Ruang Rindu

Aku tidak mau merasakan rindu. Tetanggaku meninggal karena itu.

9782880026_9575aab41d_o

Dulu, saat aku berumur sembilan tahun, aku punya seorang tetangga yang cantik. Namanya Putri. Usianya saat itu sekitar 20 tahun. Aku biasa memanggilnya Mbak Putri. Dia gadis yang lembut dan baik hati. Tidak jarang, sebelum berangkat kuliah, dia memberikan kami – sekelompok anak kecil yang bermain di gang rumah- sebungkus coklat. Lalu tersenyum kepada kami dan melambaikan tangan. Kami semua sangat suka kepada Mbak Putri.

Hingga pada suatu hari, kami menemukan Tomi, kucing kesayangan milik sahabatku, Reina, salah satu anggota geng anak kecil di gang rumah, ditemukan tergeletak mati di depan gudang rumah Mbak Putri. Reina terus menangis karena Tomi mati. Sedangkan kami, teman-temannya, menggali tanah di depan rumahku yang masih tersisa, untuk mengubur Tomi.

Aku dan Hakim, mempraktekkan apa yang kami baca di Sapta Siaga. Kami tidak begitu saja percaya pada kematian Tomi yang tiba-tiba. Pasti ada alasan kenapa Tomi mati. Kami pun menyelidiki gudang di samping rumah Mbak Putri.

Gudang itu tidak besar, mungkin hanya mampu menampung lima anak kecil. Saat kami ke sana, aku diam-diam mengintip isi gudang itu. Ruangannya cukup terang, dengan satu lampu bohlam berdaya rendah yang menerangi. Ada rak-rak kayu di situ, dengan botol-botol kaca berisi air yang tersusun rapi di atasnya.

Aku melihat ada dua botol yang pecah berserakan, dengan tumpahan air yang berceceran. Air apa yang ada di dalam botol itu? Saat tanganku mengulur hendak mengambilnya, “Jangan!” itu suara Mbak Putri. Aku meringis kepadanya karena merasa kepergok.

“Jangan sentuh botol itu! Jangan dekat-dekat air tumpahannya! Tidak ada yang boleh masuk gudang ini,” seru Mbak Putri. Aku mengangguk menurut sambil mundur menjauhi pintu gudang. Membiarkan Mbak Putri mengunci pintu gudang itu rapat-rapat. Sejak saat itu, aku tak pernah melihat pintu gudang itu terbuka.

Mbak Putri masih sering memberi sebungkus coklat kepada kami. Ia juga membelikan seekor kucing jantan berbulu putih kepada Reina. Reina memberinya nama Tomi lagi. Ia juga masih selalu tersenyum kepada kami setiap ia hendak berangkat kerja, meski kami tak lagi sering bermain di gang rumah.

Aku masih sering memperhatikan Mbak Putri. Tak jarang aku melihatnya berwajah sendu. Sepertinya ada sesuatu yang ia simpan sendiri. Kadang-kadang aku melihatnya membuka pintu gudang, dan masuk ke dalam sana dengan sebuah botol bening di tangan.

Rasa penasaranku selalu timbul kembali setiap melihat botol-botol bening itu. Apa yang sebenarnya dikumpulkan Mbak Putri. Apakah air di botol itu adalah sejenis racun? Mengapa ia menyimpannya di dalam gudang?

Rasa penasaranku baru terjawab ketika usiaku 12 tahun. Saat itu, aku, Hakim, dan Reina sedang bermain ular tangga di teras rumahku. Kami melihat Mbak Putri berjalan bersama seorang pemuda, yang terlihat berusia sedikit lebih tua darinya, menuju rumah Mbak Putri yang berada persis di sebelah rumahku.

“Wah, itu kan pacarnya Mbak Putri!” seru Reina, sambil terus menatap dua orang itu.

“Oh ya? Memangnya Mbak Putri sudah punya pacar?” tanya Hakim tak percaya.

“Iya dong, Mbak Putri tuh udah punya pacar sejak dia kelas 3 SMP, tapi pacarnya tinggal jauh dari dia.”

