The Art of Letting Go (1)

bench at autumn

Agustus 2011

Langit biru dan angin yang bertiup sepoi-sepoi adalah perpaduan sempurna bagi sebuah sore yang indah untuk menggambar. Reina mengambil tempat duduk di sebuah bangku taman kota yang menghadap ke arah kolam buatan yang cukup luas, kemudian mengeluarkan buku sketsa mungilnya dan sekotak pensil warna. Di tengah-tengah kolam itu terdapat air mancur dan beberapa daun teratai yang mengambang lebar di air yang berwarna biru agak kehijauan. Beberapa orang berlalu-lalang, ada yang sengaja datang ke taman, ada juga yang hanya berlalu begitu saja.

Beberapa hari terakhir, Reina selalu menghabiskan sore di taman ini. Lebih tepatnya sejak dia –orang yang tak mau Rei sebut namanya- pergi ke benua lain. Reina tak ingin mengatakan kalau ia terpuruk, tapi ia mengakui kalau ia menjalani hari-harinya dengan aneh. Seperti robot. Tanpa hati, tanpa rasa. Dan untuk mengurangi atau mungkin menghilangkan segala keanehan itu, ia mencoba mengalihkannya dengan menggambar.

Reina tidak mahir menggambar. Ia hanya menyukainya. Hasilnya pun tidak bisa dibilang bagus. Ia tak pernah bisa menggambar tubuh manusia secara proporsional. Ia juga tidak bisa menggambar wajah dengan baik. Ia hanya bisa menggambar benda-benda selain manusia. Kalaupun ia menggambar manusia, pasti tak pernah ditunjukkan seperti apa rupa mata, hidung, dan mulutnya. Walaupun begitu, ia merasa senang jika telah menyelesaikan sebuah gambar.

Reina mulai menoreh garis-garis halus di lembaran putih buku sketsanya. Tak terganggu sedikitpun dengan keadaan taman yang makin ramai seiring senja yang terus berlalu. Syukurlah, belum ada satu orang pun yang duduk di bangku tempat Reina duduk. Seolah orang-orang membiarkan Rei menggambar dengan tenang. Tapi itu hanya bertahan sampai gambarnya setengah jadi. Karena Rei tiba-tiba merasa ada yang memotret dirinya. Terdengar suara jepretan kamera beberapa kali.

Awalnya Rei tak mau salah kira. Ia berharap, bukan dia yang jadi objek foto kamera itu, tapi hal lain di sekitarnya. Jadi, Rei terus melanjutkan mewarnai gambarnya dengan wajah yang sengaja ditundukkan. Terlihat sangat serius, padahal Rei hanya ingin menutupi wajahnya. Namun, meski Rei sudah menunduk dalam-dalam dan pura-pura tidak sadar kalau ada kamera di dekatnya, orang itu terus saja memotret ke arah Reina. Reina mulai jengah dan memberanikan diri mengangkat wajahnya.

KLIK!

Dalam waktu sepersekian detik, lensa kamera itu menangkap pantulan wajah Reina. Si pemotret tersenyum senang ke arahnya sedetik setelah itu.

“Hei, kau tak boleh memotret orang seenaknya!” seru Reina. Pemuda yang berdiri di depannya tersenyum.
“Kau tampak serius sekali tadi. Itu menarik,” jawabnya tanpa merasa bersalah sedikitpun. Ia malah menghampiri Reina dan duduk di sebelahnya tanpa izin terlebih dahulu.
“Sedang menggambar apa?” tanya pemuda itu sambil melirik buku sketsa Reina tanpa canggung. Reina cepat-cepat menutup halaman yang sedang ia gambar.
“Bukan urusanmu,” jawab Reina.
“Oke. Maaf. Oh ya, namaku David. Pendatang baru di kota ini!” sahutnya sambil mengulurkan tangan. Reina menyambutnya dengan sedikit sungkan.
“Reina.”
“Apa kau selalu menggambar di sini?” tanya David. Reina mengangguk sambil tersenyum. Ia melirik David, dengan kamera SLR yang menggantung di lehernya. Pemuda itu bertubuh kurus, tidak terlalu kurus, tapi cukup kurus. Kulitnya berwarna cokelat terang, dan rambutnya yang lurus di sisir dengan rapi model belah tengah. Senyum dan wajahnya mengingatkan Rei pada aktor China, Jimmy Lin, yang terkenal di era 90an.
“Baru beberapa hari terakhir. Dan, apakah kau selalu memotret seseorang tanpa izin?” tanya Reina. David tertawa mendengarnya.
“Yah, jika ia terlalu menarik untuk di foto dan aku tidak berniat menganggunya.”
“Aku merasa terganggu tadi.”
“Oke, aku minta maaf. Nah, jadi, apa yang tadi kau gambar?”
“Bukan apa-apa.”
“Boleh aku lihat?”

