Siapa Namanya??

sculpture-430648_640

Ini adalah pertama kalinya Rina jatuh cinta!

Setidaknya, seperti itulah yang ia rasakan. Sebenarnya Rina tidak tahu pasti, sepeti apa rasanya jatuh cinta itu. Tapi, kalau dari novel-novel yang ia baca, atau dari film yang ia tonton, orang jatuh cinta itu digambarkan hatinya seolah berbunga-bunga. Jika memang seperti itu, maka ia memang sedang jatuh cinta. Ia bahkan merasa ada kembang tujuh rupa yang semuanya bermekaran di hatinya. Pertanyaannya adalah, siapakah yang membuat gadis kelas dua SMP ini merasa jatuh cinta?

Pada awalnya, Rina memang tidak menyadari kalau ia menyukai seseorang. Ia hanya tahu, kalau ia suka sekali melihat seorang kakak kelas yang selalu keliling setiap upacara bendera di sekolahnya. Sekolah Rina merupakan sekolah yang SMP dan SMA digabung karena berada dalam satu yayasan. Seringkali mereka melakukan kegiatan bersama, tidak terkecuali dengan upacara bendera tiap hari Senin.

Di sekolah Rina, ada pasukan khusus yang setiap upacara berjaga di tiap-tiap barisan murid untuk menjaga ketertiban mereka. Anggota pasukan itu adalah para murid laki-laki kelas dua SMA yang terpilih.

Dari beberapa orang yang selalu berjaga di barisan, ada satu orang yang menarik perhatian Rina. Seorang cowok berbadan tinggi kekar, tegap, dan memiliki sorot mata tajam dari balik kacamatanya. Entah mengapa, ia suka sekali menatap cowok itu dari kejauhan. Suka sekali memperhatikannya berkeliling memeriksa kerapian murid-murid.

Namun, meski nyaris setiap minggu Rina memperhatikan cowok itu, tidak pernah sekalipun Rina menyadari kalau ia menyukainya. Terpikir untuk mengetahui cowok itu lebih jauh pun tidak. Baru ketika di penghujung tahun kelas dua SMP, saat ia berpapasan dengan cowok itu di suatu pagi yang amat cerah, sehari sebelum ujian kenaikan kelas, ia merasa jantungnya berdebar-debar tak menentu.

Padahal selama ini, berpapasan dengan cowok seganteng apapun, tidak pernah membuat Rina segugup itu. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada sahabatnya, Alfi, yang sangat mengerti dunia percintaan dan punya pacar murid kelas 1 SMA yang konon katanya, wajahnya mirip artis muda yang sedang naik daun, Kevin Baliho.

“Fi, aneh deh, kok gue deg-degan ya kalau ngeliat orang itu? Jangan-jangan gue suka sama dia lagi Fi?” tanya Rina sambil menunjuk orang yang dia maksud. Melihat arah telunjuk Rina, Alfi langsung menjerit histeris, sampai bakso yang hendak ditelannya mental keluar.

“Haaaaa…!!! Nggak mungkin!! Gue, sebagai sahabat lo, nggak rela kalau lo suka sama dia! Meskipun orang-orang bilang cinta itu buta!” jawab Alfi sekuat tenaga. Rina hanya bisa menatap sahabatnya dengan tatapan heran.

“Lo serius suka sama dia?” tanya Alfi menunjuk tukang ketoprak yang biasa mangkal di depan sekolah mereka, yang sedang mengupas ketupat. Rina melengos.

“Ya amplop, mana mungkin gue suka sama abang ketoprak! Yang gue maksud itu orang di sebelahnya,” jawab Rina.

“Oh, cowok keren itu! Yah, kalau dia sih, wajar aja kalau lo deg-degan.”

“Tapi selama ini, banyak cowok keren lewat di depan gue, jantung gue diem aja.”

“Berarti sekarang lo harus bersyukur, karena jantung lo udah berfungsi lagi,” jawab Alfi santai.

“Jadi kemungkinan besar, gue emang suka sama dia ya?” tanya Rina memastikan.

“Menurut gue sih seperti itu. Lo tau nggak siapa nama cowok itu?” tanya Alfi. Rina menggeleng.

