Yang Terlewatkan

Ke mana kau selama ini, bidadari yang kunanti
Mengapa baru sekarang, kita dipertemukan

gleise-416460_1280

“Rin, lo jadi ke Bogor kan hari ini?” tanya Dhani, teman sekelas Rina. Yang ditanya hanya mengangguk. Ini masih Rina yang sama dengan Rina yang dulu bersahabat dengan Alfi. Sampai sekarang pun mereka masih berteman baik meski sudah tinggal berjauhan. Ya, dua gadis yang dulu imut-imut dengan seragam SMP mereka, sekarang sudah berkuliah di dua tempat yang berbeda. Alfi di Surabaya dan Rina di Depok.

Rina kini sudah semester enam, mengambil program studi jurnalisme. Dan dia tidak sedang magang di sebuah majalah atau koran. Belum, lebih tepatnya. Dhani itu teman kuliahnya juga, pemimpin redaksi di majalah anak yang mereka buat di mata kuliah Produksi Media Cetak. Dan dia perempuan. Hufft, apa maksudnya coba menambahkan keterangan ini. Ah, kembali lagi ke percakapan awal.

“Lo sama Rahman kan? Udah dikirim kan suratnya?” tanya Dhani lagi, memastikan.
“Udah bos! Kita siap berangkat abis ini,” jawab Rina. Mereka baru saja selesai kuliah pagi.

Dhani mengangguk puas. Kemudian tersenyum. “Oke, selamat berjuang!” serunya. Rina hanya tertawa melihat kelakuan gadis itu. Tidak lama, yang ditunggu datang. Rahman, teman satu timnya. Mereka akan ke Bogor bersama untuk meliput sebuah sekolah.

Sebenarnya Rina bisa saja berangkat sendirian ke sana. Toh, Bogor bukan tempat yang jauh. Tapi, dia sedang malas kelayapan sendiri. Dan hanya Rahman yang memiliki waktu luang untuk pergi liputan juga.

Tak ada yang istimewa dengan perjalanan mereka sebenarnya. Atau mungkin Rina yang tidak berhasil menemukannya. Menurutnya, Bogor masih begitu-begitu saja. Dan dia sedang gugup. Rina selalu gugup setiap akan melakukan liputan atau wawancara. Padahal, ia sudah melakukannya untuk yang ke sekian kali. Tetap saja ia selalu dihantui perasaan cemas. Takut terjadi sesuatu yang merusak atau menggagalkan rencananya.

Mereka sampai dengan selamat, meski agak tersendat-sendat, karena berusaha menemukan alamat yang tepat. Yang pertama kali menyambut mereka adalah sebuah gerbang besi tinggi dan seorang satpam yang tersenyum ramah. Setelah memberi tahu maksud dan tujuan mereka, satpam itu mempersilakan Rina dan Rahman masuk.

“Widih, sekolahnya gede banget. Ckckck…” ujar Rahman sambil memperhatikan sekelilingnya. Ternyata, di balik gerbang itu terdapat areal yang luas sekali dan dipenuhi riuh rendah pekikan dan tawa anak-anak. Mereka berseragam merah putih. Lapangan dan taman yang dimiliki itu luas sekali. Bahkan, untuk sampai ke ruang guru pun, mereka berjalan cukup jauh.

“Iya, ini areal sekolahnya digabung gitu lho. Ada SD, SMP, dan SMA. Tapi kayaknya, yang SMA agak ke sanaan lagi. Makanya keliatan gede banget,” jawab Rina. Dia sudah mencari tahu sedikit informasi mengenai sekolah yang akan dia datangi.

“Oh, digabung. Kayak apa ya rasanya?” tanya Rahman sambil membayangkan anak-anak SD, SMP, dan SMA berhamburan dari kelas masing-masing sepulang sekolah. Dia tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya.

“Seru kok!” jawab Rina. Tiba-tiba dia teringat dengan sekolahnya. Sekolahnya juga bermodel seperti itu. Bedanya, di sekolah Rina, hanya SMP dan SMA yang berada dalam satu lokal. Kebetulan yayasan sekolahnya memang tidak mendirikan SD.

Setiba di ruang guru, mereka disambut oleh wakil kepala sekolah yang juga berwajah ramah. Rina bisa sedikit berlega hati karenanya. Pihak sekolah memang sudah tahu akan kedatangan mereka karena sebelumnya sudah meminta izin melalui surat.

