A Girl and Her Glass

Ini adalah kisah tentang seorang gadis dan sebongkah kaca yang dimilikinya…

glass-473758_1280

Di suatu tempat, seorang gadis memandangi sebongkah kaca yang ia miliki. Sebuah kaca biasa tanpa hiasan apa-apa. Kadang, ia merasa bosan dengan kaca yang ia miliki. Ia ingin kaca itu dihias agar terlihat lebih menarik. Maka, berpikirlah ia untuk mencari seorang penghias kaca. Cukup lama ia mencari sampai akhirnya gadis itu menemukan seorang penghias kaca di daerahnya.

Gadis itu meminta si penghias kaca datang ke rumahnya dan menghias kacanya. Dan si penghias kaca itu menghias kacanya dengan sempurna. Kacanya kini tak lagi terlihat biasa-biasa saja dan membosankan. Melainkan menjadi kaca yang indah. Tak henti-henti si gadis memandangi kaca miliknya yang telah berubah menjadi indah. Baginya, tiada hari tanpa melihat kaca itu.

Lama-kelamaan, kaca itu kembali terlihat biasa. Ia meminta si penghias kaca datang lagi ke rumahnya dan menambah hiasan pada kacanya. Namun, bukannya menambah hiasan, si penghias kaca malah memecahkan kaca itu tanpa sengaja.

Si gadis tentu sangat kecewa dan sedih. Saking sedihnya, tanpa berpikir panjang, ia menyuruh si penghias kaca pergi dari rumahnya. Ia sendiri mencoba merekatkan kembali kepingan-kepingan kaca yang berserakan. Mencoba menghias kaca itu agar indah seperti dulu. Namun, sekeras apapun gadis itu mencoba menghias sendiri kacanya, tak pernah bisa seindah yang dilakukan si penghias kaca.

Akhirnya, ia kembali memanggil si penghias kaca. Dan si penghias kaca, dengan senang hati menghias kacanya lagi. Kali ini, bagi si gadis, kaca itu lebih indah daripada sebelum terjatuh dan pecah berserakan. Namun, hal itu tidak berlangsung lama.

Kaca itu pecah lagi, masih oleh si penghias kaca. Si penghias kaca merasa sangat menyesal dan meminta maaf dengan memohon. Dalam hati, si gadis memaafkan si penghias kaca. Namun ia tidak ingin lagi, tidak ingin lagi memanggil si penghias kaca kembali.

Hari demi hari berlalu dengan kaca yang rusak, dan tampak buruk penuh rekatan lem. Tak ada hiasan di atas kaca itu. Hanya sedikit sisa ornament yang tertinggal, yang pernah dibuat oleh si penghias kaca. Si gadis tak pernah berniat untuk menghiasnya lagi. Bahkan membetulkannya pun tak ingin. Ia membiarkan kacanya menjadi kaca yang terlihat rapuh dan seolah tak ingin utuh. Dan ia membiarkannya selama tiga tahun lamanya.

Di penghujung tahun ketiga, ia bertemu lagi dengan si penghias kaca. Gadis itu tak pernah benar-benar berniat untuk memperbaiki kacanya apalagi menghiasnya. ‘Biarlah, aku sudah terbiasa dengan kaca yang seperti itu’ pikirnya. Namun si penghias kaca membetulkannya dan menghias lagi kacanya. Dan bagi si gadis, setiap kali si penghias kaca memperbaiki dan menghias kacanya, kaca itu selalu terlihat jauh lebih indah dibanding sebelumnya.

Maka, kaca itu kembali menjadi kaca yang indah dengan ornament di atasnya. Meski tetap saja tak bisa menyembunyikan rekatan-rekatan yang menunjukkan kaca itu pernah jatuh berkali-kali. Namun si gadis tak peduli. Baginya, kaca itu tetap indah. Apalagi, si penghias kaca sering datang untuk memperbaiki kaca itu setiap rekatannya mulai lepas.

Tibalah hari di mana si gadis harus pindah ke tempat yang jauh. Si penghias kaca tentu tak bisa sering-sering memperbaiki kacanya yang cepat rapuh itu seperti dulu. “Tak apa, jika kacamu mulai rapuh atau bahkan jatuh, aku tetap bersedia memperbaikinya,” ujar si penghias kaca saat gadis itu beranjak pergi. Gadis itu mengangguk, dalam hati ia bergumam, ‘aku tak akan pernah lagi menemukan penghias kaca sebaik dia, dan aku akan menjaga kaca ini agar tidak jatuh lagi.’