“Gue juga nggak tahu,” jawab Alfi disambut dengan jitakan Rina.

“Gue pikir lo tahu!” kata Rina.

“Maksud gue, kita cari tahu yuk!” ajak Alfi. Rina berpikir sesaat sampai ia tersenyum dan mengangguk.

Misi penyelidikan cowok keren pun dimulailah. Rina dan Alfi sibuk mengatur strategi bagaimana caranya mengetahui nama cowok itu.

“Gimana kalau kita tanya ke anak kelas dua SMA! Pasti mereka tahu nama cowok itu, kan mereka seangkatan,” usul Alfi.

“Anak dua SMA-nya, cowok apa cewek nih? Kalau cewek, gue males ah! Mereka pasti nggak mau ngasih tahu nama cowok itu, karena nganggep kita anak kecil yang mau ngerebut cowok angkatan mereka,” jawab Rina.

“Kalo cowok?” tanya Alfi.

“Kalo cowok, gue nggak berani nanya ke mereka. Lagian nggak ada yang gue kenal juga.”

“Kalau petugas TU?” tanya Alfi lagi. Rina mengernyit. “Petugas TU?” ulangnya.

“Iya, petugas TU. Mereka kan punya data semua murid di sini. Nama cowok itu pasti ada di buku mereka. Iya kan?”

“Ya ampun, masa cuma mau nyari tahu nama satu orang cowok aja sampe ngerepotin petugas TU segala sih? Nggak ah, gue nggak mau!” bantah Rina.

“Terus nanya ke siapa donk Rin? Lo sebenernya mau tahu nggak sih, nama cowok itu?” tanya Alfi gemas.

“Ya mau sih, tapi maksud gue, emang nggak bisa ya kita nanya ke temen seangkatan kita aja? Mungkin di antara mereka ada yang tahu.”

“Oke, kalau gitu, mulai sekarang kita harus gerilya nanyain anak-anak!”

“Eh, tapi jangan sampe mereka tahu kalo gue suka sama cowok itu ya?” pinta Rina. Alfi mengangguk.

Alfi dan Rina pun bertanya pada setiap murid kelas dua SMP yang sekiranya mengetahui nama cowok keren yang suka keliling saat upacara itu. Tapi baru beberapa orang yang ditanya, Rina sudah putus asa, karena semua jawabannya tidak.

“Lo kenapa nanyain cowok itu? Suka sama dia?” tanya Hanna kepada Alfi. Di sampingnya, hati Rina berdegup kencang, takut Alfi keceplosan dan memberi tahu kalau Rina yang suka dengan cowok itu.

“Oh, bukan. Rina yang suka. Ya kan Rin?” tanya Alfi tanpa merasa berdosa ke Rina. Rina yang ditanya langsung menggeleng cepat.
“Bukan! Ada orang lain yang nanya juga. Dia nitip nanya ke gue,” jawab Rina.

“Oh… seinget gue, gue pernah dikasih tahu nama cowok itu siapa. Tapi gue lupa. Yang jelas namanya tuh, nggak keren banget deh! Tapi apa ya?” ujar Hanna sambil berpikir.
“Parto!” seru Alfi.
Hanna menggeleng.
“Olga!”
Hanna masih menggeleng.
“Adul!”
Masih menggeleng
“Komeng!”
Tetap menggeleng.
“Sule!”
Hanna semakin kuat menggeleng.
“Stop!!”

Kali ini Rina yang bersuara. Ia tidak sanggup mendengar tebakan Alfi lagi, juga melihat kepala Hanna yang menggeleng terus menerus. Lama-lama ia bisa geleng sepatu geleng sendiri, melihat dua orang aneh di dekatnya.

“Kalian tuh ngaco banget sih!” seru Rina tidak terima, nama cowok kesayangannya disamakan dengan nama para pelawak.
“Hanna sih…” ujar Alfi menyalahkan Hanna.
“Abis gue lupa sih. Ya udah, selamat mencari tahu ya! Kalau kalian udah nemu nama cowok itu, kasih tahu gue. Oke??” ujar Hanna akhirnya.
“Oke deh!” jawab Alfi semangat. Rina yang berdiri di sebelahnya melipat tangan sambil melengos.
“Hampir aja si Hanna tahu kalo gue suka sama cowok itu! Lo sih, ember banget!”
“Ya maap Rin, pan gue lupa, hehehe…” sahut Alfi tanpa merasa bersalah. “terus, kita nanya ke siapa lagi nih?” tanya Alfi. Rina berjongkok sambil mencabuti rumput-rumput yang ada di dekat kakinya. Berharap mendapat wangsit.

