Gadis Hujan

Ini kisahku tentang seseorang. Kujuluki ia Gadis Hujan, karena aku menemukannya di antara derai hujan. Kau tahu, saat itu buliran air seperti rintik permata yang berjatuhan di sekitarnya.

rain-275314_640

Langit perlahan-lahan berubah warna menjadi gelap. Awan-awan kelabu tampak berduyun-duyun menutupinya. Sedangkan petir seolah tak mau kalah memperdengarkan gemuruhnya. Semenit kemudian, berkubik-kubik air tumpah ke bumi.

Jam pelajaran terakhir telah usai. Teman-teman sekelasnya segera berkemas untuk pulang. Sedangkan ia masih menatap indahnya butiran-butiran air yang menempel di kaca yang dingin.

“Ran, lo nggak mau pulang?” tanya Tania, teman semejanya, sambil mengeluarkan payung mungil dari dalam tasnya.

“Mau kok…” jawab Rani tenang.

“Yaudah, kenapa lo masih duduk di sini? Mumpung hujannya agak mereda,” ajak Tania.

“Hmm… lo duluan aja deh, gue masih mau di sini dulu,” tolak Rani dengan halus.

“Oke, gue duluan ya,” sahut Tania sambil meninggalkan ruang kelas. Rani hanya mengangguk sambil tersenyum.

Gadis itu bernama Rani. Seorang gadis pendiam kelas tiga SMA yang sangat menyukai hujan. Baginya, hujan itu indah dan meneduhkan. Ia sangat suka mencium aroma hujan yang dingin dan sendu. Ia sangat suka memandangi buliran-buliran air yang menempel di kaca jendelanya. Ia bahkan tetap menyukai hujan, meski ternyata kadang mengganggu kegiatannya.

Rani tak punya kenangan indah tentang hujan. Sama sekali tidak. Namun, ia percaya, suatu hari nanti, ia pasti akan memilikinya. Entah mengapa, ia percaya ada seseorang yang diturunkan untuknya di kala hujan. Itulah sebabnya Rani sangat mencintai hujan.

Kelasnya telah sepi. Hujan terkadang memang aneh. Hujan yang tadi sempat mereda, kini kembali deras. Petir masih bersahutan, ditambah kilat yang bersinar sekerjap di angkasa. Rani memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Udara makin terasa dingin. Angin seperti hantu bening yang berlomba menelusup dari celah-celah ventilasi udara.

Rani berjalan dengan pelan melewati koridor sekolahnya. Ia selalu menikmati saat sepi seperti ini. Saat di mana tak ada hiruk pikuk murid-murid, dan yang ada hanya riuh tetes air yang menimpa genting sekolah. Rani sangat menyukai kesunyian. Baginya, sunyi selalu memberinya kesempatan untuk lebih menikmati dan mensyukuri apa yang dia dapatkan dalam kehidupan ini.

Rani telah sampai di dekat gerbang sekolah. Ia melangkah dengan hati-hati, menghindari genangan air yang bisa membasahi sepatunya. Air hujan mulai membasahi rambut hitam dan seragam putihnya. Ia tak membawa payung, atau lebih tepatnya, sengaja tidak membawa payung.

Sejak naik kelas tiga, Rani memang tidak lagi membawa payung. Awalnya, karena payung yang biasa ia bawa ke sekolah rusak. Namun, dari situlah kepercayaan Rani tentang seorang yang datang di kala hujan muncul. Ia berpikir, jika ia tidak membawa payung, kemungkinan harapannya terwujud akan lebih besar.

Mungkin kalian bingung mengapa Rani bisa berpikir seperti itu. Aku akan menjelaskan ceritanya.

Di usianya yang ke 17, Rani masih saja sendiri. Hampir semua teman-temannya telah memiliki pacar, bahkan ada yang sudah berganti-ganti. Ia sadar, ia memang bukan gadis yang cantik, meski tidak bisa juga dikatakan jelek. Ia juga bukan gadis yang kaya, pintar, atau terkenal. Intinya, Rani adalah seorang gadis yang sangat biasa-biasa saja.