Reina mengalah kali ini. Daripada ia diganggu terus dengan pemuda asing yang tak jelas dari mana asalnya, lebih baik memenuhi permintaannya dan menyuruhnya pergi setelah itu.

David membuka lembar demi lembar buku sketsa Reina. Menemukan sebuah tema untuk semua gambar yang tertera di sana.

“Lonely…” ujar David. “Apakah kau menggambar untuk mengungkapkan perasaanmu?”

“Apakah itu penting?” tanya Reina yang mulai malas ditanya-tanya lagi.
“Ya, tentu saja. Menggambar adalah salah satu bentuk pemulihan. Kau sedang sakit?”

Reina mengernyit mendengar pertanyaan itu. Sepertinya ia sedang berbicara dengan orang sinting.
“Iya, sakit hati!” jawab Reina sekenanya. Ia tidak sakit, yah secara fisik itu benar. Tapi hatinya memang sedang bermasalah. Dan ia jadi bertanya-tanya, apakah itu terlihat dari wajah dan sekujur tubuhnya.

“Oh pantas! Penyakit yang paling memungkinkan memang itu! Kamu kenapa?” tanya David enteng, seolah sedang bercakap dengan kawan lama. Lagi-lagi Reina hanya bisa mengerutkan kening.

“Hei, pendatang baru, selain memotret tanpa izin, apakah kau juga selalu ikut campur urusan orang lain?” tanya Reina dengan nada nyinyir. David yang disindir seperti itu malah tertawa. Merasa itu bukan sebuah masalah.

“Oh, whatever! Terserah apa katamu. Yang jelas, dari gambarmu, aku melihat kau mengalami depresi yang cukup parah,” kata David serius.

“Hei! Kau ini juru foto atau cenayang sih?” seru Reina.
“Apa yang terjadi padamu? Sepertinya kau baru saja ditinggalkan,” ujar David tanpa mempedulikan seruan Reina barusan. Mendengar itu Reina menunduk. Teringat kembali dengan –orang yang tak mau Rei sebut namanya-.

“Apa kau baru saja ditinggal oleh kekasihmu?” tanya David lagi.
“Dia bukan kekasihku. Dia hanya kakak kelasku.”
“Dan kau menyukainya?”
“Kurasa…”
“Oh, tidak! Aku salah! Pasti bukan itu!”
“Maksudmu?”
“Kau tidak menyukainya. Kau pasti sangat mencintainya. Iya kan?” tebak David. Reina mengangguk. Lalu cepat-cepat menggeleng.
“Aku tidak mau mengatakan kalau ini cinta. Aku bahkan tidak tahu seperti apa cinta itu. Aku hanya terlalu menyukainya,” jawab Reina.
“Oh, baiklah. Lalu apa yang terjadi dengannya? Maksudku, kenapa dia pergi?”
“Karena dia memang harus pergi. Dan aku tidak punya hak untuk mencegahnya.”
“Oh, kuharap dia pergi dengan damai.”
“Hei, maksudmu apa? Dia masih hidup!” seru Reina tidak terima.
“Oh, kupikir,” sahut David. “Setidaknya itu tidak terlalu buruk.”

Ada jeda diam yang cukup lama. David menoleh ke arah Reina, “bagaimana semua itu berawal?”
Reina menunduk, mengayun-ayunkan kedua kakinya. “Aku bahkan tidak tahu apapun tentang dia saat menyukainya. Aku tidak tahu namanya, siapa dia, yah, pokoknya tidak tahu apa-apa, kecuali satu hal. Kami satu sekolah, dan dia kakak kelasku.”

Kali ini pandangan Reina beralih ke kolam yang berada di depannya. Beberapa anak kecil melempar kerikil ke dalam kolam, menimbulkan bunyi PLUNG yang terdengar merdu.

“Aku hanya tahu kalau aku merasa senang melihatnya. Dan aku berharap, aku bisa melihatnya terus. Aku bahkan masih ingat seperti apa kondisi hari itu. Matahari bersinar terik, langit berwarna biru tanpa awan, dan aku merasa kepanasan. Itu hari terindah yang pernah ada di hidupku. Tapi juga hari di mana aku melakukan kesalahan terbesarku.”