“Kok kamu tahu Mbak Putri udah punya pacar dari 3 SMP? Memangnya waktu itu kamu udah lahir?” tanyaku tak percaya.

“Tahu dong! Namanya juga Reina!” sahut Reina dengan sombongnya sambil menepuk dada. Aku dan Hakim hanya mendengus melihatnya.

“Memangnya selama ini pacarnya Mbak Putri tinggal di mana?” tanyaku.

“Nggak tahu, tapi katanya sih di luar negeri. Pindah-pindah gitu. Aku pernah lihat Mbak Putri nangis. Mungkin dia sedih karena selalu ditinggal pacarnya,” jawab Reina.

Aku mengangguk. mungkin itulah kenapa Mbak Putri sering berwajah sendu. Tapi, pasti sekarang sudah tidak lagi. pacarnya kan sudah kembali.

“Hei Rei! Mau ke mana?” tanya Hakim meneriaki Reina yang tiba-tiba beranjak meninggalkan papan ular tangga kami.

“Aku mau ke rumahnya Mbak Putri! Mau lihat pacarnya!” jawab Reina.

Dari kami bertiga, Reina memang yang paling dekat dengan Mbak Putri. Mungkin karena waktu itu Mbak Putri menggantikan Tomi yang lain untuk Reina. Aku dan Hakim kembali melanjutkan permainan. Namun tak bertahan lama. Kami juga penasaran dengan pacar Mbak Putri.

Pacar Mbak Putri bertubuh tinggi, tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk. Wajahnya cerah dan terlihat ramah. Aku dan Hakim mengintip dari balik tembok rumahku, dan melihat mereka bertiga sedang mengobrol di teras rumah Mbak Putri.

“Wah, cakep ya pacarnya, keliatannya baik lagi. Kita ke sana juga yuk!” ajak Hakim. Aku menggeleng.

“Lihat dari sini aja,” tolakku.

“Aku pengen kenalan juga sama pacarnya Mbak Putri,” jawab Hakim. Aku menggeleng lagi. “Nanti aja.”

Hakim menurut. Kami melihat Mbak Putri dan Reina masuk ke dalam rumah. Sedangkan pacar Mbak Putri tetap di teras. Melihat-lihat taman depan rumah dan berjalan-jalan ke bagian samping. Ke arah tembok rumahku dan juga gudang rahasia milik Mbak Putri.

Pemuda itu tidak melihat kami. Tapi kami bisa melihatnya mendekati gudang misterius tersebut. Entah mengapa, aku menahan napas saat ia membuka pintu gudang yang ternyata tidak terkunci.

Sudah lama aku tidak lagi berani mengintip gudang aneh tersebut. Hakim tidak tahu banyak tentang isi gudang itu. Jadi dia malah pergi meninggalkanku dan lari ke rumah Mbak Putri. Sepertinya ingin menyusul Reina.

Aku masih menunggu di tempat yang sama. Seandainya tembok ini bisa kulompati, pasti aku akan ikut masuk ke dalam gudang itu. Baru saja niat tersebut tercetus di kepalaku, aku mendengar suara botol pecah. Bunyi beling berserakan, dan suara orang terengah-engah, seperti kehabisan nafas.

Aku mulai ketakutan. Berusaha turun dari tembok yang sudah setengah kupanjat. Aku mendengar suara beling pecah lagi. Kali ini sepertinya lebih banyak. Aku semakin ketakutan. Aku segera turun, berlari ke rumah Mbak Putri.

“Mbak! Mbak Putri!” panggilku dengan suara senyaring mungkin. Napasku memburu. Kakiku gemetaran. Aku melihat Mbak Putri dan Reina keluar dari dalam rumah membawa nampan berisi gelas-gelas berair dingin. Hakim berjalan di belakang membawa seloyang kue cokelat bikinan Mbak Putri.

“Kenapa Adly?” tanya Mbak Putri.
“Gudang itu! Gudang itu…”
“Kenapa gudangnya?” tanya Mbak Putri dengan wajah cemas sambil buru-buru menaruh nampan yang dibawanya.
“Pacar Mbak…” kalimatku belum selesai, saat aku mendengar nama Mbak Putri memanggil namaku sendiri, sambil berlari menuju gudangnya.