“Sebenarnya sih, yang lebih tepat untuk diwawancara itu bukan saya Mbak. Tapi guru yang mencetuskan program tersebut. Kemarin saya sudah bilang, kalau ada mahasiswa yang mau ke sini untuk tanya-tanya tentang hal itu. Dia sudah setuju. Mungkin masih di kelas. Sebentar lagi ke sini sepertinya, karena memang sudah masuk waktu istirahat juga,” ujar bapak wakil kepala sekolah setelah mereka beramah tamah di awal. Rina dan Rahman mengangguk sambil tersenyum.

Rina memandang ke luar ruangan melalui pintu yang terbuka. Terlihat murid berlalu lalang melewati ruang guru tersebut. Tidak lama, seorang pria muda masuk. Berseragam guru seperti yang dikenakan guru-guru lainnya. Rina menaksir, usianya mungkin tidak lebih dari 25 tahun. Ia bertubuh tinggi, dengan badan tegap dan kekar, dan sorot mata tajam di balik kacamatanya. Tapi tersenyum ramah saat menghampiri mereka.

“Nah, ini dia yang ditunggu dateng. Mbak Rina, Mas Rahman, ini Pak Irwan, guru yang saya bilang tadi. Nah, kalian mungkin bisa ngobrol lebih banyak sama Pak Irwan saja. Nanti, kalau ada perlu apa-apa, bisa temui saya di ruang kepala sekolah ya?” ujar bapak wakil kepala sekolah. Rina dan Rahman mengangguk sambil tersenyum. Membiarkan bapak itu pergi dan Pak Irwan menggantikan tempatnya.
Mereka berbincang di sofa, dan Pak Irwan duduk tepat berhadapan dengan Rina. Saat melihatnya untuk yang pertama kali, rasanya panggilan ‘Pak’ terlalu tua untuk pria itu.

“Perkenalkan, saya Irwan, guru matematika dan IPA di sekolah ini,” ujar pria itu membuka percakapan. Rina dan Rahman membalasnya dengan menyebut nama masing-masing.

“Iya Pak, jadi maksud kedatangan kami ke sini, ingin menanyakan program yang dilakukan sekolah ini untuk para muridnya. Ini untuk tugas mata kuliah kami Pak,” dan beberapa kalimat tambahan lain dari Rina yang tak ingin dituliskan di sini. Intinya menerangkan sekali lagi maksud dan tujuan mereka.

Untuk kedua kalinya, Rina melihat pria itu tersenyum lagi. Dan kali ini, ia merasa seperti terlempar ke suatu masa yang sudah lama ia tinggalkan.

“Fi, Fi, itu Udin Fi!” seru Rina saat mereka berjalan bersama menuju kelas bimbingan belajar. Sore itu mereka ada kelas tambahan, untuk persiapan ujian nasional. Alfi dan Rina sudah kelas 3 SMP sekarang.

“Mana? Mana?” tanya Alfi tak kalah ribut. Rina mengarahkan telunjuknya ke gerombolan kelas 3 SMA yang juga akan kelas bimbingan seperti mereka. Di sana ada cowok pujaan hatinya, siapa lagi kalau bukan Udin! Berjalan bersama teman-temannya, ia terlihat sedang membicarakan sesuatu yang seru, karena beberapa kali Rina menemukan senyumnya.

“Ya ampun Fi, dia cakep banget pas lagi senyum kayak gitu…” ujar Rina, terdengar seperti orang menggumam. Sedangkan tanpa sadar, tangannya menggenggam erat tangan Alfi. Ia gugup sekali. Apalagi, rombongan itu makin dekat dengan mereka, yang sedang berjalan menuju arah yang sama.

“Iya, manis juga ya dia. Cool banget gitu loh Rin,” Alfi ikut memuji. Bukannya berjalan lebih cepat, mereka berdua malah melambatkan jalan karena ingin melihat Udin.

“Aduh, gimana ini Fi, rombongan mereka banyak banget lagi. Sekelas kali ya jalan bareng-bareng? Kita harus gimana nih?” tanya Rina mulai panik. Alfi baru sadar kalau mereka sedang melakukan tindakan semi konyol, memelototi anak-anak kelas 3 SMA yang sedang berjalan menuju kelas.

“Pura-pura iket sepatu!” seru Alfi sambil merunduk. Tangannya pura-pura mengikat tali sepatunya yang tidak kenapa-kenapa. Ini dilakukannya untuk membiarkan rombongan itu lewat duluan. Tentu saja lebih enak berjalan di belakang mereka, daripada di depan. Kadang, senior itu suka usil kalau ada junior yang lewat di dekat mereka. Apalagi rombongan itu laki-laki semua. Rina dan Alfi tak mau ambil resiko.