Di tempat baru, ia benar-benar menjaga kacanya dengan baik. Ia tidak ingin kaca itu jatuh, dan ia tak perlu penghias kaca lain. Tak disangka, ada seseorang yang berkunjung ke rumahnya, dan menemukan kaca indah namun penuh rekatan di sebuah sudut. Pemuda itu mendekati kaca miliknya seolah-olah tertarik. Bagi gadis itu, tak ada yang menarik dari sebongkah kaca penuh rekatan yang telah jatuh berkali-kali.

Pemuda itu, memperbaiki sedikit kerusakan kecil di kaca milik si gadis. Kau tentu tahu, kaca itu rapuh dan kepingannya begitu mudah bergeser. Dan si gadis merasa sangat beruntung dengan kehadiran si pemuda yang mau merekatkan lagi kacanya. Sehingga ia tak perlu jauh-jauh memanggil penghias kaca kebanggaannya. Lagipula, ia merasa telah terlalu banyak merepotkan si penghias kaca.

Baru sebentar gadis itu tinggal di tempat baru, berarti baru sebentar juga ia mengenal pemuda yang merekatkan kacanya. Tapi, baginya terasa sudah berlalu lama. Kaca itu memang tak lebih indah dibanding dulu. Tapi, si pemuda selalu merekatkan lagi, dan memang hanya itu yang dibutuhkan oleh si gadis. Ia tidak meminta kacanya dihias lagi. Meski ternyata si pemuda, sambil merekatkan kaca, ia juga menghiasnya sedikit demi sedikit. Bahkan si gadis pun tak menyadari hal itu. Yang ia tahu, ada yang merekatkan kacanya dan kaca itu tak pernah terlihat buruk.

Namun, kali ini pemuda itu yang meninggalkan si gadis. Si gadis tentu merasa sedih. Karena tak ada lagi yang akan rajin merekatkan kacanya. Di hari kepindahan pemuda itu, kaca itu kembali terjatuh. Kali ini kepingannya lebih banyak. “Pergilah, biar aku yang membereskan kaca itu,” ujar si gadis pada pemuda itu sambil berusaha untuk tidak menangis.

Gadis itu tak benar-benar membereskan kaca miliknya. Ia terlalu sedih sehingga yang bisa ia lakukan hanya memanggil penghias kaca yang lama. Dan seperti yang kau tahu, si penghias kaca akan datang untuk memperbaiki kaca itu. Ia memperhatikan kaca gadis itu. “Kau pasti meminta seseorang untuk menghias kaca ini?” katanya sambil mengambil kepingan-kepingan kaca yang berserakan.

“Tidak!” jawab si gadis tegas. Tapi, entah kenapa air matanya jatuh mengalir.
“Ada apa denganmu?” tanya si penghias kaca.
“Aku hanya sedih, tetangga yang biasa merekatkan kacaku kini pindah,” jawab si gadis itu.
“Apakah ia yang juga menghias kacamu?” tanya si penghias kaca lagi. Ia tidak marah sama sekali jika ada penghias kaca yang lain. Ia hanya ingin tahu.
“Tidak! Ia tidak menghias kacaku!” jawab si gadis tegas.
“Aku tahu ia menghias kacamu, tak apa. Asal hati-hati saja, kacamu cepat rapuh kalau dihias terus. Dan kau tak perlu sesedih itu,” ujarnya sambil merekatkan kembali kepingan-kepingan kaca.
“Ia tidak pernah menghias kacaku!” jawab si gadis. Gadis itu memang bodoh. Berusaha membohongi si penghias kaca yang jelas-jelas mengenal dengan baik seperti apa bentuk kaca miliknya. Bahkan dalam keadaan hancur sekalipun.

Sejak kepergian pemuda itu, si gadis benar-benar menjaga kaca miliknya. Ia tahu, si penghias kaca juga tidak mungkin ia panggil terus untuk sekedar merekatkan kacanya yang kali ini jauh lebih rapuh. Tapi, ternyata pemuda itu masih sering kembali datang, tidak lain tidak bukan, untuk merekatkan kaca gadis itu, dan menghiasnya. Tentu saja si gadis senang. Ia pikir, si pemuda tidak akan mau datang ke rumahnya hanya sekedar merekatkan kaca.