“Ahh! Kenapa nggak nanya ke cowok lo aja Fi! Yang mukanya mirip baliho itu! Siapa namanya? Mamad ya?” ujar Rina semangat.

“Ihh, pacar gue nggak mirip baliho! Kalo Kevin Baliho sih iya! Namanya juga bukan Mamad, tapi Imad!” jawab Alfi kesal, tidak terima pacar kesayangannya yang aneh itu disamakan dengan baliho.

“Ya, maksud gue si Imad. Meskipun dia kelas satu, tapi seenggaknya kan dia anak SMA. Mungkin dia tahu nama seniornya.”
“Oke deh! Kalo gitu, ayo kita cari si Mamad! Eh, Imad!”

Kali ini Alfi dan Rina menghampiri Imad di tempat persemediannya, yakni belakang gudang pramuka. Tempat segala macam alat pramuka disimpan, mulai dari tali, tambang, bendera, tongkat, tenda, kompor, pasak, dan lain-lain. Sampai saat ini, tidak ada seorang pun yang tahu, kenapa Imad suka sekali duduk sendirian di sana. Bahkan Alfi sebagai pacarnya pun tidak mengerti, dan susah sekali mengajak Imad meninggalkan habitat lamanya.

Pacar Alfi ini memang agak sedikit unik, kalau tidak mau dibilang aneh, apalagi gila. Kalau tidak duduk di belakang gudang, ia suka berjalan-jalan sendirian sepanjang jam istirahat dengan rambutnya yang basah dan dibentuk mirip duri landak. Awalnya Rina shock mendengar Alfi berpacaran dengan cowok itu. Ia pikir, Alfi menyukainya hanya karena wajah Imad yang mirip Kevin Baliho. Ternyata tidak sama sekali!

“Ya emang sih dia mirip Kevin Baliho, tapi menurut gue, ada yang lebih mirip lagi, dan itu yang bikin gue suka sama dia,” ujar Alfi.
“Siapa?” tanya Rina penasaran.
“Piyo-piyo!”
“Piyo-piyo?” ulang Rina tidak mengerti.
“Iya, Piyo-piyo. Ayam pitik berbulu kuning yang paruhnya oranye itu, Rin.”

Ingatan Rina langsung menuju tokoh kartun bergambar ayam yang memang sangat disukai Alfi. Hampir seluruh alat tulisnya bergambar ayam itu, bahkan Alfi punya bonekanya dalam bentuk yang cukup besar. Jangan-jangan, Alfi menerima Imad karena wajahnya mirip ayam itu lagi?! Ah sudahlah, kenapa malah ngomongin Imad dan Piyo-Piyo.

Kembali lagi ke masalah nama cowok keren yang disukai Rina.
“Yang, kamu tahu nggak nama cowok yang suka keliling pas upacara bendera?” tanya Alfi kepada Imad yang sedang duduk di tempat favoritnya sambil mengemut lollipop bergambar sapi.
“Yang mana? Kan banyak yang suka keliling,” jawab Imad.
“Yang tinggi, keker, berkacamata, pokoknya keren banget orangnya,” kali ini Rina yang bersuara.
“Aduh, aku tahu sih beberapa nama dari orang-orang itu. Tapi nggak tahu pasti yang mana orangnya.”
“Ayo donk Yang, diinget-inget lagi,” bujuk Alfi.
“Hmmm….” Imad masih berpikir sambil mengemut lolipopnya.
“Siapa Yang?” tanya Alfi lagi.
“Hmm, kalau nggak salah, ada yang namanya Adly, dan sepertinya sih, orang yang tadi ciri-cirinya disebutin sama Rina,” jawab Imad. Mendengar itu, mata Rina langsung berbinar.