“Yah, sepatu gue nggak bertali lagi!” seru Rina menyesali sepatunya yang seperti sepatu anak SD. Dia baru sadar kalau sepatunya adalah model sepatu keds anak kecil yang tak bertali. Tapi karena tidak mau berdiri sendirian, akhirnya Rina ikut-ikutan menunduk seperti Alfi. Rombongan itu lewat dengan suara mereka yang terdengar menggelegar di telinga Alfi dan Rina. Untunglah, mereka tidak peduli dengan keberadaan dua gadis yang membetulkan sepatunya di tepi jalan.
“Fiuh… akhirnya,” gumam Rina.

Rina merasa lengannya disenggol pelan oleh Rahman yang duduk di sebelahnya. Ternyata ia melamun tadi, dan tidak sempat menanyakan pertanyaan pertama yang sudah ia susun. Ia tergagap, kembali memperhatikan Pak Irwan yang menjawab pertanyaan dari Rahman.
Rina segera mengambil notes kecilnya untuk mencatat hal-hal penting, meski Rahman sudah menggunakan ponselnya untuk merekam wawancara mereka. Sekali lagi Rina melihat wajah pria itu. Ya, Rina seperti mengenalnya. Wajah pria itu mengingatkan Rina pada Udin, laki-laki yang disukai Rina enam tahun yang lalu.

Enam tahun. Rasanya bukan waktu yang singkat. Rina bahkan hampir melupakannya. Dia tidak tahu di mana Udin melanjutkan kuliah, di mana dia tinggal, sudah bekerja atau belum, sudah menikah atau belum. Rina tidak tahu sama sekali. Dan ia sempat mengira kalau Pak Irwan adalah Udin yang dulu ia sukai. Tapi rasanya tidak mungkin juga. Terlalu kebetulan, terlalu dipaksakan. Mungkin wajah mereka hanya mirip. Mungkin Rina yang salah lihat. Mungkin Rina yang terlalu memirip-miripkan. Terlebih lagi, enam tahun tak bertemu, Rina hanya memiliki ingatan samar-samar dengan wajah itu.

Wawancara terus berjalan. Rina menanyakan beberapa pertanyaan. Tapi lebih banyak Rahman yang bertanya, karena Rina lebih sibuk melamun. Mengingat masa lalu, yang terasa jauh sekali. Namun, di saat yang sama, seperti baru terjadi kemarin.

Ya, rasanya seperti baru kemarin ia dan Alfi menanti-nanti, menunggu, mencari Udin berkeliaran di area sekolah mereka. Rasanya baru kemarin, ia merasa begitu kesal karena nama cowok yang disukainya Udin. Rasanya baru kemarin, ia merasa seperti sedang jatuh cinta. Begitu bahagia dan gugup saat Udin lewat. Begitu cemas dan berharap saat ia tidak lewat. Yah, hal-hal seperti itulah. Dan itu sudah enam tahun yang lalu.

Rina menghela nafas. Mungkin terlalu keras, sehingga Pak Irwan dan Rahman memandang ke arahnya. Rahman mendelik ke arahnya karena kesal. Pak Irwan hanya tersenyum. Dan untuk ketiga kalinya, Rina merasa pria itu mirip sekali dengan Udin. Tapi apakah mungkin dia benar-benar Udin yang dulu Rina sukai?

Dulu, Rina bahkan tak sempat berkenalan dengan Udin. Lebih tepatnya, tidak berani. Suaranya saja sudah tercekat saat Udin membantunya waktu ia tersandung. Lalu Udin lulus, pergi begitu saja meninggalkan sekolahnya. Meninggalkan Rina yang merasa sedih, namun tidak melakukan apa-apa. Terlalu malu untuk mencari tahu apapun lagi tentangnya.

Kini, suara Rina tercekat lagi. Rasanya, ini wawancara terburuk yang pernah ia lalui. Biasanya, jika ia sudah bertemu dengan narasumber dan memulai pembicaraan, gugupnya sudah hilang, dan obrolan berlanjut dengan lancar. Tapi kali ini tidak. Rina merasa seperti keluar masuk mesin waktu. Melamun, melihat pria itu lagi, melamun lagi, mencatat sedikit, melamun lagi, begitu seterusnya.

“Pak, boleh minta nama lengkapnya, dan nomor yang bisa dihubungi. Mungkin, ada hal-hal yang ingin ditanyakan lagi nanti, saat kami menulis artikel ini,” ujar Rina, saat ia sadar wawancara mereka telah selesai.

Pak Irwan mengangguk. Rina menyerahkan notes kecilnya untuk ditulis langsung oleh pria itu. Hal yang selalu ia lakukan di sesi terakhir wawancara. Segera setelah pria itu selesai menulis, Rina melihat notesnya. Tersentak melihat nama yang tertulis di sana. Saripudin…

Mata Rina nanar. Ia membaca kelanjutan nama itu. Merasa kembali lagi masuk mesin waktu. Ia seperti mendengar tawanya sendiri dan tawa Alfi saat mereka menemukan lembaran kertas berisi daftar hadir murid kelas 3 SMA. Di situ tertulis nama lengkapnya Udin. Persis seperti yang ada di notes Rina, hanya saja yang ini sudah memiliki gelar, Sarjana Pendidikan.

