The Art of Letting Go (2)

flowers-260897_1280

Februari 2014

Bagaimana rasanya menyukai seseorang selama bertahun-tahun. Tujuh tahun mungkin, atau lebih. Lalu, setelah selama itu, kau harus merelakannya. Membiarkannya benar-benar pergi dari hatimu. Reina tak tahu bagaimana caranya. Setidaknya, Reina belum menemukan cara yang paling ampuh.

Bagaimana mungkin, dia bisa melupakan, perasaan yang pernah hadir tujuh tahun lalu. Ketika setiap cuaca dan musim selalu mengingatkan Reina padanya. Ketika setiap perubahan waktu, ada saja yang membuat Reina teringat padanya. Ketika kata-kata yang pernah Reina dengar darinya seolah bergema kembali. Ketika setiap lagu masa lalu yang begitu ia sukai, selalu mengajaknya kembali ke sana.

Reina telah berusaha, dengan segenap kemampuan yang ia punya. Tapi pada akhirnya, dia melihat semuanya
seperti sia-sia. Ia akan selalu terlempar kembali ke masa itu. Masa tujuh tahun lalu. Mengisap manisnya kenangan yang semu. Dan teracuni, hingga merasa tak mungkin memiliki yang lebih indah dari itu.

Namun pada akhirnya, Reina tahu, ia harus menghadapi kenyataan. Ia tahu, dunia kenangan hanyalah ilusi yang melenakan. Pada akhirnya, seperti yang telah ia sadari bertahun-tahun yang lalu, ia harus mengalah.
Ia akan mengalah. Ia pasti mengalah. Ia mau mengalah. Itu akan dia lakukan. Diminta atau tidak. Hanya saja, dia tidak tahu, bagaimana cara menetralisir perasaannya. Menjadikan kenangan yang ia punya, tidak menusuknya setiap kali ia ingat. Agar ia bisa menerima semuanya dengan lapang dada, dengan semua keikhlasan yang ia punya. Tapi Reina benar-benar tidak tahu caranya. Dan untuk itulah, dia kembali duduk di taman. Membuat janji pertemuan dengan sahabatnya, David.

“Apa yang terjadi?” tanya David, sambil menghempaskan tubuh kurusnya di bangku, tepat di sebelah Reina.
“Dia akan menikah,” jawab Reina singkat. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
David tersenyum, “denganmu?” ledeknya. Disambut dengan kepalan tangan Reina ke arah wajahnya.
“Dasar bodoh!” seru Reina.
“Aku pikir kamu telah melupakannya,” kata David.
“Aku juga berpikir seperti itu,” sahut Reina.
“Lalu, mengapa kau tidak lanjutkan saja pikiranmu itu? Kenapa harus berpikir yang lain?”

Reina tidak menjawab pertanyaan David. Dia malah menundukkan wajahnya. Menyembunyikan air mata yang sebentar lagi akan mengalir.
“Kamu tidak pernah tahu seperti apa rasanya. Kadang ada hari di mana aku merasa, aku sama sekali tak memiliki perasaan apapun kepadanya. Bahkan meski aku mendengarkan lagu yang biasanya membuatku teringat padanya. Iya, aku tetap ingat. Tapi rasanya tidak sakit. Lalu ada saat, di mana mengingat sedikit saja, rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuh.”

Mata Reina berkaca saat mengatakan hal itu pada David.
“Aku tidak ingin melupakannya, tentu saja. Aku hanya ingin tahu, apakah ada semacam penawar, agar ketika kenangan itu muncul, aku tidak perlu merasa sakit. Tidak perlu merasa seperti orang sekarat. Adakah?”

David menerawang. Berpikir. Melihat hal itu, Reina kembali melanjutkan ceritanya.
“Setiap aku melihat langit, aku ingat langit yang waktu menaungiku saat pertama kali melihatnya. Setiap aku melihat senja, aku ingat senja saat aku berdiri menunggunya. Adakah yang lebih menyebalkan dari hal itu?”