“Jadi namanya Adly?” tanya Rina memastikan. Imad mengangguk. Rina melonjak kesenangan sambil memeluk Alfi. Tadinya dia mau memeluk Imad, tapi nggak jadi karena takut sahabatnya ngamuk. Alfi juga ikut melonjak-lonjak kesenangan.

“Makasih ya Yang! I love you!! Mmmuah mmuaah…” seru Alfi sambil mengecup pipi kanan dan kiri Imad.
“Tapi Yang, kamu nggak selingkuh dari aku kan?” tanya Imad khawatir.
“Nggak kok! Yang suka sama Adly, Rina, bukan aku!” jawab Alfi. Imad mengangguk. Untungnya Rina tidak mendengar. Ia sudah berlari ke sana ke mari karena kegirangan.

“Han, gue udah tahu siapa nama cowok itu!” ujar Rina di kelas sambil menghampiri meja Hanna. Kebetulan guru pelajaran selanjutnya belum masuk.
“Siapa?” tanya Hanna antusias.
“Namanya Adly! Nggak seaneh yang lo bilang.”
“Adly?” ulang Hanna.
“Iya, Adly!”
“Perasaaan gue namanya bukan itu deh,” ujar Hanna sambil mengingat-ingat.
“Pokonya namanya Adly! Titik!” seru Rina sewot sambil meninggalkan meja Hanna. Dia tidak mau nama cowok yang dia suka disamakan dengan nama siapapun yang aneh-aneh. Baginya, nama Adly memang nama yang cocok untuk cowok sekeren itu.

Rina pun langsung bertingkah norak setelah mengetahui cowok yang disukainya bernama Adly. Ia langsung menulis nama itu di setiap benda-benda miliknya. Mulai dari buku tulis, buku pelajaran, agenda, tas, tempat pensil, gantungan kunci, bahkan di bagian bawah rok sekolahnya, semua bermerk Adly. Sampai Uchy, teman sebangkunya, bingung melihat tingkahnya.

“Adly? Adly yang suka keliling pas upacara itu?” tanya Uchy. Rina mengangguk.
“Lo suka ya sama dia?” tanya Uchy lagi. Yang ditanya cuma bisa nyengir kuda.
“Wajar sih kalo banyak yang suka sama dia. Anaknya emang imut gitu,” ujar Uchy.
“Apa? Imut?” ulang Rina tidak mengerti. Di matanya, Adly memang ganteng, tapi bukan imut!
“Iya, imut. Wajahnya putih bersih, pipinya chubby, babyface gitu. Kalau senyum makin imut, ya kan?”
“Nggak donk! Jelas-jelas kulitnya sawo mateng, dan pipinya sama sekali nggak chubby! Dan dia pake kacamata!” bantah Rina.
“Ih, Rina, yang namanya Adly tuh, ya yang itu. Yang imut itu. Kayaknya yang lo maksud bukan dia deh,” tebak Uchy.
“Maksud lo, orang yang gue sukain itu namanya bukan Adly?” tanya Rina.
“Iya, soalnya gue pernah ngomong langsung sama orang yang namanya Adly, dan orang itu imut banget. Dan dia nggak berkacamata. Tapi, dia juga orang yang suka keliling pas upacara sih.”
“Terus, kalo yang gue sukain itu siapa donk namanya?” tanya Rina pensaran. Dia sebel karena sudah menulis nama Adly di mana-mana.
“Kayaknya yang lo maksud itu namanya Udin deh, Sapiudin.”
“Apa?? Udin? Sapiudin?? Nggak mungkin!! Cowok sekeren itu nggak mungkin bernama Udin!” jerit Rina tidak terima. Oh My God! Apa-apaan ini? Mana mungkin dia bisa suka sama cowok dengan nama sekampungan itu!

“Ya, emang kenapa sih kalo namanya Udin? Kan yang penting dia keren?” kata Uchy. Rina menggeleng kuat. Tiba-tiba di kepalanya muncul video klip “Udin Sedunia” yang terkenal itu, tapi wajah penyanyinya berubah jadi wajah cowok yang dia sukai, yang kata Imad, namanya Adly.
“TIDAAKK….!!!” jerit Rina.

