Matahari Tak Pernah Ingkar Janji (2)

Dear Tya,

Saat kau membaca surat ini, aku tahu aku sedang berada jauh darimu. Aku tak tahu harus sampai kapan aku seperti ini. Mungkin sampai hatimu terbuka untukku.

Tya, apa lagi yang harus kukatakan padamu. Tolong katakan padaku bagaimana caranya meyakinkanmu.

Di tempat tinggi ini Tya, aku melihat matahari. Matahari yang indah. Dengan hamparan awan-awan di bawahnya. Aku begitu ingin kau berada di sini juga, bersamaku.

Tya, tahukah dirimu, kalau aku begitu ingin menjadi matahari. Aku tahu, tak mungkin aku memiliki sinarnya yang indah itu. Tapi satu hal yang aku percaya Tya, bahwa matahari tak pernah ingkar janji.

Matahari tak pernah ingkar janji Tya.
Ia selalu terbit untukmu. Menghangatkanmu dengan cahayanya. Memberitahumu kalau selalu ada satu hari lagi yang akan kau lewati dengan senyuman. Matahari tak pernah pergi Tya. Ia mungkin hanya tertutupi, tapi tak pernah benar-benar pergi. Ia selalu bersamamu Tya.

Aku selalu ingin menjadi matahari untukmu Tya. Yang tak pernah ingkar dengan janji yang telah dikatakannya. Yang selalu setia membersamaimu.

Di tempat sesepi ini Tya, hanya dirimu yang menggantung di pikiranku. Memikirkan cara apa lagi yang harus kulakukan agar kau percaya.

Malam di Dieng begitu dingin Tya. Siangnya berkabut. Tapi, jauh lebih dingin hatiku Tya. Seandainya saja kau bisa merasakannya.

Kau boleh mengatakan aku lelaki tercengeng Tya. Karena jujur kuakui aku menangis. Saat kau katakan tidak di malam itu. Kalimat apakah lagi yang paling menyakitkan selain kalimatmu yang menyuruhku pergi jauh darimu.

Tya, di Gardu Pandang ini begitu sunyi. Di manapun tempat yang aku singgahi akan terasa sunyi, karena tanpamu.

Tya, aku masih ingin jadi matahari untukmu. Yang tak pernah ingkar janji.

Kalau saat ini aku pergi Tya, bukan karena aku ingin pergi darimu. Tapi ini cara terakhir yang bisa kulakukan untuk tahu, apakah kau benar-benar peduli padaku.

Kalau kau berdiri juga di tempat ini, pandangilah matahari Tya. Lihat ia dengan hatimu dan ingatlah aku. Sama seperti matahari, aku juga ingin menjadi makhluk yang tak ingkar janji kepadamu.
Temuilah aku Tya.

Arza

Air mataku bercucuran membaca surat itu. Wildan sengaja memberikannya saat kami sudah berdiri di Gardu Pandang. Tempat yang mudah dijangkau untuk melihat pesona matahari terbit di dataran tinggi Dieng. Saat itu pagi-pagi sekali. Setelah adzan shubuh berkumandang, dan menunaikan shalat, kami langsung berangkat ke tempat di mana Arza pernah ke sana juga.

“Arza ke tempat ini tiga hari yang lalu. Dia duduk lama di sini, dan menulis surat. Dia bilang, kalau nanti kamu menyusulnya ke Dieng, aku harus bawa kamu ke tempat ini. Kamu harus berdiri di tempat yang sama dengannya, dan membaca surat itu. ia berharap kamu merasakan hal yang sama dengannya. “

Aku masih tergugu. Suara isakanku sudah tak jelas bentuknya. Apa yang telah aku lakukan? Mengapa aku sejahat ini pada lelaki itu.

“Lalu aku harus apa? Aku harus cari Arza ke mana?” tanyaku dengan sesenggukan.

“Dia tidak mengatakan ke mana dia akan pergi setelah ini. Dia hanya tahu, kalau kamu bisa menemukannya kembali, itu tanda kalau kamu berbohong. Kalau kamu bohong telah menyuruhnya pergi. Kalau pada kenyataannya, kamu punya perasaan yang sama dengan dia.”

