulu, musim panas di Annie House adalah hal yang paling kutunggu-tunggu sepanjang tahun. Tapi itu dulu. Kini, butuh keberanian yang besar untuk kembali menginjakkan kaki di rumah ini.

Aku langsung menaiki tangga menuju kamar di lantai dua. Ruby tahu, itu kamar favoritku. Ia membiarkanku begitu, sedangkan ia sendiri sibuk menjelaskan foto-foto yang dipasang di dinding ke teman-teman kerjanya. Ya, musim panas kali ini, Ruby mengajakku berlibur bersama teman-teman di kantornya. Aku, tentu saja, tidak keberatan.

Aku membuka pintu dan langsung menghampiri jendela di pojok kamar. Jendela itu menghadap ke luar, ke sisi kanan rumah, di mana terdapat sebuah kolam buatan yang cukup luas. Aku memandangi kolam itu terus, sampai tak sadar telah menitikkan air mata. Segala yang terjadi sepuluh tahun lalu, kembali menyeruak dalam benakku. Jelas sekali, sampai rasanya aku seperti menonton film. Melihat diriku sendiri duduk di sana, di pinggir kolam. Aku masih ingat, kala itu aku memakai kaus berwarna biru laut, dan dia oranye.

Malam itu, musim panas tahun 2003. Langit cerah, tak berawan. Dia duduk di hadapanku sambil memangku gitarnya. Hanya kami berdua di situ, sedangkan yang lain pergi berjalan-jalan entah ke mana.

“Aku punya sesuatu untukmu Sam,” katanya sambil memetik-metik senar gitarnya. Itu setelah kami mengobrol lama sekali.
“Apa?” tanyaku. Dia tersenyum.

“Ooh… yeah… Remember we’d be up all night, talking till the morning light, yeah…. Like the way it used to be, those simple days, just you and me, hmmm…. I think baby, I know what’s on your mind, cause you look like you’ve got something to say… I may not say those words anymore, but maybe it just ain’t my way…”

Aku tertawa mendengar nyanyiannya. Bukan, bukan karena suaranya tidak merdu. Tapi karena aku tahu, dia tahu aku tergila-gila pada Aaron Carter.

Dia berhenti bernyanyi. “Kenapa?” tanyanya heran.
“Apa yang kau lakukan? Mencoba seperti Aaron?” kataku, masih sambil menahan tawa.

Dia tersenyum sambil mengggaruk tengkuknya. Kebiasannya kalau sedang gugup.

“Aku tahu kalau kau sangat suka lagu itu. Jadi aku ingin menyanyikannya untukmu. Tapi aku juga tahu, aku tak setampan Aaron, dan suaraku tak sebagus dia juga,” katanya sambil menunduk.

Aku menyibak rambut pirangnya yang jatuh di dahi. Mata birunya bersinar lembut. Dia terlihat, sangat, sangat halus saat itu.
“Tapi aku jauh lebih menyukaimu daripada Aaron. Dia hanya ada di televisi, tapi kau ada di sini.”

Sekali lagi, matanya yang sewarna lazuardi bersinar begitu lembut. Aku menciumnya. Itu ciuman pertamaku. Saat itu, kami masih remaja 15 tahun.

“Aku mencintaimu Sam. Jangan pernah pergi,” kataku. Dia menggangguk. Aku percaya. Aku sangat percaya padanya.
“Jadi, aku boleh bernyanyi lagi?” tanyanya. Aku hanya tertawa.

“Do you remember why I walked on the water for you… do you remember my first steps on the moon. Have you ever wondered why I gave three wishes for you… you ask the question, but the answer lies in you, in you….”

Aku ingat tangannya yang menggenggam tanganku. Dia menulis dua huruf S di telapak tanganku dengan ujung jarinya. Sam loves Sam, katanya. Aku pikir, aku akan menggenggam tangan itu selamanya.

“Sam!”
Ruby membuka pintu kamar, dan menemukanku tersedu-sedu di tepi jendela. Wajahnya menyiratkan kesedihan.

“It’s ok, Samantha. Dia pasti baik-baik saja di sana.” Ruby merangkulku yang masih terisak-isak karena tangis.

“Tapi aku sangat merindukannya. Aku sangat merindukannya, Ruby. Tidakkah dia tahu, betapa musim panas begitu pedih tanpanya. Mana mungkin aku berdiri di sini tanpa mengingatnya!”

Ruby menghapus air mataku. “Kau harus kuat Sam. Sepuluh tahun, dan kau tidak boleh seperti ini terus. Dia baik-baik saja di sana Sam. Kau harus merelakannya.”

Aku kembali menatap jendela. Menatap kolam yang penuh dengan kenangan masa remaja. Berharap dia masih berada di sana.

“Kau akan mengunjungi makamnya besok kan?” tanya Ruby. Aku menggangguk. Ya, aku harus berani menghadapi kenyataan kalau ia telah tiada. Aku menatap kolam itu sekali lagi sebelum akhirnya aku menutup tirai jendela.

I really miss you, Samuel, as always….

Inspired by Aaron Carter’s song, Do You Remember
16 November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s