David diam saja. Wajahnya termenung. Seperti ikut merasakan apa yang Reina rasakan.
“I wonder why some people keep chasing for someone who doesn’t love them back,” ujar David, seolah berkata pada dirinya sendiri.
“That’s the reason why people said love is so unfair,” sahut Reina. David tertawa mendengarnya.
“Itu Nikka Costa yang bilang!” seru David. Mereka tertawa berdua.
“Aku berharap dia segera menikah,” kata Reina tiba-tiba.
“Kenapa?” tanya David bingung.
“Jika dia menikah, mungkin aku akan sadar, kalau dia benar-benar harus pergi. Dan aku bisa mengingatnya tanpa harus merasa sakit lagi.”
“Kau pernah berharap suatu hari nanti menikah dengannya?”

Reina menggeleng pelan. “Sebenarnya tidak. Seandainya aku bisa memilih, aku tidak terlalu ingin menikah dengan dia. Kau tahu, dia bukan tipeku,” jawab Reina sambil mengangkat bahu. “Lagipula, saat ini, aku tidak terlalu tertarik dengan pernikahan,” lanjutnya lalu tersenyum.

David mengangguk. “Lalu kau tertarik dengan apa?”
“The art of letting go. Seni melepaskan. Kau belum selesai memberitahuku tentang hal itu,” jawab Reina cepat.

David menelan ludah. Dahulu, begitu mudahnya ia menjelaskan The Art of Letting Go kepada Reina. Dulu, sebelum dia harus melepaskan seseorang yang telah menjungkirbalikan hatinya, hidupnya. Tapi apalah yang harus dia lakukan. Dia tidak mungkin mendapat apa yang dia inginkan.

“Kok diam?”
“Mudah saja Reina. Kamu hanya perlu berdoa. Berdoa lebih banyak. Berdoa lebih sering. Berdoa tanpa putus. Bahkan di saat kamu merasa baik-baik saja, kamu harus tetap berdoa. Agar perasaan itu tidak menyakitimu. Agar kenangan itu tidak menusuk hatimu. Agar kamu kuat menghadapi semuanya,” kata David dengan suara bergetar.

Perubahan yang terjadi pada diri David membuat Reina heran. Mengapa sekarang David yang terlihat bersedih dan merana. Tanpa sadar, Reina menggenggam tangan David dan memperhatikan wajahnya.
“Kamu baik-baik saja kan?” tanya Reina cemas. David mengangguk.
“I wonder why people whom we loved never love us back? What’s wrong with us?” tanya Reina dengan pandangan kosong.
“Kamu ingat tentang pai bluberi di My Blueberry Nights?” tanya David.
Reina mengangguk, “tidak ada yang salah dengan pai bluberi. Hanya, orang-orang memilih yang lain. Kita tidak bisa menyalahkan pai bluberi. Hanya, tidak ada yang menginginkannya.”

David tersenyum mendengar perkataan Reina.
“Jadi, apakah kita adalah pai blueberi itu?” lanjut Reina.
“Iya. Tapi percayalah, akan ada saatnya pai bluberi itu diinginkan seseorang. Seseorang yang teramat spesial, karena ia bukan hanya bisa menerima manis, tapi juga asamnya bluberi,” jawab David sambil membalas genggaman tangan Reina.

“Aku penasaran, siapa yang membuatmu bersedih?” tanya Reina. David hanya membalasnya dengan senyum sok misterius.
“Biarkan aku menemanimu datang ke pernikahan orang yang kau sukai. Nanti, giliranku yang menunjukkan orang yang aku maksud. Aku hanya berharap, kamu tidak terkejut.”
“Oke! Deal!” seru Reina setuju. Entah mengapa, setelah berbicara pada David, ia merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Sekarang, Reina lebih tertarik pada orang yang dimaksud David. Seperti apa orangnya, cantikkah dia?

Di saat yang sama, David memikirkan undangan pernikahan yang baru saja ia terima sebelum bertemu Reina sore ini. Orang itu, orang yang David temui tiga tahun yang lalu. Usianya lebih tua tiga tahun dari David, tapi ia sama sekali tidak bersikap seolah-olah ia lebih tua. Ia seperti teman, teman yang sangat ramah.