Rani anak yang pendiam, tapi ia tetap memiliki banyak teman. Mereka menyukai Rani karena kebaikan hatinya. Namun, tak ada seorang pun yang benar-benar dekat dengan Rani. Gadis itu tak suka bercerita tentang dirinya sendiri. Ia lebih suka menanyakan kabar orang lain, dan berusaha membantu mereka jika ia mampu. Bahkan teman semejanya, Tania, tak dapat memahami Rani dan dunia sunyinya.

Namun, Rani tetaplah seorang gadis remaja biasa. Ia sering iri melihat teman-teman perempuannya mendapat perhatian dari kekasihnya. Mendapat hadiah, pulang bersama, bahkan meski hanya sekedar sapaan apa kabar di pagi hari. Ia juga ingin merasakan hal seperti itu. Ia juga ingin berbagi kisahnya dengan seseorang yang ia percaya. Sayangnya, ia belum menemukan orangnya. Dari situlah, kepercayaan tentang seseorang yang akan datang di kala hujan bermula.

Bulan November telah memasuki minggu ke empat. Berarti sudah hampir sebulan Rani lebih memilih kehujanan daripada membawa payung. Namun, kepercayaannya makin lama makin luntur. Ia mulai merasa dapat berpikir jernih dan sadar bahwa apa yang dia pikirkan itu adalah sesuatu yang aneh dan mustahil. Ia berpikir untuk kembali membawa payungnya dan melupakan pikiran tidak masuk akalnya. Itu mungkin hanyalah sebuah harapan kosong yang ia ciptakan untuk menghibur dirinya sendiri. Ia tahu, mungkin ia memang diciptakan untuk menikmati sunyi dan tinggal semdiri di dalamnya.

Rani berjalan menerobos lebatnya hujan hingga sampai di halte tempat ia biasa menunggu bus. Tidak ada banyak orang di sana. Beberapa diantaranya adalah murid-murid dari sekolahnya. Tidak lama, bus yang ia nanti telah datang. Ia bergegas naik, sebelum bus itu pergi dari hadapannya.

Keesokan harinya, Rani tidak lagi membawa payung. Tetapi, kali ini bukan karena ia sengaja meninggalkan payungnya. Tadi pagi ia terburu-buru berangkat ke sekolah, sehingga lupa memasukkan payung ke dalam tasnya.

Seperti biasa, menjelang jam pelajaran terakhir usai, hujan kembali turun. Rani mendesah dalam hati. Hari ini Tania tidak masuk sekolah. Kalau ada Tania, dia bisa menumpang payungnya hingga halte bus. Tiba-tiba, ia merasa sangat membenci hujan.

Ia benci hujan yang membuatnya basah kuyup dan terserang flu. Ia benci hujan yang membuat tas sekolahnya basah. Ia benci hujan, karena tak ada seorang pun yang datang memayunginya. Tiba-tiba hujan berubah menjadi mimpi buruk bagi Rani.

Halte bus tetap sama seperti setiap hari dia datangi. Tidak terlalu ramai, dan ada beberapa murid sekolahnya yang juga menanti kedatangan bus. Rani duduk di pojok halte seperti kebiasaannya. Mendekap erat tasnya sambil memandangi jalan raya yang ramai.

“Kamu anak SMA 19?” tanya seseorang tiba-tiba, mengagetkan Rani yang sedang termenung.

“Iya, kenapa?” tanya Rani heran. Orang yang bertanya padanya adalah seorang pemuda berkemeja kotak-kotak dengan kerah terbuka yang memperlihatkan kaus putihnya. Badannya kurus dan tidak terlalu tinggi. Kulitnya putih, berwajah tirus, dan memakai kacamata. Umurnya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua dari Rani.

“Setiap sore hujan, kan?” tanyanya lagi. Rani mengangguk. Ia tidak dapat menebak ke mana arah pembicaraan pemuda di hadapannya.

“Kau suka hujan?” tanya pemuda itu.

“Iya. Dulu. Sekarang tidak lagi,” jawab Rani datar.

“Hujan membuatmu sedih ya?”

“Mungkin.”