Kami bertiga ikut berlari setelah Mbak Putri. Pintu gudang terbuka lebar. Ada pacar Mbak Putri, yang namanya ternyata sama dengan namaku, tergeletak tak berdaya, dengan nafas tersengal-sengal.

Kali ini aku bisa melihat keseluruhan isi gudang itu. Isinya masih sama seperti yang dulu kulihat. Rak-rak kayu dengan botol-botol kaca berisi air bening di dalamnya. Ada beberapa botol yang pecah berserakan di sekitar tubuh Adly. Ingatanku melayang pada Tomi dan kematiannya.

Firasat buruk langsung menghampiri benakku. Suara Mbak Putri yang memanggil-manggil nama Adly terdengar menggema di telinga. Tiba-tiba, apapun yang ditangkap mataku terasa memburam. Lalu aku tidak ingat apa-apa lagi.

***

Aku membuka mata dan menyadari aku berada aman dalam kamarku. Aku menghela napas. Mungkin tadi hanya mimpi buruk. Aku bangkit dari kasur dan kaget melihat Hakim dan Reina terduduk lesu di sudut kamarku. Baju mereka sama dengan yang kulihat di mimpiku tadi.

“Rei, Hakim? Kenapa kalian ada di sini?” tanyaku heran.

Hakim beranjak mendekati kasurku. Sedangkan Rei malah menutupi wajahnya dengan tangan.

“Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Hakim. Aku menatapnya bingung.

“Aku nggak apa-apa. Kalian kenapa?”

“Mbak Putri dan pacarnya meninggal. Setelah kejadian di depan gudang itu. Kamu pingsan, karena berdiri terlalu dekat dengan gudang. Kabar baiknya, kamu masih bisa diselamatkan.”

Aku tersentak. Jadi yang tadi itu bukan mimpi? Jadi yang tadi itu nyata?

“Botol-botol itu?” tanyaku.

“Botol-botol itu berisi air yang mematikan. Pacar Mbak Putri meninggal karena menghirup air di dalam botol. Sedangkan Mbak Putri, karena tidak sanggup melihat pacarnya mati, mengurung dirinya di dalam gudang dan memecahkan seluruh botol yang masih tersisa. Semuanya terjadi begitu cepat. Aku dan Reina segera dibawa pergi, kamu juga.” Hakim menjelaskan panjang lebar.

Aku langsung berdiri setelah Hakim menyelesaikan kalimatnya. Berlari ke luar menuju rumah Mbak Putri. Tampak polisi berlalu lalang di gang kami, dan ada dua ambulans yang terpakir.

Aku berlari ke tembok samping rumahku. Berusaha melompati tembok dan melihat gudang itu sudah dikeliling pita kuning. Aku menyelinap saat polisi yang berjaga tidak melihatku. Botol-botol itu, berisi air mata rindu.

Rindu selalu terasa menyesakkan. Dan Mbak Putri, entah untuk tujuan apa, sengaja menyimpan air mata kerinduannya di dalam boto-botol bening. Ia sendiri tak tahu seberapa menyesakkan air mata kerinduan itu. Hingga Tomi, kucing kesayangan Reina, mati di depan gudang. Itulah mengapa Mbak Putri melarang siapapun masuk ke dalam gudangnya. Sayangnya, pacarnya sendiri masuk ke dalam gudang itu, dan mati di sana. Menghirup rindu yang ditujukan kepadanya.

***

Rindu selalu terasa menyesakkan. Itulah mengapa aku tidak mau merasakannya. Tapi sayangnya, kita tak pernah bisa menolak rindu. Rindu selalu datang begitu saja. Hadir hanya untuk menyesakkan dada. Dan aku tak mau merasakannya terlalu lama.

Tanganku gemetar, memegang sebuah botol kaca bening yang tersisa dari masa sepuluh tahun yang lalu. Menumpahkan airnya, tepat di wajahku. Selamat tinggal rindu.

an absurd story, made in Investigative Report class, 23 April 2013

Advertisements

One thought on “Ruang Rindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s