Mereka bertemu saat ia dan David sama-sama belajar di negeri orang. Ketika orang itu pulang, David pun ikut pulang. David melakukannya karena berharap tetap bisa bertemu dengan orang itu. Sayang sekali, setahun kemudian, dia kembali lagi ke negara tempat mereka bertemu pertama kali. Tapi David tidak mungkin ikut. Apa kata orangtuanya nanti. David pikir, mungkin lebih baik ia menunggunya pulang.

Lalu, tanpa disangka, David bertemu Reina. Berteman dengan gadis itu, sejenak membuat David melupakannya. Ketika orang itu pulang lagi, hatinya jungkir balik kembali. Tapi kejutan yang dibawanya tidak menyenangkan untuk David. Sebuah kartu undangan berwarna biru. Mengubur semua mimpi David, jauh, jauh, jauh ke dalam tanah.

“Kita bertemu lagi di sini. Hari Sabtu, dua minggu lagi. Itu hari pernikahannya,” kata Reina, membuyarkan lamunan David. David mengernyit.

“Sabtu dua minggu lagi?” ulang David memastikan. Reina mengangguk. “Kalau begitu, kita datang ke dua pesta pernikahan.”

Reina membelalakan matanya. “Ya Tuhan! Kita adalah manusia-manusia yang ditinggal nikah! What a pity!” seru Reina. David mengacak rambut Reina sambil tertawa.
“Jangan lupa pakai gaun yang cantik. Supaya dia menyesal karena tidak menganggapmu,” pesan David. Reina mengangguk. Urusan ini tiba-tiba terasa menyenangkan baginya.

Hari Sabtu yang ditunggu David dan Reina tiba. Reina memakai gaun berwarna hijau tosca yang lembut, dengan sentuhan tulle di bagian pinggang ke bawah. Rambut panjangnya dikepang menyamping. Sedangkan David terlihat lebih gagah dan berisi dengan jas hitam yang ia pakai.

“Kamu hafal alamatnya kan?” tanya David sambil menyetir mobil. Reina yang duduk di sebelahnya hanya mengangguk sambil mengetik sesuatu di handphone. Lalu menyerahkan handphonenya pada David.

“Ini alamatnya. Kamu tahu kan?” tanya Reina. David terperangah.
“Kenapa?” tanya Reina khawatir. “Kamu tahu kan?”
David mengangguk dan mempercepat laju mobilnya. Ia hanya ingin segera sampai.

Memasuki gedung tempat pernikahan orang yang kita cintai, seharusnya terasa berat bagi Reina. Tapi sepertinya, Reina tidak terlalu merasakannya. Ia bertemu dengan beberapa teman sekolahnya, dan mereka banyak berhenti untuk bercakap-cakap sebentar. Sedangkan David, perasaannya campur aduk. Dia berharap tidak ada lagi teman Reina yang mencegat mereka.

“Aduh David, kenapa sih kamu buru-buru? Penasaran ya?” tanya Reina enteng. Wajahnya terlihat ceria. Wajah sedih dan air matanya dua minggu lalu seperti hilang tak berbekas.

David tidak berkata apa-apa. Dia menarik tangan Reina dengan agak kasar, agar mereka segera bertemu dengan pengantinnya.
“Jangan buru-buru dong David!” seru Reina sambil melepas genggaman tangan David. “Sebenarnya, aku belum siap melihat dia menikah secepat ini,” jawab Reina sambil menunduk.
“Tapi kita harus melihat pengantin secepatnya Rei!” sahut David, tidak menerima bantahan.

Dan saat mereka telah berdiri di depan kedua mempelai, tangan David terlepas begitu dari lengan Reina.
“David? Reina? Aku nggak nyangka kalian ternyata saling kenal, dan bahkan datang bersama ke pernikahan aku,” ujar orang itu dengan wajah berbinar. Wajah yang dilihat Reina tujuh tahun lalu. Orang yang menjungkirbalikan dunia David tiga tahun lalu.

Untuk beberapa detik, baik Reina maupun David hanya terdiam. “Oya, perkenalkan, ini istriku, Indah,” lanjut orang itu.

Reina meremas lengan David dan berbisik, “jangan bilang ini pernikahan yang sama dengan pernikahan yang kamu maksud.” Dan David memang tidak sanggup mengatakan apa-apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s