“Aku suka hujan. Aku percaya, saat hujan para malaikat turun untuk membawa doa-doa kita ke angkasa.”

“Apa yang kau pinta?”

“Aku meminta agar diturunkan seseorang untukku di saat rintik hujan. Seseorang yang mencintai hujan sepertiku juga.”

Rani tercengang mendengar ujaran pemuda itu. Mengapa pemuda itu bisa memiliki pikiran yang sama sepertinya?

“Apakah harapanmu terkabul?” tanya Rani penasaran.

“Kupikir iya. Namun, butuh waktu berhari-hari untuk meyakini kalau gadis itu memang mencintai hujan juga sepertiku.” Pemuda itu menatap mata Rani dari balik kacamatanya. Membuat Rani salah tingkah.

“Bagaimana kau tahu?”

“Aku melihat caranya menatap hujan, memandangi rintik-rintik air yang berjatuhan. Dari situlah aku tahu, ia juga mencintai hujan.”

Rani terpekur mendengarnya. Seandainya impiannya juga terwujud, pasti akan menyenangkan sekali.

“Sudah lama aku ingin berbicara padamu. Tapi, mungkin aku perlu mengumpulkan keberanianku dulu. Sejak awal musim hujan, aku sering melihatmu di halte ini. Memperhatikan seorang gadis sepulang sekolah yang terlihat membiarkan air hujan menerpa tubuhnya. Aneh sekali. Tak pernah kutemukan orang melakukannya. Entah mengapa, aku yakin kau-lah gadis hujan itu.”

Rani tercengang sekali lagi. Tak bisa ia percaya pemuda tersebut dapat berkata seperti itu kepadanya. Bahkan Rani sempat berpikir kalau ia sedang bermimpi. Hal ini terlalu indah baginya untuk menjadi kenyataan.

Rani menatap mata pemuda di hadapannya. Mereka saling terdiam. Ini bukan mimpi, aku melihat permata sebening air hujan di bola matanya, gumam Rani dalam hati. Ia pasti seseorang yang diturunkan untuknya di kala hujan.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Rani bingung karena tidak tahu harus berkata apa.

“Aku ingin bersamamu memandangi hujan, menikmati setiap keindahan alam yang ada di sekitar kita, berbagi kepadamu makna-makna yang kutemukan dari setiap keindahan itu.”

Rani tersenyum. Tuhan telah mengabulkan harapannya. Sepertinya, kini ia tak lagi membenci hujan. Di saat yang sama, hujan berhenti.

“Apakah kau bersedih saat hujan berhenti?” tanya Rani. Pemuda itu menggeleng.

“Tidak. Saat hujan berhenti, aku tahu akan ada pelangi yang menggantikannya. Maukah kau kutunjukkan tempat terindah melihat pelangi?” tanya pemuda itu. Rani mengangguk. Mereka beranjak meninggalkan halte. Lupa pada tujuan awal menunggu kedatangan bus yang telah mereka biarkan lewat beberapa kali.

Pemuda itu mengajak Rani ke sebuah danau kecil di pinggir hutan kota. Bau tanah yang tersiram hujan menyeruak ke rongga penciuman, membuat udara terasa lebih segar. Di hadapan mereka, danau tampak berkilau tertimpa sinar mentari senja.

“Aku suka melihat pelangi di sini. Indah dan sunyi. Sangat menenangkan,” ujar pemuda itu. Rani tersenyum menikmati keindahan di hadapannya.

“Tapi, sepertinya aku juga punya tempat lain di mana aku bisa menemukan pelangi,” tambah pemuda itu lagi.

“Oh ya? Di mana?” tanya Rani penasaran.

“Di matamu,” jawab pemuda itu sambil tertawa. Rani ikut tertawa.

“Hey, aku bahkan belum tahu namamu.”

“Namaku Rani. Dan kau?” jawab Rani sambil mengulurkan tangan.

“Zidan,” sahutnya sambil menyambut uluran tangan Rani. Dan mereka tertawa bersama lagi.

Begitulah kisahku tentang Gadis Hujan. Aku mencintainya seperti aku mencintai hujan. Karena ia begitu indah dan meneduhkan.

Musim hujan, November 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s