“Aku sering merindukan tempat ini, dan aku sering teringat kacamu itu,” ujar si pemuda saat gadis itu bertanya mengapa ia mau repot-repot datang.
“Tak ada yang istimewa dengan kaca itu. Kaca yang sudah terlalu sering jatuh,” sahut si gadis.
“Tidak, bagiku kaca ini unik. Setiap melihatnya, aku merasa terinspirasi.”
“Sungguh?” tanya gadis itu tak percaya. Matanya berbinar tanpa ia sadari.
“Aku suka kaca ini. Aku tidak akan pernah keberatan untuk selalu merekatkannya. Jangan pernah sungkan memanggilku, aku siap kapan saja,” kata pemuda itu sambil tersenyum. Yang dibalas dengan senyuman pula oleh si gadis, meski dalam hati.

Namun entahlah, pada suatu hari, beberapa hari setelah pemuda itu menghias kaca milik si gadis, pemuda itu bersikap seolah-olah tindakan si gadis sangat merepotkannya. Padahal, si gadis tidak pernah memanggilnya datang untuk merekatkan kaca itu. Pemuda itu datang sendiri, dan bukan hanya merekatkan kacanya, tapi juga menghiasnya.

“Kacamu merepotkanku. Kau tahu, dari dulu aku sudah punya kaca yang biasa aku hias, dan itu bukan kacamu,” katanya pada gadis itu. Si gadis tentu merasa sakit hati mendengar ujarannya.

“Aku tidak pernah memintamu menghias kacaku!” ujar si gadis dengan geram. Entahlah, tiba-tiba ia merasa amat membenci pemuda itu. Sebelum pergi, pemuda itu menyempatkan diri memecahkan kacanya. Dan gadis itu membiarkannya.

“Aku hanya ingin kau mengingat satu hal, aku tidak pernah memintamu menghias kacaku!!” jerit gadis itu. Ia benci, benci sekali. Yang ia lakukan kini hanya memandangi kacanya yang hancur berkeping-keping. Ia merasa kaca itu tak akan pernah utuh lagi. Sekali lagi, yang ada di pikiran si gadis hanyalah si penghias kaca yang lama.

“Ia menghias kacamu kan?” tanya penghias kaca itu untuk kedua kalinya.
“Sudah kubilang, ia tidak pernah menghias kacaku!” jawab gadis itu. Airmatanya berlinang.
“Ia menghias kacamu, kau tak perlu membohongiku. Aku tahu, kau senang setiap saat ia menghias kacamu.”
“Ia tidak menghias kacaku…” lirih gadis itu.
“Ia melakukannya. Aku tahu itu. Sudahlah, aku tahu seperti apa kacamu.”

Mendengar kalimat si penghias kaca, gadis itu mendesah pelan. “Ia memang menghias kacaku, tapi tak pernah seindah saat kau yang menghiasnya.” Akhirnya si gadis bercerita tentang apa yang pernah terjadi dengannya dan pemuda itu. Juga apa yang pernah pemuda itu lakukan dengan kacanya.

“Aku benci padanya. Aku tidak ingin ia datang lagi, bahkan meski hanya untuk melihat kacaku!” ujar gadis itu. Si penghias kaca tersenyum.
“Sudah kubilang, kacamu ini sudah rapuh, jangan sering-sering dihias lagi. Kau kekanakan sekali sampai tidak mendengarkan perkataanku. Kuperbaiki kacamu dan berjanjilah untuk menjaganya,” pinta si penghias kaca. Gadis itu mengangguk.

Kini, kaca itu ia simpan di tempat paling tersembunyi di sudut rumahnya. Ia tidak akan mengizinkan siapapun untuk melihat kacanya. Meski kaca itu tampak aneh dan begitu rapuh, gadis itu tak pernah berpikir untuk membuangnya. Ia menyimpannya, menyembunyikannya. Tidak akan lagi dihias. Bahkan kaca itu baru akan direkatkan jika ia rasa benar-benar perlu. Dan mungkin, satu-satunya orang yang boleh merekatkan kacanya, hanyalah si penghias kaca kebanggaannya.

25 Oktober 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s