Matahari Tak Pernah Ingkar Janji (1)

Saat Wildan mengatakan kalau ia akan mengunjungi pamannya di Dieng, tanpa sadar aku memohon padanya agar diizinkan ikut.

“Za, kamu lagi sakit. Mending di rumah istirahat. Bukannya aku keberatan kalau kamu ikut, tapi kamu lagi sakit,” kata Wildan menolak permintaanku. Sekaligus mengingatkanku kalau aku mungkin tak mampu menempuh perjalanan jauh.

“Wil, mungkin dinginnya Dieng bisa mengobati penyakit ini. Please, izinin aku ikut ke sana,” pintaku. Wildan memandang wajahku yang memasang tampang memelas. Bukan hanya Tya, Wildan pun sepertinya tak pernah tega jika aku sudah memasang wajah seperti ini.

“Oke, kalau kamu tetap maksa. Aku berangkat empat hari lagi,” jawab Wildan akhirnya. Aku mengangguk sambil tersenyum.

Tya, aku akan pergi, seperti pintamu malam itu. Aku akan pergi Tya. Meski aku tak benar-benar menginginkannya. Tapi mungkin aku memang harus pergi, untuk membereskan hatiku yang carut marut karena perkataanmu. Mungkin memang sebaiknya aku mengasingkan diri ke tempat yang sunyi, agar aku bisa berpikir dengan jernih. Mungkin benar kata-katamu waktu itu. Aku gila. Aku gila karena terlalu menginginkanmu. Dan apakah yang menyebabkan semua kegilaan ini Tya? Tolong katakan padaku…

Aku memejamkan mata. Saat ini aku sudah berada di Dieng. Tepatnya di Gardu Pandang, tempat di mana kau bisa menyaksikan matahari terbit dari balik gunung dan bukit-bukit. Wildan yang membawaku ke sini. Katanya cuaca Dieng terlalu dingin untukku, dan mungkin matahari bisa membuatku berpikir lebih jernih, seperti yang kuharapkan.

Tapi matahari Tya, akan selalu mengingatkanku padamu. Kau tak terlalu suka bola panas itu bukan? Kau lebih suka hujan, atau mendung. Kau tak terlalu suka matahari karena teriknya sering membuat kepalamu pening. Tapi aku suka. Matahari adalah makhluk yang tak pernah ingkar janji. Dan aku ingin seperti dirinya.

Image1170

Tya, saat aku berdiri sendiri di sini, hal pertama yang muncul di kepalaku adalah senyummu. Lalu tawamu. Aku suka saat kau tertawa Tya, seolah dunia sengaja diciptakan untukmu dengan begitu indah dan sempurna.

Sayangnya, jarang sekali aku melihatnya. Kau lebih banyak terdiam, melamun, dan menyimpan sendu di matamu. Aku melihatnya Tya, dan ingin sekali menghancurkannya. Merobohkan dinding pembatas yang menghalangiku masuk ke dalam hatimu. Apa yang kau sembunyikan Tya? Mengapa kau selalu bersikap seolah tak peduli padaku? Padahal jelas sekali aku melihat binar di wajahmu saat aku datang dan menyapamu. Mengajakmu bicara dan berbicara hal-hal sepele dalam hidup yang terkadang terasa lucu.

Angin dingin berhembus kencang menerpa kulitku. Pagi di Dieng begitu dingin, sunyi, dan kelabu. Warna-warna hijau tumbuhan belum terlalu jelas terlihat. Jika menatap ke bawah, lampu-lampu rumah masih menyala, pertanda hari masihlah sangat gelap. Mataku terus menerus menatap gunung yang diselimuti kabut tipis. Yang lama kelamaan memudar digantikan semburat keemasan. Sebentar lagi matahari terbit Tya. Menunaikan janjinya.

Aku mengeluarkan secarik kertas dan sebuah pulpen yang sudah kusiapkan saat berangkat dari rumah. Aku akan menulis surat untukmu. Ditemani gunung, angin, dan matahari, aku ingin kau tahu, betapa sulit rasanya berada jauh darimu. Betapa dingin dan sepinya memendam kesedihan ini. Betapa ingin sekali kukatakan padamu Tya, berhentilah membohongi hati.

Tapi sepintas sinar mentari yang jatuh Tya, seolah ingin mengingatkanku, kalau mungkin saja selama ini aku yang membohongi hati. Terjebak dalam ilusi buatanku sendiri. yang berpikir kalau kau juga mencintaiku selama ini. Ini hal yang selalu memusingkanku Tya.

Dan inilah cara terakhir yang terlintas di kepalaku.

Setelah ini aku akan pergi Tya. Untuk kau cari. Atau untuk mati. Mungkin ini terdengar terlalu berlebihan. Tapi aku tak peduli. Aku akan meninggalkan jejakku di sini. Kalau kau merasakan apa yang kurasakan saat berdiri di sini, aku yakin kau akan bisa menemukanku. Cahaya matahari yang akan menuntunmu.

Catatan: Cerita ini adalah cuplikan dari ‘novel’ku yang berjudul Senja Vanilla.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s