Rina mengepalkan tangannya untuk menghilangkan rasa kaget dan gugup. Kalau di sebelahnya ada Alfi, mungkin telapak tangan sahabatnya itu sudah habis ia genggam dengan erat. Tapi, kini semuanya serba lain.

Rina masih bisa mendengar Rahman berbasa-basi, berterima kasih karena sudah menyambut dengan baik kedatangan mereka dan bersedia diwawancara. Tapi kepalanya sibuk berpikir, apa yang harus dia lakukan saat ini. Apakah dia harus menanyakan di mana pria itu dulu pernah bersekolah? Hanya untuk memastikan dia lelaki yang sama dengan yang dulu dilihat Rina. Tapi, sekali lagi, Rina terlalu malu untuk melakukannya. Lagipula untuk apa? Kalau memang mereka satu sekolah, lalu mau apa? Rina jadi bertanya-tanya sendiri dalam hatinya.

“Terima kasih ya Pak,” ujar Rina ikut berbasa-basi.
“Iya, sama-sama Mbak Rina,” jawab Pak Irwan, masih ramah seperti pertama kali. Mereka berjalan keluar meninggalkan ruang guru. Pak Irwan berniat mengantarkan mereka sampai gerbang.
“Jadi, ke sini tadi dari Depok naik apa? Kereta?” tanya Pak Irwan. Rahman mengangguk.
“Iya Pak, lebih cepat juga. Tadi sempet nyasar sebentar sih pas cari jalan ke sini,” jawab Rina. Memandang pria itu untuk yang ke sekian kalinya. Menyadari betapa mereka berdua kini telah jauh berbeda.

Ingatan Rina pada Udin adalah ingatan pada seorang remaja berseragam putih abu-abu dengan ransel hitam di punggungnya. Kadang, sambil menenteng buku kumpulan soal ujian. Kini, yang berdiri di depannya adalah seorang guru muda, yang selalu dicium tangannya setiap bertemu dengan murid-muridnya.

Mereka telah sampai di gerbang. Pak Irwan memberikan senyumnya lagi. Entah kenapa, membuat Rina merasa sedih. Ia tidak tahu apakah bisa melihat senyum itu lagi. Apakah masih ada kesempatan untuk melihatnya kembali. Bahkan, pertemuan kali ini saja rasanya seperti mimpi.

Rina melangkahkan kakinya dengan gontai. Di sebelahnya, Rahman memperhatikannya dengan wajah penasaran.
“Lo kenapa sih Rin? Aneh banget deh hari ini, nggak biasanya,” ujar Rahman. Rina menoleh tanpa semangat.
“Maksudnya, aneh gimana?”
“Iya, perasaan liputan sebelum-sebelumnya lo nggak kayak gini. Bengong aja kerjaannya. Bukannya nanya-nanya. Kenapa sih?” tanya Rahman penasaran. Rina hanya menggeleng lemah. Tidak ingin membuka cerita masa lalunya.

Mereka naik kereta lagi. Kali ini, Rina sepenuhnya termenung sepanjang jalan. Rahman tidak lagi mengusiknya. Membiarkan Rina tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Di kereta, semua slide kenangan itu berputar kembali. Kembali terlihat jelas dalam ingatan Rina. Memaksanya menerima kalau itu sudah berlalu dan tidak bisa kembali. Ia teringat dengan sore-sore yang ia lalui bersama Alfi. Lalu ia sadar dengan sore-sore yang ia lalui saat ini.

Betapa jauh berbeda. Sorenya kini ia lalui dengan perasaan lelah, pusing, dan ingin segera beristirahat. Tidak sempat lagi ia menikmati angin dan mentari senja seperti yang dulu ia lakukan saat SMP. Semuanya berubah dan ia ingin kembali ke masa itu sebentar saja. Berharap ia lebih berani untuk menyapa Udin.

Tapi semuanya sudah berlalu kini. Rina harus melepaskannya. Kalau memang ditakdirkan untuk bertemu lagi, pasti akan dipertemukan kembali.

Bila terulang kembali, kau tak akan terlewati
Segenap hati kucari, di mana kau berada…

12-13 Maret 2013
Tuhan, seperti apa rasanya di pertemukan kembali?

Catatan: Cerita ini adalah lanjutan dari Short Story “Siapa Namanya??”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s