“Fi, kabar buruk Fi!” seru Rina terengah-engah mengejar Alfi saat bubaran sekolah.
“Kenapa?” tanya Alfi cemas.
“Nama cowok yang gue sukain itu bukan Adly, tapi Udin!”
“Kata siapa?”
“Kata Uchy. Dia bilang, yang namanya Adly tuh orangnya imut, putih, babyface, chubby, dan nggak berkacamata! Soalnya dia pernah ngomong sama orang yang namanya Adly itu.”
“Masa sih? Terus bener, cowok yang lo sukain itu namanya Udin?”
“Kata Uchy sih gitu, dan gue nggak mau cowok yang gue sukain namanya Udin! Nggak mauuuu….!!”
“Lho, emang kenapa kalo namanya Udin?” tanya Alfi heran. Untuk kali ini, dia sama sekali tidak bisa memahami sahabatnya.
“Pokoknya, gue mau orang yang gue sukain itu namanya bagus! Nggak kampungan kayak gitu!”
“Ya ampun Rin, apalah arti sebuah nama,” kata Alfi menenangkan sahabatnya.
“Buat gue itu berarti dan penting!” seru Rina sambil berlari meninggalkan Alfi. Tapi Alfi keburu meraih lengannya.
“Eitss, jangan ngambek dulu! Mungkin bener kata Uchy, kalau cowok yang lo suka itu bukan Adly, tapi bukan berarti namanya pasti Udin kan?”
Rina terdiam sesaat. “Iya juga ya Fi?”
“Nah, berarti besok, kita harus mastiin, siapa nama cowok itu sebenernya. Bisa jadi bukan Udin, dan kalaupun memang dia, ya nggak apa-apa lah Rin,” bujuk Alfi.
“Ya apa-apa lah buat gue!” seru Rina sambil melepas genggaman Alfi.
“Rina kenapa sih?” tanya Imad yang berjalan di samping Alfi dengan heran.
“Tahu tuh! Udah kayak dia emaknya cowok itu aja,” sahut Alfi tak kalah heran.

Besoknya, Alfi menghampiri kelas Rina untuk menemui Uchy dan bertanya perihal Adly dan Udin itu.
“Chy, emang yang namanya Adly itu nggak berkacamata ya? Tapi malah babyface dan chubby?” tanya Alfi. Belum sempat Uchy menjawab, Rina keburu datang dan menyela, “Lagi ngomongin Adly ya?”
“Iya. Seperti yang udah gue bilang ke Rina, yang namanya Adly itu orangnya nggak berkacamata. Cowok yang tinggi tegap itu namanya bukan Adly,” jawab Uchy.
“Jadi, cowok tinggi keren itu namanya bener-bener Udin?” tanya Alfi memastikan.
“Gue rasa sih iya. Tapi gue nggak yakin juga. Mending kalian tanya sama Adni deh. Setahu gue, dia sekomplek sama cowok yang namanya Udin itu,” jawab Uchy. Kali ini, baik Alfi dan Rina merasa mendapat secercah harapan.

Saat istirahat tiba, Alfi dan Rina buru-buru mencari Adni. Mereka harus segera mengetahui misteri nama cowok keren itu, kalau tidak mau melihat Rina uring-uringan terus.

“Adni, katanya lo sekomplek sama anak dua SMA, yang suka keliling pas upacara, yang namanya Udin itu ya?’ tanya Alfi tiba-tiba saat melihat Adni. Adni sempat terkejut sesaat mendengar pertanyaan Alfi.
“Oh, Udin,” jawabnya. “Iya, gue sekomplek sama dia. Emang kenapa?”
“Orangnya kayak gimana Ni? Tinggi? Tegap? Keker? Berkacamata?” tanya Rina mulai panik.
“Iya!” jawab Adni pasti.
“Beneran Udin? Sapiudin?” tanya Rina makin panik.
“Bukan Sapiudin, tapi Saripudin.”
“Masa sih? Lo yakin?” Rina masih belum bisa menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan hatinya.
“Kalau kalian tetep nggak percaya, coba liat mading bersama sekolah kita. Di situ ada foto anak-anak pasukan khusus. Nah, yang namanya Udin itu, dia yang berdiri di samping tiang. Dia satu-satunya orang yang berpose kayak gitu,” ujar Adni akhirnya. Dia tidak tahan diteror oleh pertanyaan-pertanyaan sepasang sahabat yang aneh ini.
“Oke, makasih Adni!” sahut Alfi sambil buru-buru menarik tangan Rina sebelum dia uring-uringan tidak jelas di lapangan sekolah, tempat mereka bertemu Adni.