“Kesalahan besar?” ulang David.
“Ya. Detik itu, saat aku melihat dirinya, aku berpikir, atau mungkin berjanji, sejak hari itu hanya dialah orang yang kusukai.”
“Apa yang kau rasakan setelahnya?”
“Aku hanya merasa bahagia.”
“Benarkah? Selain itu?”
“Hmm… aku merasa kalau duniaku menjadi baru. Berbeda dengan sebelumnya. Seperti ada sesuatu yang berubah.”
“Kau tahu? Sekali dalam hidupmu, jika kau sangat beruntung, kau akan bertemu dengan seseorang yang memisahkan waktu hidupmu menjadi dua. Sebelum kau menemuinya, dan setelahnya.”
“Charlie Bellow?” tanya Reina agak ragu.
“Yes! My Sassy Girl!” seru David senang karena Reina menebak dengan benar.
“You watched it?!” sahut Reina tak percaya.
“Yeah, why?”
“Aku pikir lelaki tak suka film romantis.”
“Aku senang menjadi pengecualian…” jawab David sambil terkekeh. Reina tertawa melihatnya. “Apakah kau akhirnya berkenalan dengan dia?” tanya David.
“Ya, setahun kemudian.”

David sedikit terkejut mendengarnya, tapi ia hanya mengangguk-angguk.
“Apakah kalian akhirnya berjalan bersama? Pergi ke suatu tempat?”
“Oh tidak! Tidak sejauh itu. Kami hanya berteman. Teman biasa. Tapi itu sudah terasa lebih dari cukup bagiku. Bisa berkenalan dengannya saja sudah membuatku senang.”
“Lalu?”
“Lalu dia pergi. Maksudku, dia melanjutkan sekolahnya. Kami masih berteman. Teman biasa.”
“Kau sedih saat dia pergi?”
“Tidak.”
“Tidak?”
“Iya. Tapi sangat sangat sangat sangat sedih!” jawab Reina sambil tertawa. Senang karena berhasil mengerjai David.
“Oh, harusnya aku bisa menerka itu. Lalu?”
“Lalu tahun-tahun berlalu. Tiga tahun setelah dia lulus, giliran aku yang lulus dari sekolah kami. Dan aku jadi agak sibuk. Mungkin dia juga. Oh tidak, dia pasti jauh lebih sibuk dibanding aku,” ujar Reina cepat-cepat membetulkan.

“Yah… aku mengerti. Apakah di tahun-tahun itu, kau pernah jatuh suka dengan orang lain?”
Reina tertawa mendengar David menggunakan istilah ‘jatuh suka’. “Ya. Tapi tak pernah bertahan lama. aku juga tidak tahu kenapa. Aku selalu kembali teringat dia, dan hari pertama saat aku melihatnya.”
“Itu pasti sangat menyiksa!”
“Benar! Tapi toh, lima tahun berlalu, dan kami semakin jarang berkomunikasi. Sampai-sampai aku pikir, dia sudah melupakanku.”
“Ya, dia memang sudah melupakanmu. Mungkin jauh di dalam hatinya, dia senang karena harus pergi jauh darimu, Reina.”
“Ya, itu mungkin benar. Aku juga berpikir begitu. Dan aku mulai berpikir, inilah waktu yang tepat untuk melupakan dia.”
‘Tapi aku tak yakin kau berhasil,” kata David ragu. Reina menatap wajahnya dengan pandangan tak percaya.
“Mengapa yang kau tebak selalu benar?”
“Hahaha… aku bisa melihatnya, langsung dari wajahmu. Lalu?” David meminta kelanjutan cerita Reina.
“Tiba-tiba dia muncul lagi, tanpa angin tanpa hujan, dan aku, seperti daun tua yang terkena angin dan hujan. Luruh begitu saja. Aku masih sangat menyukainya ternyata.”
“Apakah dia mengabarimu tentang kepulangannya?”
“Oh, aku lupa, setelah lima tahun itu, akhirnya dia pulang juga. Dia menghubungiku saat sudah berada di negeri ini.”
“Hubungan pertemanan kalian membaik?”
“Tidak.”
“Apakah dia sudah punya pacar?”
“Aku tidak tahu mau tahu.”
“Dasar bodoh!” ledek David.
“Aku memang bodoh!” sahut Reina meninggi. Ia sepertinya serius menanggapi candaan David.