Aku masih menangis. Memang apa lagi yang bisa aku lakukan sekarang. Seperti sudah tak ada kemampuan untuk berpikir dan mengira-ngira ke mana perginya Arza.

“Aku jujur mengatakan hal ini. Persis seperti yang dikatakan Arza.” Wildan berhenti sebentar. Wajahnya menyimpan kesedihan. Tapi bibirnya tersenyum. Ia sedang mengenang senyum sahabatnya, Arza.

“Dia sahabatku. Melihat dia sehancur itu rasanya aku nggak pernah rela. Kalau kamu laki-laki, mungkin sudah kuhajar berkali-kali karena sudah membuatnya seperti itu. Di balik sifat cerianya, dia begitu pandai mengemas perasaan sedih menjadi sesuatu yang… yang begitu menyesakkan. Kadang aku ingin marah sama dia, kenapa cuma karena kamu, dia sampai seperti itu. Aku selalu bilang, kalau masih banyak perempuan lain di luar sana, yang mungkin bisa menerima kebaikan dia. Kenapa harus memaksa pada seseorang, yang jelas-jelas nggak menerima kehadiran dia.”

“Aku nggak bermaksud seperti itu. Kamu nggak ngerti,” bantahku. Air mata masih berlelehan di pipi. Tak pernah kurasakan sakit seperti ini.

“Aku memang tidak mengerti dengan hubungan kalian. Terutama tentang kamu. Aku bisa lihat, sebenarnya kamu nggak bisa jauh dari Arza. Tapi entahlah, aku nggak peduli rahasia apa yang kamu simpan, yang jelas sekarang Arza nggak tahu ada di mana. Dan kamu tahu, Tya, sulit buat aku percaya, kalau kamu bisa bawa balik sahabat aku.”

Air mata turun bak hujan di bulan Januari. Mengalir tanpa henti. Aku tak bisa membendungnya. Penuturan Wildan barusan membuat deraian air mata semakin deras.

“Arza nggak butuh air mata. Dia butuh kamu. Dia butuh kamu untuk menemukannya kembali. Kamu nggak boleh lama-lama di sini. Atau kamu akan terlambat untuk selamanya.”

Aku menghapus air mataku. Benar kata Wildan. Aku tidak bisa berlama-lama tinggal di Dieng. Aku harus berpikir, mencari tahu tempat yang sekiranya dikunjungi Arza.

“Aku tahu aku tidak bisa berlama-lama di sini. Tapi, boleh aku minta waktu untuk berpikir? Aku benar-benar nggak punya petunjuk apapun untuk mencari Arza. Tapi aku yakin, aku pasti akan menemukannya.”

Wildan mengangguk, dan beranjak pergi menuruni tangga yang mengantarkan kami ke Gardu Pandang. Di depanku, sejauh mata memandang, yang terlihat adalah perbukitan yang bernuansa hijau dan coklat. Jika menunduk ke bawah, akan terlihat jalan berkelok dan rumah-rumah yang terlihat begitu kecil seperti mainan. Di balik bukit yang paling rendah, hamparan awan-awan putih membuat kita merasa seperti berada di atas langit.

 

Image1166

Matahari muncul dari balik gunung. Sinarnya yang kuning keemasan membuatku memicingkan mata. Angin pagi masih berhembus. Mengantarkan aroma dingin yang jatuh ke dalam hati. Benar kata Arza. Aku bisa merasakan apa yang sengaja ditinggalkannya di tempat ini. Perasaan sepi, dingin, dan putus asa.

Air mataku sudah berhenti. Mentari membantuku untuk berusaha berpikir jernih. Semua hal tentang Arza berkelebat di benakku. Aku tahu aku telah menyakitinya karena keegoisanku sendiri. Aku juga tahu, kalau aku sudah membohongi hatiku sendiri. Dan yang tersisa sekarang hanyalah sesak. Seolah tak cukup udara untukku bisa bernafas.

Aku hanya berharap Arza masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahanku.

Catatan: Cerita ini adalah cuplikan dari ‘novel’ku yang berjudul Senja Vanilla.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s