Sesampai di mading bersama sekolah, mereka kebingungan mencari foto yang dimaksud Adni. Terdapat banyak foto yang dipajang di sana, dan kebanyakan diletakkan di bagian atas. Sehingga mereka harus sedikit berjinjit untuk melihat semua foto-foto itu.

“Aduh, mana sih foto yang dimaksud Adni? Kok gue nggak nemu-nemu ya?” tanya Rina sambil lompat-lompat. Sedangkan Alfi lebih teliti dalam mencari foto tersebut.
“Bingo! Ini bukan sih fotonya Rin?” seru Alfi girang. Ia menemukan foto pasukan khusus yang berdiri berjajar di depan gerbang sekolah mereka, dan hanya satu orang yang berdiri di samping tiang, karena tiangnya memangcuma satu. Cowok tinggi, kekar, tegap, berkacamata yang disukai Rina, yang disebut Adni bernama Udin, alias Saripudin!
“Mana? Mana?” tanya Rina tidak sabar. Ia langsung melihat ke tempat telunjuk Alfi berada. Rina terbelalak dan nyaris terjungkal. Untungnya Alfi sigap menahannya.

“Nggak mungkin! Nggak mungkin! Cowok yang gue suka nggak mungkin bernama Udin!” jerit Rina histeris. Ia sendiri juga tidak mengerti kenapa dia tidak bisa menerima kenyataan ini.
“Yaudahlah Rin, emang salah ya punya nama Udin?” ujar Alfi bijak. Dia tidak suka melihat sahabatnya itu bersedih hanya karena sebuah nama. Rina hanya bisa melangkah dengan gontai meninggalkan mading itu.

Berhari-hari setelah misteri nama cowok keren itu terpecahkan, wajah Rina masih murung. Ia masih sulit untuk menerima nama cowok yang disukainya itu Udin. Ia berharap cowok itu mengganti namanya, entah jadi apa, yang penting tidak kampungan. Rina juga sempat berpikir untuk menyukai Adly saja. Karena nama itulah yang sudah telanjur ia tulis di mana-mana. Tapi ternyata sulit juga untuk berpindah ke lain hati.

Pada suatu pagi yang amat cerah, di awal tahun ajaran kelas tiga, Rina berjalan sendirian menuju kelasnya. Dari kejauhan ia melihat sosok yang dihafalnya. Sosok berbadan tinggi, tegap, dan berkacamata yang disukainya. Cowok itu sedang berjalan sendirian ke arahnya. Rina gugup sekali mendapati keadaan seperti ini. Ia sibuk menenangkan jantungnya yang mulai berdegup tak karuan.

BRUUKK…
Saking gugupnya, Rina sampai tidak melihat batu besar yang membuatnya tersandung. Sambil meringis menahan sakit, ia melihat sebuah tangan kekar yang terulur di depannya.

“Hati-hati,” ujar suara bariton itu. Rina memberanikan diri melihat wajah orang yang menolongnya. Ketika ia sadar bahwa wajah itu adalah wajah yang selama ini ia sukai, ia merasa jantungnya sudah tidak berdegup lagi, tapi sudah lari entah ke mana saking kagetnya. Rina bahkan tidak sanggup untuk sekedar mengucap terima kasih, demi dilihatnya cowok itu tersenyum dan berlalu di depannya. Rina hanya bisa berdiri mematung sambil menatap punggung cowok itu yang semakin menjauh. Ia tidak bisa memungkiri kalau ia masih menyukai cowok itu. Cowok keren, tinggi, tegap, kekar, dan berkacamata yang bernama Udin! Yah, siapapun namanya, bagi Rina cowok itu tetaplah cowok paling keren sedunia yang teristimewa di hatinya.

Juni, 2011.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s