“Oke, fine. I don’t wanna fight about it!” kata David mencegah kemarahan Reina yang mungkin saja akan muncul. “Apakah dia tahu kalau kau sangat menyukainya?”
“Iya. Dia tahu.”
“Wow!” seru David kaget. “Kupikir perempuan pantang mengakui perasaannya.”
“Aku senang menjadi pengecualian,” sahut Reina. David hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar kalimat itu. Kalimatnya.
“Kalian bertemu?” tanya David

“Tidak. Padahal aku sangat menginginkannya,” ujar Rei lemah.
“Yah, kau hebat bisa menyimpan rindu dengan rapi selama lima tahun. Wajar kalau kau ingin bertemu.”
“Bukan hanya karena itu. Aku ingin bertemu dengannya karena aku ingin tahu, apakah masih bisa menyukainya atau tidak. Aku ingin tahu, apakah ia ingin aku pergi atau tidak. Aku percaya, kalau aku dan dia bertemu, kalau aku melihatnya secara langsung, meski tanpa sepatah katapun, aku akan tahu jawabannya.”
“Let me guess. Kau pasti gagal bertemu dengannya? Iya kan?”
“Iya. Dia pergi lagi, dan aku hanya bisa menangis sambil mengutuk diri sendiri. Dan beginilah akhirnya. You see? Aku menjalani hari-hariku dengan aneh. Aku jadi lebih suka menyendiri, dan meskipun aku melakukan berbagai hal yang menurutku menyenangkan, aku tetap merasa sedih saat mengingatnya.”
“Oh, kuakui, kau memang bodoh sekali.”
“Seandainya dia memintaku untuk pergi, aku tidak akan melakukan hal bodoh lebih banyak lagi. Aku pasti akan pergi. Aku pasti akan pergi dengan senang hati!”
“Dia sudah memintamu untuk pergi. Kau saja yang belum sadar. Dia tidak menyukaimu, kau tahu?”
“Ya,” jawab Reina lirih.
“Dia tidak mungkin mengatakan hal itu padamu. Memintamu untuk pergi. Itu hal yang kejam. Dia berharap kau cukup pintar untuk menyadarinya,” ujar David dengan suara yang lebih lembut.
“Yah, seharusnya memang seperti itu.”
“Dan kau akan baik-baik saja.”
“Pasti.”
“Jangan bilang kau masih menunggunya?”
“Tidak!”
“Baguslah. Jangan lakukan hal itu. Masih banyak orang lain.”
“Ya.”
“Dan percayalah, kau pasti baik-baik saja.”
“Tapi kadang, aku merasa membohongi diriku sendiri. Karena pada kenyataannya, aku lebih sering merasa, tidak baik-baik saja.”
“Melepaskan memang bukan sesuatu yang mudah.”
“Ya, setidaknya, itu tidak semudah bercerita banyak hal, termasuk urusan perasaan, kepada orang yang baru saja kukenal.”
David tertawa mendengarnya. “Kadang, kita lebih merasa nyaman bercerita pada orang asing.”
“Yah, mungkin itu karena, kita tahu, kita bertemu dengan orang asing itu, untuk saat itu saja.”

David membetulkan kamera SLR yang masih menggantung di lehernya, lalu memotret kolam yang memantulkan mentari senja yang oranye.

“Kita harus bertemu lagi, kau tahu?” ujar David. Matanya menatap mata Reina dengan ramah. Benar-benar seperti sahabat lama.
“Untuk apa?” tanya Reina bingung.
“Ya, karena aku ingin bertemu denganmu lagi. Ada satu hal yang ingin kubagi denganmu.”
“Apa?”
“The Art of Letting Go. Seni melepaskan. Itu tidak akan kau dapatkan di kelas seni apapun. Dalam seni melepaskan, ada beberapa tahap yang harus kamu lalui, sampai akhirnya kamu dinyatakan lulus.”
“Apa tahap pertamanya?”
“Aku lebih senang mengatakannya besok. Hei, aku baru tahu di sini ada jembatan. Kau mau ke sana?” tanya David sambil menunjuk ke arah jembatan yang menyambungkan dua tempat yang dipisahkan oleh sungai.

Reina menggeleng pelan. “Kita berpisah di sini, aku mau pulang,” ujar Reina. David tampak kecewa, tapi segera tersenyum.
“Oke, senang bertemu denganmu. Kutunggu kau besok, di tempat yang sama, di waktu yang sama,” jawab David.

Reina mengangguk. Ia segera merapikan buku sketsa dan kotak pensil warna miliknya. Langit berwarna lembayung. Matahari sepertinya enggan buru-buru terbenam. Reina tersenyum sendiri sambil berjalan meninggalkan David. The Art of Letting Go. Yah, mungkin dia memang harus mengambil kelas itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s